Edza Aria Wikurendra, S.KL, M.KL – Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

DIHADAPKAN dengan perkembangan zaman, kebutuhan dasar manusia semakin banyak dan beragam. Kebutuhan dasar manusia yang kompleks menyebabkan adanya interaksi manusia dengan hewan. Kerusakan lingkungan akibat pengalih fungsian lahan, limbah (rumah tangga dan industri) serta bencana alam menjadi salah satu faktor risiko munculnya penyakit zoonosis.

Penyakit zoonosis, atau penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, saat ini menjadi isu kesehatan global. Beberapa yang muncul belakangan ini adalah Ebola, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), dan Zika. Namun kesadaran masyarakat terhadap penyakit menular ini masih rendah.

Penyakit zoonosis inilah yang satu dekade belakangan ini memicu lahirnya konsep One World One Health. Kata One World mengandung arti bahwa saat ini kita hidup di satu dunia, saling terhubung dan tidak terpisah pisah.

Suatu kejadian di suatu tempat di ujung dunia sekalipun akan berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi dunia secara umum. Dengan kata lain One World One Health menuntut kita untuk menyadari bahwa satu kejadian penyakit di satu tempat saja sudah berarti bahwa dunia sedang sakit, karena dalam One World One Health dunia adalah satu tubuh.

One Health ini merupakan aktivitas global yang penting berdasarkan konsep bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan atau ekosistem bersifat saling bergantung satu sama lain atau interdependen. Sehingga tenaga profesional yang bekerja dalam satu lingkup area tersebut, dapat memberikan pelayanan yang terbaik dengan cara saling berkolaborasi untuk mencapai pemahaman yang lebih baik.

Di mana dalam hal ini mengenai semua faktor yang terlibat dalam penyebaran penyakit, kesehatan ekosistem, serta kemunculan patogen baru dan agen zoonotik, juga kontaminan dan toksin lingkungan yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas substansial, serta berdampak pada pertumbuhan sosioekonomik, termasuk pada negara berkembang.

Walaupun istilah One Health tergolong baru, konsepnya telah lama dikenal baik secara nasional maupun global. Sejak tahun 1800-an, para ilmuwan telah menemukan kesamaan dalam proses kejadian penyakit antara hewan dan manusia, tetapi kedokteran manusia dan kedokteran hewan dipraktikkan secara terpisah hingga abad ke-20.

Beberapa tahun terakhir, melalui dukungan individu-individu kunci dan peristiwa-peristiwa penting, konsep One Health telah mendapat pengakuan lebih di komunitas kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan (SEAOHUN : 2014).

Konsep One Health merupakan satu kesehatan, satu ilmu kedokteran, dan satu dunia. Konsep One Health ini termasuk strategi di seluruh dunia untuk memperluas kolaborasi dan komunikasi interdisipliner di semua aspek perawatan kesehatan untuk manusia, hewan dan lingkungan.

Sinergi yang dicapai akan memajukan perawatan kesehatan untuk abad ke-21 dan selanjutnya dengan mempercepat penemuan penelitian biomedis, meningkatkan khasiat kesehatan masyarakat, dengan cepat memperluas basis pengetahuan ilmiah, dan memperbaiki pendidikan medis dan perawatan klinis. Bila diterapkan dengan benar, ini akan membantu melindungi dan menyelamatkan jutaan kehidupan di generasi sekarang dan masa depan kita (SEAOHUN, 2014).

Konsep One Health mengetahui bahwa kesehatan manusia berhubungan dengan kesehatan hewan dan lingkungan. CDC menggunakan pendekatan One Health dengan bekerja bersama dokter, ahli lingkungan, dan dokter hewan untuk memonitor dan mengawasi ancaman kesehatan masyarakat.

Kami melaksanakan hal tersebut dengan mempelajari bagaimana penyakit menyebar di antara orang, hewan, dan lingkungan (SEAOHUN, 2014).

Ruang lingkup dari One Health dapat digambarkan oleh Gibbs dengan sebuah payung, dimana pada payung ini terdapat cakupan yang sangat luas dan dibawahnya berisikan berbagai disiplin ilmu yang dapat berkontribusi dalam teori One Health. Beberapa penulis menganggap bahwa pernyataan “One Medicine”.

“One Health” dengan “One World, One Health , One Medicine” memiliki arti yang sama. Namun hal tersebut masih perlu dipertimbangkan. Ada beberapa hal yang memiliki tujuan serupa dengan teori One Health dan dapat dikatakan juga termasuk dalam ruang lingkup One Health sendiri, yaitu One Medicine Comparative Medicine, Translational Medicine, Zoobiquity, dan Evolutionary Medicine.

 Berikut adalah beberapa ruang lingkup dalam menangani One Health dan sesuai dalam gambaran Gibbs (SEAOHUN, 2014) :

  1. Dokter hewan : Untuk isu kesehatan hewan dan keamanan pangan, epidemiologi penyakit pada hewan
  2. Dokter : Untuk isu kesehatan manusia, epidemiologi penyakit pada manusia
  3. Perawat : Untuk isu kesehatan manusia/ komunitas
  4. Ahli kesehatan masyarakat : Untuk isu kesehatan komunitas, strategi pencegahan penyakit, epidemiologi, pengetahuan tentang penyakit menular
  5. Ahli epidemiologi : Epidemiologi, pengontrolan penyakit, surveilans, desain kuesioner
  6. Ilmuwan kemargasatwaan : Ekologi kemargasatwaan, zoology
  7. Pengobat tradisional : Isu kesehatan komunitas, memahami metode pengobatan tradisional
  1. emimpin/ politisi local : Penting untuk aksi dan dukungan dalam komunitas lokal
  2. Ahli kesehatan lingkungan : Menilai kontaminasi lingkungan, sumber penyakit, perubahan faktor-faktor lingkungan
  3. Ahli ekologi : Hubungan antar organism dan komponen yang berhubungan di lingkungan
  4. Ahli ekonomi : Menilai dampak financial dari penyakit dan biaya dari rekomendasi pengontrolan atau pemberantasan ; uang dan jumlah sering menjadi sesuatu yang penting bagi politisi
  5. Ahli komunikasi : Komunikasi resiko, interaksi dengan media, keterlibatan dengan komunitas
  6. Pekerja layanan darurat : Untuk kejadian luar biasa atau bencana akut
  7. Teknisi laboratorium : Untuk konfirmasi organism yang menyebabkan penyakit
  8. Ahli farmasi : Untuk pengobatan penyakit
  9. Ahli logistic : Logistik dalam merespon kejadian luar biasa
  10. Hubungan masyarakat/pemasaran : Untuk interaksi media dan public
  11. Spesialis bidang teknologi informasi : Untuk teknologi informasi, analisis data, penyimpanan data dan penyebaran data
  12. Ilmuwan sosial : Untuk dinamika budaya dan kelompok yang mempengaruhi risiko, penularan atau pencegahan. *