Machmudah, S.Psi.M.Psi.Psi – Dosen  Pendidikan Guru PAUD FKIP

PROBLEMATIKA dunia pendidikan khususnya terkait dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkebutuhan khusus masih banyak terdapat keterbatasan sumberdaya manusia, pemahaman dan fasilitas pendidikan.

Hal ini menyebabkan hampir semua guru menghadapi permasalahan dalam menangani anak didiknya. Selain itu, pengetahuan yang terbatas, penerimaan guru terhadap anak didiknya yang berkebutuhan khusus  juga dapat mempengaruhi perlakuan guru.

Rasa menerima tersebut juga masih belum sepenuhnya, sehingga tidak mengherankan bila pandangan negatif masih banyak terjadi. Pujian yang terbatas, harapan yang rendah, penolakan secara aktif, sering ditujukan kepada anak berkebutuhan khusus dibandingkan dengan anak pada umumnya.

Dalam praktiknya guru merasakan banyak beban ketika menghadapi anak berkebutuhan khusus,  membutuhkan waktu dan perhatian yang lebih banyak daripada siswa yang lain.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara  fisik, psikologis, kognitif atau social terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal, meliputi mereka yang tuli, buta, mempunyai gangguan bicara, cacat tubuh, retardasi mental, gangguan emosional.

Juga anak-anak yang berbakat dengan inteligensi yang tinggi, dapat dikatagorikan sebagai anak berkebutuhan khusus/luar biasa, karena memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga professional.

Di lapangan, orang tua sering memaksakan putra-putrinya yang kebetulan berkebutuhan khusus untuk sekolah di Paud formal maupun nonformal, mengingat keterbatasan pengetahuan mereka untuk memilih sekolah Paud yang inklusi atau Paud Luar Biasa.

Selain itu ketebatasan jumlah ketersediaan dan mahalnya Paud Luar Biasa di tengah masyarakat. Sementara pihak sekolah Paud tidak kuasa untuk menolak karena terikat oleh aturan Pemerintah bahwa sekolah tidak boleh menolak anak-anak berkebutuhan khusus.

Dampaknya keberadaan ABK, secara riil di sekolah tidak hanya ada di sekolah luar biasa tapi juga ditemui di sekolah reguler terutama di pendidikan anak usia dini seperti di KB, TK dan Paud Non Forma. Ada karakteristik mereka yang tidak begitu mencolok dalam perbedaan, sehingga menyebabkan guru mengalami kesulitan untuk mengenalinya.

Sebut saja anak-anak tunagrahita ringan dengan tingkat kecerdasan atau IQ 50-75 dan anak berkesulitan belajar spesifik. Kondisi dan keberadaan anak ini di sekolah tentu secara fisik tidak akan menampakkan perbedaannya secara signifikan. Karena itu guru-guru di PAUD tersebut akan mengalami kesulitan dalam mengenalinya. Permasalahan lain adalah :

  1. Sekolah tidak memiliki tenaga ahli khusus untuk membantu melakukan deteksi dini pada ABK
  2. Guru tidak tahu secara detail ciri-ciri ABK. Tentu saja hal ini akan berdampak pada pelayanan ABK di jenjang PAUD,  sehingga tidak tahu bagaimana cara melakukan intervensi pada ABK.
  3. Sementara itu, kompetensi guru Paud banyak yang berlatar belakang pendidikan non PAUD, usia, masa kerja dan kemauan belajar yang kurang membuat mereka menjadi kurang professional dalam menjalankan perannya.

Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pentingnya para guru Paud dibekali pengetahuan ABK. Tidak sekedar itu saja tapi harus pula dibekali cara melakukan deteksi awal dengan Model Pengembangan Deteksi Dini Anak Berkebutuhan Khusus (Modem D2 ABK) dengan harapan para guru Paud mampu melakukan identifikasi terhadap anak tersebut dan memberikan pemahaman serta rekomendasi bagi orang tua sehingga guru pun dapat memberikan program layanan yang sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.

Prodi S1 PGPAUD Unusa memberi bekal kepada mahasiswa S1 PGPAUD Modem D2 Anak Normal dan Berkebutuhan Khusus yang terintegrasi, baik dalam mata kuliah (Psikologi Perkembangan, Deteksi Dini Tumbuh Kembang, Permasalahan Perkembangan Anak,  Pendidikan ABK) maupun pelatihan khusus yang diberikan pada semester terakhir, dengan harapan setelah mereka lulus dapat memnuhi dan menjawab tuntutan dari kebutuhan sekolah ketika mereka harus bertugas di sekolah PAUD formal maupun informal, bahkan inklusi.

Deteksi dini ABK dimaksudkan sebagai suatu upaya guru untuk melakukan proses penjaringan terhadap anak yang mengalami kelainan/penyimpangan sedini mungkin dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang tepat,

Juga sebagai upaya untuk mengamati tumbuh kembang anak secara fisik atau psikis, dalam rangka membantu anak agar dapat perlakuan yang sesuai dengan kondisi siswa.

Deteksi dini atau identifikasi dini berbeda dengan asesmen. Deteksi dini merupakan tahapan awal yang masih bersifat umum dari asesmen yang lebih detail. Tujuan dari identifikasi dini dan asesmen juga berbeda. Hal ini menyangkut kompetensi dan profesionalisme (Direktorat PSLB, 2007).

Adapun model deteksi dini secara ringkas dapat diuraikan bahwa ketika anak didik masuk PAUD dilakukan deteksi dini (observasi & wawancara) dengan instrumen deteksi dini sehingga akan diketahui indikasi problem yang berupa deskripsi dan gejala gangguan.

Kemudian dikonsultasikan ke tenaga ahli dan dilakukan diagnosis serta informasi terkait dengan pemberdayaan anak, selanjutnya dilakukan konferensi kasus antara tenaga profesional, guru, dan orang tua agar mendapatkan penanganan yang relevan. Demikian, semoga bermanfaat bagi orang tua, calon dan pendidik AUD. *

.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.