Asmaul Lutfauziah – Dosen PGSD, FKIP

SESUATU yang tradisional atau konvensional bukanlah sesuatu yang perlu ditinggalkan (tidak layak digunakan).

Bukan berarti pula hal yang tradisional atau konvensional itu lebih jelek daripada yang modern. Begitu pula sebaliknya bukan berarti hal yang modern lebih jelek daripada tradisional.

Keduanya baik dan saling mendukung dalam kehidupan ini. Sebagai contoh: hasil bioteknologi konvensional (misalnya tempe, roti, dan tape) tidak untuk diperbandingkan dengan hasil bioteknologi modern (misalnya vaksin, antibiotik, kultur jaringan, tanaman hidroponik dan transgenik).

Kedua hasil bioteknologi tersebut bermafaat dan saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Contoh lain di bidang pendidikan.

Model pembelajaran konvensional seperti pembelajaran langsung dengan metode ceramah akan saling melengkapi dengan model pembelajaran lainnya.

Dengan penggunaan variasi model pembelajaran sehingga pembelajaran di sekolah menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan bagi peserta didik.

Contoh lain di bidang pakaian. Pakaian tradisional seperti kebaya, masih layak digunakan pada jaman sekarang. Generasi jaman now tidak perlu minder memakai pakaian tradisional.

Pakaian tradisional harus dilestarikan tanpa menutup diri dengan perkembangan pakaian jaman now. Keduanya saling melengkapi dan mendukung dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Sama halnya dengan permainan tradisional pun perlu dilestarikan di tengah maraknya permainan era digital (game). Ada banyak permainan tradisional seperti dakon, bola kasti, patil lele, layangan, lompat tali, rangku alu, cublek suweng, nelu’an, sentuweng’an, benteng’an, gobak sodor, jumprit’an (petak umpet), bola bekel, atau angklek.

Untuk memainkan permainan tersebut, anak tanpa mengeluarkan uang karena permainan tradisional cenderung murah alat bahannya. Namun memiliki nilai pendidikan di dalamnya.

Sebagai contoh permainan dakon. Ada banyak pendidikan karakter pada permainan tradisional “dakon”. Selain hati senang dalam bermain, anak juga diajarkan pendidikan karakter secara tidak langsung.

Permainan tradisional ini disebut juga conglak. Alat yang digunakan dalam permainan ini yaitu papan dakon sehingga popular di masyarakat “permainan dakon”. Permainan ini dimainkan oleh 2 orang, baik laki-laki atau perempuan.

Permainan ini memiliki beberapa aturan yaitu setiap pemain mempunyai lubang yang dikenal dengan istilah “lumbung”. Lumbung berfungsi untuk mengumpulkan biji.

Untuk bermain, anak harus memilih lumbung masing-masing, dan masing-masing lubang diberi sejumlah biji yang sama. Kemudian pemain (anak pertama) memilih 1 lubang (berisi biji) untuk diputar dan dibagikan bijinya ke lubang-lubang (lubang miliknya, lubang lawannya, dan lumbung miliknya).

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Setiap lubang/lumbung diberi bagian satu biji. Apabila biji berhenti di lubang yang kosong (lubang tanpa biji), maka pemain tersebut (anak pertama) harus berhenti bermain (memutar dan membagikan biji).

Permainan dilanjutkan oleh anak kedua (lawannya) dengan aturan permainan yang sama. Selanjutnya bergantian bermain (memutar dan membagikan biji) hingga semua lubang tidak tersisa bijinya. Anak yang memiliki paling banyak biji pada lumbungnya, maka ia dinyatakan sebagai pemenang dalam permainan ini.

Permainan ini mengajarkan kepada anak untuk peduli kepada sesama. Peduli kepada tetangga, teman, bahkan lawannya. Pada permainan tersebut, anak terus memutar dan membagikan biji ke lubang miliknya dan lubang lawannya.

Hal ini secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk berbagi atau bershodaqoh kepada orang lain. Tidak memandang ia kawan atau lawan, semuanya diberi dan terus berbuat baik kepadanya.

Hal ini sesuai perintah Allah dalam kitab suci al-Qur’an tentang perintah berbuat baik kepada sesama. “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-Baqarah: 195).

Balasan terhadap anak yang berbuat baik juga dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah (QS) Al-Isra’ ayat 7, QS. Ar-Rahman ayat 60, dan QS. Al-Zalzalah ayat 7-8. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7). “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahman: 60). “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah: 7-8).

Permainan tradisional dakon sudah jarang dimainkan oleh anak jaman sekarang. Permainan tradisional ini perlu dilestarikan dan nilai pendidikan karakternya perlu diajarkan kepada anak-anak generasi penerus bangsa.*

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry