Khairiyatul Afiyah, M. Kep,. Ns, Sp. Kep.Mat – Dosen Keperawatan Maternitas Prodi Keperawatan

SEBAGAI salah satu penyakit menular seksual, HIV dan AIDS kerap diasosiasikan dengan perempuan pekerja seks komersial (PSK) dan lelaki seks dengan lelaki (LSL) sebagai kelompok yang berisiko.

Pendapat ini hanya cocok pada periode awal penularan HIV/AIDS pada 1987 sampai 1997. Namun secara perlahan penularan HIV/AIDS juga merambah pada kelompok lainnya yaitu pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain (NAPZA) dengan jarum suntik sejak 1997 hingga 2007.

HIV/AIDS dikenal pula sebagai penyakit yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lainnya. Karena itu, sejak 2007 trend penularan HIV/AIDS berpindah pada kelompok yang tak terduga yaitu ibu rumah tangga.

Ibu rumah tangga adalah kelompok yang sebagian besar akan menjadi ibu hamil dan meneruskan keturunan. Kejadian HIV/AIDS pada ibu hamil semakin meningkat dan umumnya ditemukan pada usia 20-29 tahun.

 Selain itu, HIV/AIDS pada ibu hamil menyebabkan masalah yang lebih berat karena dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan menular kepada bayi melalui masa kehamilan, saat melahirkan dan menyusui.

Diperkirakan sebanyak 8.604 bayi dengan HIV lahir setiap tahun. Potensi kehilangan biaya yang diperlukan untuk mengobati dan merawat bayi-bayi dengan HIV tersebut sekitar Rp42 miliar setiap tahunnya. Biaya ini digunakan untuk obat antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi oleh bayi dengan HIV tersebut seumur hidupnya. Kemungkinan untuk menjadi yatim piatu juga sangat besar dialami oleh anak yang lahir dari ibu dengan HIV/AIDS.

Ibu atau bayi dengan HIV/AIDS berpeluang besar untuk menyumbang angka kematian ibu maupun bayi yang sangat menentukan derajat kesehatan masyarakat di suatu negara.

Mekanisme penularan HIV pada ibu ke janin / bayi :

1)        Infeksi transplasenta

2)        Mikrotransfusi

3)        Peningkatan infeksi

4)        Kontak langsung ibu dengan janin

Sumber langsung infeksi :

1)        Darah ibu

2)        Cairan amnion

3)        Placenta

4)        Cairan servik vagina

5)        Air susu Ibu

Jalan masuk infeksi :

1)        Sirkulasi tali pusat

2)        Kulit

3)        Membran mukosa ( saluran pencernaan dan pernapasan)

Tiga  faktor risiko penularan HIV dari ibu ke anak:

  1. Faktor ibu:
  2. Kadar HIV/viral load dalam darah
  3. Kadar CD4
  4. Status gizi selama kehamilan
  5. Penyakit infeksi selama kehamilan
  6. Masalah payudara, jika menyusui
  7. Faktor bayi :
  8. Prematuritas dan berat lahir rendah
  9. Lama menyusu, bila tanpa pengobatan
  10. Luka pada mulutbayi, jika bayi menyusu
  11. Faktor obstetrik:
  12. Jenis persalinan
  13. Lama persalinan
  14. Ketuban pecah dini
  15. Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forsep

Tingkat penularan per bulan HIV selama menyusui

Dua puluh lima negara dipilih dengan jumlah terbesar yang mempunyai ibu hamil HIV-positif (diperkirakan 1.241.500 kasus baru) untuk analisis ini pada 2009 dan dilaporkan dalam laporan 2010 dalam Universal Access.

Metoda Nutrisi        %/bulan

Susu formula           0

ASI-Susu formula campur dalam bulan 1-6   1,5

ASI eksklusif dalam bulan 1-6     0,75

ASI-Susu formula campur dalam bulan 6-36 0,75

ASI esklusif dengan Ibu minum ART ataupun profilaksis ART        0,3

Sumber : Mahy M, Stover J, Kiragu K, Hayashi C, Akwara P, Luo C, et al. What will it take to achieve virtual elimination of mother-to-child transmission of HIV? An assessment of current progress and future needs. Sex Transm Infect. 2010;86 (Suppl 2):ii48-ii55.

Pencegahan Penularan Ibu ke Bayi/Anak (PPIA)

Target utama menurunkan viral load atau kadarvirus serendah-rendahnya dalam cairan tubuh yang infeksius:

1)        Pemberian ARV sedini mungkin pada ibu hamil dengan HIV.

2)        Pemilihan cara persalinan (SC vs Spontan)

3)        Pemberian ARV profilaksis untuk neonatus

4)        Pemilihan nutrisi bayi (PASI atau ASI)

Peran Profesi Kesehatan

1)        Menyebarkan informasi tentang HIV terutama pada wanita usia reproduksi, termasuk penyuluhan bekerja sama dengan institusi pendidikan (topik : kesehatan reproduksi dan pencegahan penularan).

2)        Mengurangi stigma di kalangan petugas kesehatan maupun pada masyarakat.

3)        Memperluas cakupan pemeriksaan penapis HIV

4)        Membentuk jejaring multi disiplin yang kompak (pediatri,keperawatan, penyakit dalam, kesehatan komunitas, pemerintah dan organisasi profesi rumah sakit, Komisi Penanggulangan AIDS daerah maupun pusat, dan lembaga swadaya masyarakat).

5)        Mendukung rujukan mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan (ARV maupun tempat bersalin)

6)        Menjaga kesinambungan data maternal dan bayi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.