SURABAYA | duta.co – Awal tahun 2022 diwarnai dengan gelombang baru kasus Covid- 19 akibat penyebaran dari Varian Omicron. Omicron masih mendominasi peningkatan kasus harian terutama di DKI Jakarta dan mulai menuju ke Jawa Timur.
Situasi di atas rupanya tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi regional Jatim yang pada triwulan IV-2021 4,59 persen (y-on-y), atau secara kumulatif (c-to-c) tahun 2021 mencapai 3,57 persen.
“Pertumbuhan yang kuat di tahun 2021 memberikan sinyal positif prospek ekonomi di 2022 dan meningkatkan keyakinan pelaku pasar terhadap pemulihan ekonomi di Jawa Timur,” ungkap Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Timur, Taukhid, Rabu (23/2/2022).
Begitupun Inflasi Tahun Kalender Januari, menurut Taukhid masih terjaga pada 2,60 persen sedangkan tingkat inflasi bulanan mencapai 0,46 persen. PMI manufaktur Indonesia dinilai tetap berada di level ekspansif (53,7), selain itu Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2022 sebesar 119,6, lebih tinggi Desember 2021 sebesar 118,3. Untuk Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2022 sebesar 211,0 atau tumbuh secara tahunan 16,0 persen (yoy).
“Berbagai indikasi positif memberikan optimisme bagi pelaku ekonomi dan berdampak baik bagi kinerja APBN di awal 2022. Kinerja positif APBN diharapkan terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya walaupun di sisi penerimaan diperkirakan tidak sekuat bulan Januari,” jelasnya.
Neraca Perdagangan (NP) di Jatim dari Januari  hingga Desember 2021 mengalami defisit dengan jumlah total sebesar USD4,69 miliar. Secara tren defisit semakin besar di akhir tahun anggaran sebagaimana kondisi sebelum Pandemi Covid-19 pada tahun 2019.  Defisit NP tahun 2021 511,35 persen lebih tinggi dibandingkan NP tahun 2020, sedangkan jika dibandingkan NP tahun 2019 juga 54,30 persen lebih tinggi.
 Hal ini mengindikasikan geliat ekonomi Jatim mengingat impor di Jatim didominasi oleh bahan baku. Tren ekspor sepanjang tahun 2021 menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun 2019 dan 2020.
“Total eksor tahun 2021 sebesar USD22,78 miliar, naik 18,04 persen dibandingkan tahun 2020 dan 11,83 persen dibandingkan tahun 2019.  Ekspor Jatim tahun 2021 didominasi sektor non migas sebesar USD21,30 miliar (96,84 persen), sisanya seebsar USD1,48 miliar (3,16 persen) adalah sektor migas,” kata Taukhid.
 Tren impor sepanjang tahun 2021 menunjukkan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 dan 2020. Total impor tahun 2021 sebesar USD27,48 miliar, naik 39,21 persen dibandingkan tahun 2020 dan 17,76 persen dibandingkan tahun 2019. Impor Jatim tahun 2021 didominasi sektor non migas sebesar USD21,38 miliar (77,83 persen), sisanya sebesar USD6,09 miliar (22,17 persen) adalah sektor migas.
Pada bulan Januari, Neraca Perdagangan masih defisit USD 0,44 miliar dikarenakan masih tingginya impor migas, sedangkan sektor nonmigas surplus sebesar USD 0,04 miliar
Mobilitas masyarakat di Jatim relatif meningkat pada bulan Januari 2022 dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, penurunan hanya terjadi pada tempat transport umum dan taman/rekreasi. Dengan meningkatnya kasus harian dan pemberlakukan PPKM level 2, 3, dan 4 akan membatasi aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat di bulan Februari 2022.
APBN Melanjutkan Kerja Kerasnya di awal Tahun 2022
Di bulan Januari, APBN melanjutkan kinerja yang baik, Realisasi belanja negara di Jatim sampai dengan akhir Januari 2022 mencapai Rp7,18 triliun atau 6,14 persen dari alokasi target APBN sebesar Rp117,55 triliun. Belanja Negara diupayakan terus berakselerasi untuk memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Realisasi Belanja K/L TA 2022 per 31 Januari 2022 mencapai 2,81 persen, dibandingkan TA 2021 mengalami penurunan 51,39 persen penurunan terbesar terjadi pada Belanja Modal sebesar -97,91 persen.
Menteri Keuangan telah menyampaikan langkah-langkah strategis pelaksanaan anggaran TA 2022 pada pimpinan K/L yang meliputi 5 (lima) hal, yaitu: (1) Perbaikan Perencanaan; (2) Percepatan Pelaksanaan Program/Kegiatan/Proyek; (3) Percepatan Pengadaan Barang dan Jasa; (4) Percepatan Penyaluran Dana Bansos dan Banper yang tepat sasaran; dan (5) Peningkatan Monitoring dan Efektivitas Belanja.
