Ruas jalan di Lamongan yang sudah dibangun melalui program JAMULA. (FT/Ardi).

LAMONGAN | duta.co – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus mengakselerasi peningkatan infrastruktur melalui program unggulan Jalan Mantap dan Alus Lamongan (JAMULA). Untuk memastikan kualitas jalan yang lebih tahan lama, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (PU BMCKTR) Lamongan menggandeng tim teknis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut atas rekomendasi Panitia Khusus (Pansus) DPRD Lamongan terkait evaluasi kualitas infrastruktur. Dinas PU BMCKTR berkomitmen memperketat standar teknis, khususnya pada penerapan rigid pavement (beton) di titik-titik yang rawan mengalami kerusakan.

Kepala Dinas PU BMCKTR Lamongan, Andhy Kurniawan, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan akademisi dari ITS menjadi terobosan baru pada tahun ini.

“Tahun ini kita menggandeng konsultan perencanaan sekaligus akademisi dari ITS Surabaya. Hasil perencanaan dievaluasi kembali untuk memastikan apakah perlu penguatan atau sudah sesuai secara teknis. Ini bagian dari pembenahan sesuai rekomendasi DPRD atas LKPJ 2025,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Selain penguatan di tahap perencanaan, pengawasan proyek di lapangan juga diperketat. Dinas PU BMCKTR menerjunkan konsultan pengawas untuk memastikan setiap pekerjaan sesuai spesifikasi, terutama terkait beban tonase dan volume kendaraan harian di masing-masing ruas jalan.

“Selain tim internal, kami libatkan konsultan pengawas untuk memantau satu per satu ruas jalan JAMULA. Mayoritas dari Lamongan, namun ada juga dari Surabaya dan daerah lain di Jawa Timur,” tambah Andhy.

Tak hanya fokus pada jalan, penataan kawasan perkotaan juga menjadi prioritas. Saat ini, Dinas PU BMCKTR tengah melakukan revitalisasi trotoar dan area pedestrian dengan konsep yang mengedepankan keseimbangan antara fungsi dan estetika.

Namun demikian, Andhy mengakui bahwa tantangan utama penataan kota terletak pada sistem drainase yang sudah berusia lebih dari tiga dekade. Dimensi saluran yang ada dinilai tidak lagi mampu menampung debit air seiring pertumbuhan penduduk.

“Kami fokus membenahi titik rawan genangan. Sistem gravitasi lama sudah tidak memadai, sehingga kami siapkan pompanisasi di beberapa titik wilayah kota,” jelasnya.

Untuk kawasan barat kota seperti Rangge, Ngaglik, hingga Mojo, yang selama ini hanya mengandalkan satu jalur pembuangan air, pemerintah tengah merancang solusi tambahan berupa jalur pembuangan baru.

“Kami bersinergi dengan Dinas PU SDA dan Dinas Perkim untuk menanggulangi genangan di dalam kota, sehingga masyarakat bisa merasakan lingkungan yang lebih nyaman,” pungkasnya. (ard)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry