KH Drs Muhammad Minhadj Al Hafidz. (FT/IST)

JOMBANG | duta.co – Innalillahi wa Innailaihi Rajiun! KH Drs Muhammad Minhadj Al Hafidz, pengasuh PP Midanutta’lim, Mayangan, Jogoroto, Jombang, Sabtu (26/1/2019), kapundut.

Bacaan surat al-ikhlas dan tahlil itu, terus menggema, mengiringi prosesi pemakaman almaghfurlah yang lahir pada tahun 1945 itu.

“Kami berkabung, warga Jombang berkabung. Kita kehilangan pendakwah sejati. Mewakili Bupati Jombang (Hj Mudjidah Wahab red.) pemerintah daerah turut berduka, semoga kita juga bisa mengakhiri hidup ini dengan khusnul khotimah sebagaimana Kiai Muhammad Minhadj,” demikian KH Dr Achmad Jazuli, Sekda Kabupaten Jombang dalam sambutannya.

Hal yang sama disampaikan KH Ahmad Masduqi Abdurrohman Al Hafidz. Pengasuh Pondok Pesantren Tanfidzil Quran Perak, Jombang ini tak kuasa melupakan kegigihan Mbah Mad, panggilan KH Muhammad Minhadj dalam berdakwah. Di samping itu, ia dikenal tekun menjaga hafalan Alquran. Mbah Mad juga gigih berdakwah ke penjuru dunia.

“Secara umur saya lebih tua. Dan saya tahu persis beliau sangat gigih berdakwah. Sepanjang bersamanya, saya belum pernah mendengar kalimat yang menyakiti hati orang lain,” demikian KH Ahmad Masduqi.

KH Dr Isrofil Amar, mantan Ketua Tanfidziyah PCNU Jombang, mewakili keluarga, juga menyampaikan hal yang sama. Betapa hebat Gus Mad dalam mengemban misi dakwah. Sebagai mantan pengurus NU Jombang, Gus Mad merupakan sosok yang peduli dengan ke-NU-an.

“Kita kehilangan sosok yang istiqomah dalam berdakwah. Semoga santri-santri Midatutta’lim bisa menuruskan perjuangan beliau,” tegas Kiai Isrofil.

Dari kanan, Gus Mad saat haul Bani Manshur bersama Cak Anam, KH Zainuri (almarhum), KH Munif dan KH Hasan Basyari. (FT/MUHTAZUDDIN)
Menghadapi Stigma Teroris

Hadir dalam prosesi pemakaman, keluarga besar jamaah tabligh dari Pesantren Al-Fatah, Temboro, Magetan. Gus Mad sendiri memang dikenal sebagai salah satu sesepuh jamaah tabligh. Sudah tak terhitung gerakan dakwah yang dilakukan, baik dalam maupun luar negeri.

Kisah Gus Mad merajut dakwah di jamaah tabligh, terbilang luar biasa. Sebagai tokoh NU di Jombang, putra KH Minhadj Manshur ini, tidak mau diam, ketika menyaksikan dakwah yang terkesan serampangan.

Suatu ketika, masjid di area pondok Midanutta’lim, kedatangan rombongan Jaula (jamaah tabligh). Melihat para dainya masih ‘belum genap’ pemahaman keislamannya, Gus Mad pun mendekatinya.

Akhirnya rombongan Jaula asal Madura ini ‘berguru’ kepadanya, untuk kemudian ‘menangis’ agar Gus Mad mau mengawal dakwah mereka. Gus Mad tak kuasa menolak. Dari sini beliau mulai ‘melebur’ dengan gerakan dakwah jamaah tabligh.

Tidak mudah, memang. Terutama setelah terjadi peristiwa 11 September 2001, di mana gedung kembar WTC (World Trade Center) Amrika Serikat diluluhlantakkan oleh teroris. Umat Islam atau khususnya Al-Qaeda menjadi tertuduh. Wal hasil, seluruh gerakan dakwah yang mirip dengan Al-Qaeda, mendapat stigma yang sama, teroris.

Gus Mad yang markas dakwahnya berada di pelosok desa, tak luput dari radar intelijen.Tidak jarang menjadi sasaran investigasi koramil dan polisi. Gus Mad tak henti-hentinya menjelaskan, bahwa, jamaah tabligh bukan perkumpulan teroris. Jamaah tabligh adalah gerakan dakwah murni, tanpa politik. Intinya mengajak umat Islam rajin berjamaah, memakmurkan masjid.

“Saya harus menjelaskan, karena mereka belum paham. Bahwa dakwah Islam ini tidak menyakiti, tidak membenci. Dakwah itu mengajak umat Islam untuk menyusuri jalan yang benar. Amaliahnya adalah amaliyah NU, ahlussunnah wal-jamaah. Mengajak umat Islam salat berjamaah di masjid,” begitu Gus Mad suatu ketika.

Kepeduliannya terhadap NU tak pernah luntur. Setiap bertemu pengurus NU selalu bertanya, bagaimana perkembangan dakwah di NU? Gus Mad juga mewanti-wanti agar nahdliyin berusaha mengimbangi gerakan syiah yang, kini terus berusaha menyusup dalam tubuh NU.

“Mereka tak pernah berhenti, termasuk menguasai literasi generasi penurus,” jelasnya suatu ketika sambil memberikan beberapa buku syiah dan wahabi yang dikirim orang-orang tak dikenal ke rumahnya.

Sampai akhir hayatnya, Gus Mad tak pernah absen berdakwah. Bahkan menjelang wafat, kalimat tahlil itu tak pernah putus dari lisannya. Subhanallah!

Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah swt untuk mengikuti jejak dakwahnya. Pun bagi keluarga yang ditinggal, diberi ketabahan. Selamat jalan Gus Mad menuju surga Allah swt! Amin. (muh)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.