Sunanto, M.Pd – Dosen S-1 PGPAUD FKIP 

Finlandia pada era 80-an tidaklah lebih baik dari Indonesia. Namun dalam tiga dekade terakhir, dunia pendidikan di negara kawasan Skandinavia tersebut langsung mengalami kemajuan sangat pesat.

Ternyata rahasia di balik kemajuan dan berhasilnya reformasi pendidikan di Finlandia karena negara itu mengikuti ajaran dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan finlandia di kembangkan berdasarkan sejumlah buku yang di tulis Ki Hadjar Dewantara.

Namun, ironisnya yang terjadi di Indonesia ajaran tersebut Ki Hadjar tersebut di abaikan di Indonesia. Di negeri ini buku-buku Ki Hadjar Dewantara tidak dibaca, tetapi di Finlandia dipraktikkan. Pendidikan di Filandian di kembangkan tanpa unsur dan kepentingan individu atau politik.

 Jadi meski pemerintah berganti, hal tersebut tak berpengaruh atas jalannya transformasi pendidikan. Beda hal dengan Indonesia ganti menteri ganti juga kurikulumnya.

 Finlandia tidak disebut sekolah melainkan taman. Penyebutkan itu sudah jelas berdasarkan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Finlandia menyebut sekolah sebagai taman, mari kita kembalikan semangat itu.

Ironis ketika negara lain menerapakan  kurikulum pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang dituliskan puluhan tahun dan sukses mengembankan dan meningkatkan pendidikan saat ini, dan sebagai pendidikan terbaik dunia, sedangkan kita sendiri terasing dari pemirkirannya. Karena terpengaruh dengan dinamika politik yang terjadi di pemerintahan, akhirnya pendidikan kita selalu di campur adukan dengan kepentingan politik.

Paradigma masyarakat Indonesia cukup banyak membaca dan melihat berita mengenai nyamannya bersekolah di Finlandia. Apa bedanya sekolah di Indonesia dengan di negara tersebut? Begitu banyak ulasan di Facebook atau Youtube mengenail Filandia.

Beberapa dari kita juga penasaran, apakah benar di sana murid tidak diberikan PR, dan tidak ada ujian? Apa benar murid di Filandia tidak dibiarkan menghafal? Kalau benar, pasti menyenankan sekali. Bukan begitu?

Tak heran, banyak penasaran tentang pendidikan di negara kecil jumlah total penduduk tak lebih dari 6 juta dipikir-pikir, apa mungkin negara dengan jumlah penduduk separuh Jakarta ini bisa memiliki kualitas pendidikan tingkat dunia?

Apalagi, negara ini tidak seagresif negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, atau singapura misalnya, yang menyentel pendidikan mereka menjadi lebih cepat seperti otaknya Gus Dur. Indonesia, rasa penasaran terhadapat pendidikan di negara nordik ini mengemukan kembali. Ini terjadi terutama setelah muncul gagasan untuk memberlakukan sistem full dan school dalam sistem pendidikan nasional.

Gagasan yang di lontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy Sejak awal 2016 dan sempat mendapat “lampu Hijau” dari (Presiden Joko Widodo) itu mendapat bermacam respon penolakan.

Sebagian besar mempertanyakan seberapa jauh durasi sekolah formal mampu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman siswa. Ada yang mengatakan hal ini justru akan membebani siswa, keluarga, bahkan guru. Banyak juga yang membangdingkan dengan sistem pendidikan di negara-negara lain. Dari situlah, orang merujuk pada segala yang terjadi di Finlandia.

Timothy D. Walker, dala buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia.Timothy atau akrab disapa tim menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai mantan guru di AS yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Finlandia.

Salah satu paradigma yang sangat baik. Pendidikan di Finlandia memperhatikan dengan sungguh-sungguh, kesejahteraan, baik fisik maupun batin setiap individu. Ini tampak pula dalam kebijakan bagi para siswa. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry