
SURABAYA | duta.co – Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Pemprov Jatim Dr Akhmad Jazuli mengapresiasi Ikatan Pelajar NU (IPNU) Jatim yang menyampaikan kritik dengan akhlak.
“Selama ini, IPNU menyampaikan kritik dengan akhlak, baik secara lisan saat audiensi maupun secara tertulis,” katanya saat mewakili Gubernur Jatim membuka Rapimwil IPNU se-Jatim di Surabaya, Sabtu (31/10) malam.
Dalam pembukaan rapimwil yang juga dihadiri anggota DPD RI Lia Istifhama, perwakilan Polda Jatim, PWNU Jatim, dan puluhan kader IPNU se-Jatim itu, Jazuli menegaskan bahwa IPNU sebagai kader NU harus berwatak bijak dalam menyikapi perbedaan.
“Jangan anarkhis seperti demonstrasi yang membakar Grahadi (gedung negara) pada tahun lalu, saya yakin kader NU itu selalu pakai akhlak, karena hal penting adalah kritik itu bisa sampai dan diterima,” katanya.
Apalagi, kader-kader NU saat ini sudah banyak yang berpendidikan tinggi. “Semakin tinggi pendidikan justru akhlak itu semakin penting, karena pendidikan setinggi apapun tidak akan ada manfaatnya tanpa akhlak,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua PW IPNU Jatim M Rafli Rifki Reza menegaskan bahwa kader NU itu memiliki karakter Aswaja yang memosisikan diri sebagai “rahmatan lil alamin” di lingkungan sekitarnya.
“Karakter NU itu dari generasi ke generasi adalah rahmatan lil alamin, karena itu kader NU dimanapun selalu menjadi rahmat bagi pihak lain, termasuk non-Muslim,” katanya dalam acara pembukaan yang juga dihadiri Ketua IPPNU Jatim, Aprilia Nur Azizah.
Ia berharap kader-kader IPNU tetap menjaga karakter Aswaja yang rahmatan lil alamin, apalagi kader-kader IPNU dari Jatim yang selama ini selalu mewarnai proses kaderisasi pada skala nasional.
“Menjadi anak muda yang berkhidmah kepada NU adalah hal yang istimewa, karena berkhidmah kepada NU itu merupakan anak muda pilihan. Dan, khidmah kepada NU yang penting itu adalah dengan menjaga karakter Aswaja yang diwariskan para ulama kepada kita,” katanya.
Kepada peserta Rapimwil IPNU Jatim, ia pun mengharapkan untuk merumuskan program terkait penguatan karakter Aswaja untuk dibawa ke Kongres IPNU di Kendal, Jateng pada akhir November 2026.
“Tantangan kita sekarang adalah panggung digital yang merupakan _panggung kecerdasan_ seperti AI, medsos, Google (kecepatan digital), padahal kebutuhan manusia itu bukan cuma otak tapi juga hati. Bukankah Nabi sendiri turun ke bumi untuk hati/akhlak, ya?!,” katanya. (*/ipnu)


