“Kinerja penyerapan bulan-bulan berikutnya diharapkan semakin baik seiring dengan akselerasi penyaluran bansos untuk penanganan kemiskinan ekstrem, dan pelaksanaan berbagai program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi,” harapnya.
Selanjutnya, penyaluran TKDD di Jatim sampai dengan akhir Januari 2022 telah mencapai Rp6,01 triliun atau 8,00 persen dari alokasi tahun 2022. Realisasi tersebut tumbuh 14,27 persen dibadingkan TA 2021. Pertumbuhan ini ditopang pertumbuhan realisasi DAU sebesar 14,89 persen dikarenakan peningkatan kepatuhan daerah.
Untuk Dana Desa di Jatim telah disalurkan sebesar Rp174,85 miliar atau 2,25 persen dari alokasi TA 2022 sebesar Rp7,76 triliun. Realisasi Dana Desa tumbuh 2,18 persen dibandingkan periode yang yang sama Tahun anggaran yang lalu.
Kinerja Pendapatan Tumbuh Tinggi Didukung Semua Komponen
Pendapatan Negara melanjutkan kinerja yang baik dari tahun lalu, dan diharapkan berlanjut ke depan, seiring pemulihan ekonomi yang semakin kuat dan implementasi reformasi struktural. Sampai dengan akhir Januari 2022, pendapatan negara tercapai sebesar Rp18,65 triliun atau 8,31 persen dari target di Jatim sebesar Rp224,35 triliun. Pendapatan Negara sampai dengan 31 Januari 2022 tumbuh 60,34 persen (yoy).
Penerimaan Perpajakan hingga 31 Januari 2022 mencapai 7,08 persen dari target, secara nominal tumbuh positif 24,68 persen dibandingkan TA 2021. Seluruh jenis penerimaan Perpajakan secara nominal tumbuh positif. Penerimaan Kepabeanan dan Cukai hingga 31 Januari 2022 mencapai 9,32 persen dari target, secara nominal tumbuh positif 92,29 persen dibandingh TA 2021 ditopang pertumbuhan penerimaan Cukai, BK, dan BM yang masih tinggi.
Realisasi PNBP TA 2022 per 31 Januari 2022 mencapai 10,11 persen dari target, secara nominal tumbuh positif 5,99 persen ditopang oleh PNBP Lainnya yang mengalami pertumbuhan mencapai 85,71 persen.
“Kontribusi yang semakin besar Provinsi Jatim tehadap Penerimaan Negara secara Nasional
Surplus Regional Jatim hingga 31 Januari TA 2022 mencapai Rp11,48 T, tumbuh cukup sangat tinggi mencapai 190,67 persen dibandingkan TA 2021, menunjukkan signifikansi kontribusi perekonomian Jatim terhadap perekonomian Nasional dan akselerasi pemulihan perekonomian Jawa Timur,” tegasnya.
Kinerja APBD Konsolidasian Se-Jatim
Realisasi Pendapatan APBD Konsolidasian se-Jatim s.d 31 Januari 2022 sebesar Rp7,89 T (6,41 persen) didominasi oleh pendapatan Transfer Pemerintah Pusat (TKDD) dengan proporsi 76,04 persen dari Total Pendapatan Daerah.
Realisasi Belanja APBD Konsolidasian Provinsi Jatim hingga  31 Januari 2022 sebesar Rp3,15 triliun (1,83 persen) didominasi oleh komponen Belanja Pegawai dengan proporsi 64,65 persen.
Proporsi TKDD sebesar 76,04 persen terhadap Total Pendapatan Daerah menunjukkan bahwa dukungan dana pusat melalui TKDD masih menjadi faktor dominan untuk pendanaan di Pemda se-Jatim.
Surplus Anggaran hingga 31 Januari 2022 tercatat sebesar Rp6,18 triliun, dengan Pembiayaan Bersih sebesar Rp1,43 triliun menghasillkan SILPA hingga 31 Januari 2022 mencapai Rp6,18 triliun.
“Seluruh komponen Kemenkeu di Jatim berkomitmen memperkuat koordinasi dengan Pemda untuk meningkatkan kualitas Belanja Pemerintah dan memperkuat sinergi dengan Pemda untuk mempercepat akselerasi Belanja Daerah dan menggali potensi pendapatan di daerah, serta mendorong optimalisasi penggunaan SILPA TAYL yang mencapai Rp15,03 triliun agar dapat segera dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. rm
Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry