Uke Maharani Dewi, SST, MKes – Dosen Prodi DIII Kebidanan FKK

MASIH seputar stunting atau gizi buruk. Begitu boomingnya kasus ini hingga tak henti – hentinya jadi perbincangan.

Adanya anggapan yang masih melekat pada masyarakat bahwa stunting adalah karena keturunan sering menjadi penghalang dalam sosialisasi penanggulangan stunting.

 Perlu adanya upaya menyadarkan masyarakat bahwa stunting adalah masalah kecukupan gizi sejak dalam kandungan.

Penanganan stunting menjadi prioritas pembangunan yang merupakan salah satu indikator output dalam  Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi  2015 – 2019.

Karena menjadi prioritas pembangunan maka sangatlah penting adanya upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) untuk penanggulangan stunting.

Itu  dimulai dari peningkatan perawatan kesehatan ibu hamil dan menyusui dengan mengalokasikan pendanaan program melalui dana desa.

Dana desa dapat digunakan untuk penanganan stunting sesuai dengan hasil musyawarah masyarakat desa.

Bentuk program UKBM dapat dikelola sesuai kebutuhan. Sebagai contoh untuk mengoptimalkan pemberian ASI eksklusif perlu didukung adanya gerakan – gerakan sadar ASI.

Sepertinya penyuluhan tentang ASI saja tidak cukup. Perlu ada fasilitas untuk menunjang keterbatasan masyarakat dalam pemberian ASI ekslusif.

Pelayanan kesehatan bagi ibu dengan masalah pemberian ASI masih belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Hal tersebut bukan karena masyarakat tidak tahu adanya layanan tersebut, akan tetapi lebih pada anggapan bahwa masalah pemberian ASI bukanlah penyakit yang perlu dikonsultasikan bahkan diobati oleh petugas kesehatan di pusat pelayanan kesehatan.

Untuk itu perlu adanya UKBM yang lebih dekat jangkauannya dan lebih memasyarakat karena dikelola oleh masyarakat.

Untuk merealisasikan hal tersebut perlu adanya bekal pendidikan, keterampilan dan pelayanan penanganan masalah pemberian ASI oleh puskesmas setempat.

Bagi masyarakat pemberi layanan, dalam hal ini dapat dilaksanakan oleh kelompok pendukung ASI (KP ASI) di tiap desa/kelurahan. KP ASI merupakan kepanjangan tangan puskesmas dalam memberikan jangkauan pelayanan pemberian ASI.

Penanggulangan stunting tidak lagi menjadi tugas individu namun seluruh keluarga masyarakat. Semakin banyak kejadian stunting maka kualitas sumber daya manusia dimasa mendatang sudah dapat dipastikan penurunannya.

Dampak stunting disebut – sebut dapat berimbas pada kerugian ekonomi. Mengapa demikian? Balita stunting mengalami gangguan pertumbuhan fisik maupun kognitif yang akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktifitas dan kreativitas.

Seorang dewasa dengan riwayat stunting berpotensi memiliki kemampuan rendah dan sulit mendapat pekerjaan. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry