Nety Mawarda Hatmanti, SKep,Ns, MKep
Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK)

ABAD ke-21 dikenal sebagai abad dengan kecanggihan dalam hal teknologi informasi. Komunikasi melalui nirkabel dan internet merupakan kebutuhan yang luar biasa sehingga terjadi perubahan yang revolusioner di bidang komunikasi.

Smartphone merupakan alat komunikasi yang sangat umum dipergunakan saat ini. Smartphone merupakan media komunikasi yang sangat praktis bagi anak-anak maupun usia dewasa.

Hampir di semua kalangan telah mempunyai dan mempergunakan smartphone dalam kegiatan sehari-hari, terlebih pada masa pandemic Covid-19 tahun sebelumnya yang mengharuskan semua kegiatan dilakukan secara online sehingga menyebabkan peningkatan penggunaan smartphone di semua kalangan.

Meskipun memberikan banyak manfaat, seperti akses informasi dan komunikasi, penggunaan berlebihan dapat menyebabkan smartphone addiction, yang berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, serta hubungan sosial remaja. Oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan yang efektif dengan melibatkan peran keluarga sebagai faktor utama dalam pembentukan kebiasaan sehat pada anak.

Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran krusial dalam mengontrol dan membimbing anak dalam penggunaan teknologi. Namun, banyak orang tua yang kesulitan dalam mengelola kebiasaan digital anak karena kurangnya pemahaman mengenai dampak smartphone addiction serta strategi efektif untuk mencegahnya.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis edukasi, salah satunya melalui modul peer educator yang dirancang untuk memperkuat peran keluarga dalam membimbing anak menghadapi tantangan digital.

Pendekatan peer educator atau edukasi sebaya telah terbukti efektif dalam berbagai program pencegahan kesehatan, termasuk dalam perubahan perilaku remaja. Dalam konteks pencegahan smartphone addiction, modul ini tidak hanya memberikan edukasi kepada remaja tetapi juga memberdayakan keluarga agar lebih aktif dalam pengawasan dan pendampingan penggunaan smartphone.

Modul ini mencakup berbagai materi, seperti: pemahaman tentang smartphone addiction, manajemen penggunaan smartphone, komunikasi efektif dalam keluarga serta alternative kegiatan positif. Melalui modul peer educator, remaja dilatih untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya, menyebarkan edukasi kepada teman sebaya dan keluarganya.

Hal ini tidak hanya meningkatkan kesadaran individu tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang lebih mendukung pola hidup sehat dalam penggunaan teknologi.

Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi antara keluarga dan sekolah sebagai dua lingkungan utama bagi remaja. Sekolah dapat memfasilitasi program edukasi berbasis peer educator, sementara keluarga berperan dalam menerapkan praktik yang diajarkan di rumah. Dengan adanya komunikasi yang baik antara guru, orang tua, dan remaja, upaya pencegahan smartphone addiction dapat berjalan lebih optimal.

Mencegah smartphone addiction bukan berarti melarang remaja menggunakan teknologi, melainkan mengajarkan mereka untuk bijak dalam penggunaannya. Dengan pendekatan family empowerment melalui modul peer educator, keluarga dapat menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi yang cerdas digital, mampu mengontrol penggunaan smartphone, serta tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan dunia nyata.

Dengan kolaborasi yang kuat antara keluarga, sekolah, dan komunitas, diharapkan remaja dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat, bebas dari dampak negatif kecanduan smartphone, dan lebih siap menghadapi tantangan di era digital. *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry