
Sejernih apapun mata air, jika pipa penyambungnya baik, kejernihannya akan sampai pada tujuan. Ungkapan itu ada pada Sulistyo Biantoro. Sosoknya sebagai pengkhidmah negara dan umat yang sederhana, humble, dan cekatan.
Seorang John C. Maxwell mengatakan bahwa, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way”. Belajar dari Sulistyo Biantoro adalah pemimpin yang tahu jalannya, bagaimana cara menempuhnya, dan tidak segan-segan menunjukkan jalannya jika itu memberi kebaikan bersama. Teringat karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, pemimpin penuh dengan kesederhanaan dan senang memberi kemudahan kepada sesama.
Rasulullah SAW menyampaikan bahwa, إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ (Agama Islam itu Mudah, Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya). Dan, seorang Sulistyo Biantoro mengajarkan bagaimana memberikan kemudahan dan keringanan terhadap sesama.
Nabi Muhammad itu harisun ‘alaikum (amat sangat berkeinginan orang lain bahagia, aman, dan sentosa). Dan seorang Sulistyo ialah sosok yang memiliki Sense of Achievement yakni semangat dalam memberikan kemudahan dan kemajuan untuk umat serta bangsa. Nabi Muhammad SAW mengajarkan pada kita untuk memberikan kemudahan dan meringankan langkah kita pada sesama.
Menyala, bukan sekedar namanya yang menyala namun juga langkah kebaikannya yang sat-set wat-wet. Jarang orang mengenal namanya, tapi orang tersinari akan kepemimpinannya. Kata orang, biar nama tidak dikenal di bumi, tapi penduduk langit mengenalnya. Bersyukur PLN memiliki sosok seperti Sulistyo Biantoro.

Fiqh Sosial ala Sulistyo Biantoro
Teringat cerita para Sahabat Nabi dan Ulama Salaf as-Salih, banyak diantara mereka bagaimana kesalihan pribadinya dengan Allah SWT (Hablun min Allah) luar biasa, tetapi sebaliknya kesalihan sosialnya dengan sesama (Hablun min an-Nas) tidak baik. Maka Rasulullah SAW pernah mengatakan orang demikian tiada kebaikan dalam dirinya.
Dalam prinsip Fiqh al-Awlawi (Fiqh Prioritas) mengenal kaidah “al-Muta’addi afdhalu min al-Qasir” (Terkadang, kesalihan sosial itu lebih penting daripada kesalihan pribadi).
Sahabat Anas bin Malik ra mengatakan, akhlak seseorang dapat menentukan derajat dan nasibnya kelak di akhirat.
Sahabat Anas bin Malik ra mengatakan, akhlak seseorang dapat menentukan derajat dan nasibnya kelak di akhirat. وقال أنس بن مالك إن العبد ليبلغ بحسن خلقه أعلى درجة في الجنة وهو غير عابد ويبلغ بسوء خلقه أسفل درك في جهنم وهو عابد Artinya, “Sahabat Anas bin Malik ra mengatakan, Seseorang dapat mencapai derajat tertinggi di surga dengan kebaikan akhlaknya meski bukan ahli ibadah. Sebaliknya, seseorang dapat terjatuh pada lapisan terbawah neraka jahannam karena keburukan akhlaknya meski ia ahli ibadah.”
Dan seorang Sulistyo Biantoro, Ketua Umum YBM PLN, mengajarkan kepada kita cara menjaga keseimbangan hubungan dengan Allah SWT, manusia, dan alam. Sosoknya, memberikan ingatan segar pada kita bahwa, Islam itu Rahmatan lil ‘Alamin. Menjejak manfaat; tumbuh bersama, bermanfaat untuk sesama. Demikianlah nilai akhlaq Rasulullah SAW, apapun bentuknya yang terpenting esensinya, itulah Islam.
Ahmad Maududi
Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya







































