
“Tak rugi jika ini jadi bahan renungan dan instropeksi diri. Teruntuk pada insan yang diberi anugrah kecerdasan.”
By Isfandiari MD
ORANG dari golongan cerdas tak gampang kagum. Jika dalam sebuah moment mendengar tausiah kelewatan (baca: menggelikan) tentang kehebatan sang pendakwah, reaksi bakal beragam. Ada yang maklum, mengiyakan tanpa banyak pikir, lempeng masuk kuping kiri keluar kanan, ada yang jengkel , ada juga yang kasihan. Yang terakhir lahir dari anggapan, -pasti terjangkit krisis kepercayaan diri-
Maaf jika tak berkenan, fakta terjadi, banyak tokoh spiritual disebut ulama, kyai, ajengan, dai kondang lupa diri dan asyik menceritakan kehebatan riwayatnya. Kisahnya dalam pencarian ilmu, kedalaman pikir, giat spektakuler dalam altifitas keagamaan, sampai tingkat paling parah: banggakan keturunan nenek-moyang.
Ini diwartakan di mimbar-mimbar terbuka, dicover audio visual, beredar di medsos dan celah komunkasi publik lainnya. Yang bersangkutan, merasa spesial, istimewa, sudah takdir memang menonjol dan banyak variabel kesombongan lainnya. Walau berkubang ilmu, kepekaan mereka rendah.
Dalam rumus hidup, ada hal yang tak perlu diceritakan tapi cukup disyukuri, empati perasaan orang lain bahkan jika terlatih berempati pada diri sendiri khawatir malah jadi bahan cemoohan atau paling lumayan, dimaklumi.
Tak rugi kita ambil contoh. Si Fulan pendakwah terkenal dan luas dalam ilmu. Ia dianugrahi nasab mulia, bahkan tersambung langsung kepada Nabi Muhammad S.A.W, masuk golongan ahlul bait. Karunia itu jadi bahan ‘dagangan.’ Setiap kalimat penuh hikmah, diselingi kemuliaan keturunannya. DNA spesial dari orang-orang mulia. Terus, repetitif diwartakan dan mengundang reaksi jama’ah.
Ngapunten sekali lagi, reaksi kebanyakan justru kontraproduktif. Mayoritas komunikan yang berpikir maju malah tidak sreg dengan konten begitu. Ada memang yang kagum sampai ngefans, tapi sedikit. Kebanyakan justru antipati terlepas dari kedalaman ilmu yang dia sampaikan. Generasi baru muak, dalam bahasa mereka tercetus : ia..ia sudah tahu! So what gitu loh ? Nasab gue orang biasa aja, kasian deh gue!-Ini bukan keprihatinan tapi lebih mengarah pada ledekan.
Apalagi jaman sekarang, mimbar-mimbar yang audiensnya homogen, atau sudah mengidolakan mungkin kagum takjub.
Masalahnya bocor ke Tiktok, You Tube dan sejenisnya. Yang lihat beragam, berbagai generasi, berbagai latar belakang malah berbagai keyakinan. Ini yang bahaya! Imbasnya ke hal yang lebih besar, bumerang bagi Agama Islam, dianggapnya kita kaum recehan.
Padahal Nabi Muhammad S.A.W sudah mengingatkan dalam kotbah perpisahan (wa’da). Pointnya jelas, kesombongan nasab adalah warisan jahiliyah, jangan bangga banggakan leluhur atau nasab apalagi cela keturunan orang lain.Itu dilarang!
Diteruskan, kemuliaan berdasarkan takwa, bukan darah. Diteruskan, tidak ada keunggulan orang Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, kecuali berdasarkan ketakwaan. Jelas sekali. Memang terdapat hadist (HR. Al Bazzar,Al-Hakim): “Setiap sebab dan nasab akan terputus di hari kiamat kecuali sebabku dan nasabku”. Dalam buku Pembinaan Moral Di Mata Al Ghazali, dituturkan, hal Ini sering ditafsirkan sebagai penghormatan kepada Ahlul Bait, namun tidak memberikan hak kepada mereka untuk bersikap sombong atau merasa lebih mulia berdasarkan keturunan semata.
Ulama mulia terdahulu memberi gambaran beda antara ulama pewaris Nabi (warasatul ambiya) dan ulama sufaha atau ulamaus-suk. Yang pertama menurut kitab Ihya Ulumuddin, selalu membina ketentraman umat. Sedang sufaha yang dangkal ilmu-akal atau ulamaus-suk (ulama jahat yang ilmunya untuk kepentingan duniawi) hanya ingin mengajukan hujjah (argumentasi). Al Ghazali mengibaratkan keduanya sebagai kembang asli dan kembang plastik-palsu. Al-Qur’an dalam QS. An Najm 32 mengatakan,”Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa- Bisa jadi bahan masukan, para ahli hikmah terdahulu ditanyai sebuah perkara: “Bagaimana pengertian perkara yang dianggap benar tetapi buruk?” Mereka menjawab : Yaitu keadaan orang yang menyanjung dirinya sendiri!
Tak rugi jika ini jadi bahan renungan dan instropeksi diri. Teruntuk pada insan yang diberi anugrah kecerdasan di atas rata-rata, kharismatik, orator ulung, estetika raga indah, ada kesempatan manggung tambah bonus photographic memory apalagi nasab mulia. Giatnya dalam dakwah lebih leluasa dan punya kans menjadi mulia. Insya Allah.(*)





































