Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa.

‎SURABAYA | duta.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menguatkan program One Pesantren One Product (OPOP) yang diinisiasi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

‎Kerja sama tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah signifikan, tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga inovasi dan keberlanjutan usaha pesantren.

‎Program OPOP merupakan inisiatif strategis yang telah dirintis sejak awal periode kepemimpinan Gubernur Khofifah dan hingga kini terus mengalami penguatan melalui sinergi lintas sektor, termasuk dengan kalangan akademisi.

‎Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, mengatakan bahwa keterlibatan perguruan tinggi merupakan bagian penting dalam mendukung program prioritas gubernur tersebut.

‎“Kalau kita berbicara akademisi, tentu banyak universitas besar yang ingin men-support program gubernur, salah satunya One Pesantren One Product,” ujar Endy saat ditemui wartawan Duta.co sebelum Paripurna pada Senin (29/12/2025).

‎Menurutnya, ITS memiliki kompetensi yang relevan, terutama pada bidang desain grafis dan teknologi, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi pesantren. Melalui OPOP, pesantren diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat dakwah dan pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi bagi santri, alumni, dan masyarakat sekitar.

‎“Pesantren diharapkan memiliki unit ekonomi yang bisa menopang keberlangsungan hidupnya. Di sinilah peran ITS, khususnya dalam membantu desain kemasan, branding, hingga strategi pemasaran produk pesantren,” jelasnya.

‎Endy menambahkan, kerja sama tersebut terjalin setelah adanya komunikasi antara Rektor ITS dan Gubernur Jawa Timur, yang kemudian disepakati beberapa bentuk dukungan konkret. Salah satunya melalui pendirian workshop atau training center yang akan menjadi wadah bagi civitas akademika ITS untuk mendampingi pesantren.

‎“Harapannya, produk pesantren bisa memiliki pasar yang lebih luas, omzet meningkat, sekaligus membuka lapangan kerja baru,” ungkap Endy.

‎Ia juga menekankan, pentingnya sinergi antara universitas, pemerintah daerah, pemerintah kabupaten/kota, media, serta pelaku usaha dalam menyukseskan program OPOP.

‎Selain ITS, Pemprov Jatim sebelumnya juga telah bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), meskipun diakui perjalanan kerja sama tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan.

‎“Di UNESA fokusnya lebih pada aspek ekonomi dan kewirausahaan, seperti bagaimana mengajarkan pengambilan keputusan bisnis yang menguntungkan,” katanya.

‎Terkait pemantauan program, Endy menegaskan Dinas Koperasi dan UKM Jatim akan melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.

‎“Kami akan memantau jumlah pesantren yang terlibat, progres sebelum dan sesudah pendampingan, serta hasilnya. Semua akan kami laporkan secara rutin,” ujarnya.

‎Hingga saat ini, program OPOP telah merangkul 1.430 pesantren di seluruh Jawa Timur. Angka itu dipastikan akan terus bertambah. Targetnya, setiap tahun,  200 pesantren baru yang memiliki minimal satu produk unggulan yang siap pasar.

‎​Pelatihan yang diberikan pun beragam dan menyesuaikan kebutuhan zaman. Mulai dari desain kemasan, strategi pemasaran melalui website, hingga pemanfaatan media sosial seperti Instagram dan TikTok.

‎​”Kami ingin pesantren tidak hanya menjadi sarana dakwah dan keagamaan, namun menjadi contoh riil bagaimana santri, alumni, dan masyarakat sekitar bisa berdaya secara ekonomi,” pungkasnya. (rud)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry