
Oleh: Syarif Thayib (Dosen UIN Sunan Ampel, Ketua Umum Yayasan Masjid Peneleh Surabaya)
BULU kuduk penulis mendadak berdiri, ketika pengasuh Ponpes Al-Jihad Surabaya KH. Muhammad Imam Chambali, atau yang biasa dipanggil Aba Imam bercerita, bahwa sebelum masuk ke Masjid Peneleh Surabaya untuk khutbah Jum’at, 6 Maret 2026 kemarin, Aba Imam merasa (seperti) melihat Mbah Ampel menyambutnya di dalam Masjid.
Believe it or not, percaya atau tidak percaya. Tetapi sebagai santri, penulis tentu percaya, bahwa orang yang sudah meninggal bisa melihat – memperhatikan orang yang masih hidup, begitupun sebaliknya. Hal ini tentu berlaku pada orang-orang tertentu. Alasannya ada dua, Ilahiah dan ilmiah.
Pertama, alasan Ilahiah atau Dalil Naqli yang bersumber dari Alqur’an maupun Alhadits. Dalam Alqur’an setidaknya ada dua ayat yang menyebut hal itu secara eksplisit, yaitu pada QS. Albaqarah ayat 154 dan Ali Imran ayat 169.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Albaqarah: 154).
“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.” (QS. Ali Imran: 169).
Adapun hadits yang menguatkan kedua ayat di atas adalah: Nabi SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar dari mereka atas apa yang aku katakan, hanya saja mereka tidak mampu menjawab.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lebih jauh, Sayyid Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad (1634-1720 M), pengarang kitab Ratib Haddad, menegaskan: “ihtimāmul amwāti lil ahyā-i, asyaddu min ihtimāmil ahya-i lil amwāti.” (Perhatian orang yang sudah wafat kepada orang yang masih hidup itu lebih besar daripada perhatian orang yang masih hidup kepada orang yang sudah wafat).
Kedua, alasan Ilmiah atau dalil Aqli yang bersumber dari olah pikir manusia. Salah satunya adalah hasil riset. Antara lain yang pernah dilakukan oleh para peneliti dari University of Durham England yang diterbitkan dalam jurnal Kesehatan Mental, Agama, dan Budaya.
Hasil dari studi selama delapan tahun yang dilakukan mereka melalui proyek “Hearing the Voice,” yaitu penelitian untuk mengamati komunikasi clairaudient (kemampuan mendengar/ melihat di luar jangkauan normal) dalam subjek, seperti “mendengar” roh dan/ atau “merasakan” roh di sekitarnya. Penelitian tersebut mengkonfirmasi fakta, bahwa banyak spiritualis mengalami pengalaman tersebut (A Woods: 2013).
Maka penulis-pun menduga bahwa kemampuan Aba Imam yang “merasakan” ada Mbah Ampel di Masjid Peneleh adalah kemampuan yang diwariskan oleh beberapa gurunya, antara lain: Almaghfurlah KH. Muhammad Dachlan Roib Pandaan dan Romoyai Chusein Ilyas Mojokerto yang dikenal waskita oleh banyak tokoh nasional.
Sedekah Sepuluh Juta
Penampakan Mbah Ampel di Masjid Peneleh yang dirasakan Aba Imam menguatkan keyakinan penulis dan pemerhati sejarah Walisongo di Indonesia, bahwa Mbah Ampel, pemilik nama lengkap Raden Ahmad Rahmatullah Sunan Ampel confirm adalah pendiri Masjid Peneleh di kampung Peneleh Kecamatan Genteng Kota Surabaya.
Dukungan empiris lain adalah temuan peneliti Koninklijk Instituut voor Taal –, Land – en Volkenkunde (KITLV) yang juga dosen Universitas Airlangga Adrian Perkasa, bahwa kampung Peneleh menjadi satu di-antara kampung yang disinggahi oleh Raden Ahmad Rahmatullah atau Sunan Ampel, sebelum ia berlabuh ke Ampel, tahun 15 Masehi lalu (Duta, 15 September 2025).
Setelah menceritakan penampakan di atas, Aba Imam menyatakan kepada penulis untuk bersedekah sepuluh juta ke Masjid Peneleh melalui Norek BSI 7345090295 atas nama Renovasi Masjid Peneleh. Aba Imam pun nampak bersyukur bisa ikut berpartisipasi memperbaiki bangunan Masjid peninggalan Mbah Ampel yang bocor parah karena usianya lebih dari 600 tahun itu.
Sedekah sepuluh juta dari pengalaman spiritual Aba Imam ini diharapkan bisa menginspirasi para pejabat Kota Surabaya, Jawa Timur, atau dimanapun yang sukses bertawasul ke Mbah Ampel sebelum running dalam Pilkada/ Pileg, fit and proper test, Assessment jabatan, dan lain-lain untuk memperhatikan “warisan” sesepuh Walisongo itu.
Tak terhitung dari pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif di Jawa Timur meyakini bahwa Mbah Ampel masih aktif “menjaga” _Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo_ Kota Surabaya dan Jawa Timur khususnya, juga Indonesia pada umumnya.

Bismillah, tanpa ragu, penulis akan mengirimkan tulisan ini kepada para pejabat dan dermawan, termasuk kepada semua bakal calon Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya yang sedang berkompetisi. Berharap mereka semua bisa mengekspresikan cintanya kepada Mbah Ampel dengan meneladani keluhuran spiritual, akhlak, ilmu, dan karomahnya. Juga ikut “merawat” Masjid yang dibangunnya, sehingga kemuliaan/ derajatnya bisa diwariskan, Alfatihah.(*)





































