Catatan Pinggir:
Dr ROMADLON SUKARDI, MM, Wakil Ketua PW ISNU Jatim.

DI tengah gelombang pragmatisme pendidikan yang, semakin menempatkan kampus sekadar sebagai pemasok tenaga kerja industri, suara kritis dan visioner Prof. Dr. M. Afif Hasbullah hadir mengingatkan.

Pendidikan, katanya  sejatinya adalah fondasi peradaban, bukan sekadar instrumen ekonomi jangka pendek. Sikap tegas PW ISNU Jatim terhadap wacana penutupan Program Studi Kependidikan menunjukkan keberanian intelektual untuk menjaga arah pendidikan nasional agar tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, pembangunan karakter, penguatan ilmu pengetahuan, dan visi masa depan bangsa di tengah era disrupsi digital dan transformasi global yang terus bergerak cepat.

Nah, kini, di tengah derasnya arus pragmatisme pendidikan yang semakin diarahkan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar dan industri jangka pendek, suara yang disampaikan Prof Afif hadir sebagai penanda penting bahwa pendidikan sejatinya tidak boleh kehilangan ruh peradabannya.

Pernyataan dia terkait rencana penutupan Program Studi Kependidikan bukan sekadar respons administratif terhadap kebijakan pendidikan tinggi, melainkan sebuah panggilan intelektual dan moral agar bangsa ini tidak terjebak dalam logika utilitarian sempit.

Pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar mesin pencetak tenaga kerja. Pendidikan adalah proses membangun manusia, membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan arah masa depan bangsa.

Di sinilah tampak kualitas kepemimpinan intelektual ISNU. Alih-alih bersikap reaksioner atau emosional, Prof. Afif justru menawarkan pendekatan yang berbasis data, riset, dialog, dan solusi strategis. Gagasan tentang audit nasional berbasis kebutuhan riil, revitalisasi kurikulum, penguatan soft skills, integrasi teknologi digital, hingga pembentukan forum kolaboratif nasional menunjukkan bahwa ISNU tidak sedang mempertahankan status quo, tetapi sedang merumuskan masa depan pendidikan Indonesia secara lebih visioner.

Pandangan ini sangat penting di era disrupsi digital dan kecerdasan buatan saat ini. Ketika banyak pekerjaan akan tergantikan oleh mesin dan otomatisasi, justru aspek-aspek kemanusiaan seperti etika, karakter, kebijaksanaan sosial, dan kemampuan berpikir kritis akan menjadi kekuatan utama manusia. Karena itu, apa yang disampaikan Prof. Afif sesungguhnya adalah upaya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan martabat kemanusiaan.

Sebagai organisasi kaum sarjana Nahdlatul Ulama, ISNU memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan bahwa arah pendidikan nasional tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan keadaban. Pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, kepekaan sosial, dan komitmen kebangsaan.

Apa yang disampaikan Prof. Afif juga memperlihatkan bahwa ISNU Jawa Timur sedang bergerak menjadi center of intellectual movement yang mampu memberi kontribusi nyata terhadap kebijakan publik nasional. Ini bukan sekadar organisasi profesi atau forum akademik biasa, tetapi ruang strategis lahirnya gagasan-gagasan besar untuk masa depan Indonesia.

Dalam konteks itu, sikap kehati-hatian terhadap penutupan Prodi Kependidikan adalah bentuk tanggung jawab peradaban. Sebab jika pendidikan kehilangan fondasi ilmu dasar, kehilangan guru-guru berkualitas, dan kehilangan orientasi nilai, maka bangsa ini akan menghadapi krisis yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan pasar kerja.

Karena sesungguhnya, bangsa besar tidak dibangun hanya oleh industri dan modal ekonomi. Bangsa besar dibangun oleh kualitas manusia, kekuatan ilmu pengetahuan, kematangan moral, dan visi peradaban yang panjang.

Dan di titik inilah, suara ISNU menjadi semakin relevan untuk Indonesia hari ini dan masa depan.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry