Ada dimensi iman yang tak mampu dipahami oleh sebagian orang  apalagi mereka yang tidak percaya tuhan. Padahal bangsa kita tegas menjadikan ideologi sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa

Oleh: Subadianto

Tidak ada kepemimpinan tanpa adanya sebuah keyakinan yang diwujudkan. Tidak ada kepemimpinan kecuali didasari ideologi yang tegas untuk ditegakkan. Sebuah keyakinan yang menjiwai gerak langkah seseorang untuk memperjuangkan hingga tetes darah penghabisan. Ideologi akan mendorong seseorang memiliki kepercayaan, menghujamnya kemantapan hati, lisan dan perbuatan.

Silih berganti kepemimpinan negeri ini telah terjadi, namun keadaan bangsa belum seperti yang dicita-citakan. Padahal kita telah merasakan kemerdekaan dan kemandirian pemerintahan sejak tahun 1945. Lebih dari 70 tahun pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia seolah masih saja jauh belum terlaksana secara merata. Pemimpin Indonesia harus memiliki kemampuan memimpin masyarakat yang plural, memahami kemajemukan bangsa. Kemajemukan ini membutuhkan keadilan sejati. Ia tegas dan konsisten penjagaannya terhadap prinsip-prinsip masing-masing golongan.

Pemimpin yang mampu menghormati, menjaga dan menciptakan keharmonisan kehidupan berbangsa yang majemuk adalah pemimpin yang adil, yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Semua golongan diberikan hak untuk berprestasi dan berkarya yang sama, sesuai kapasitas diberikan kesempatan menjabat sebagai pejabat pemerintahan.

Ada dimensi iman yang tak mampu dipahami oleh sebagian orang  apalagi mereka yang tidak percaya tuhan. Padahal bangsa kita tegas menjadikan ideologi sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Esa adalah tunggal, tidak ada Tuhan selain Allah. Jadi hanya Pemimpin yang beriman, menjaga keimanannya dengan bertakwa, ia akan dituntun oleh Tuhannya untuk tidak berbuat sia-sia apalagi aniaya/zhalim. (*)

*Ketua Fraksi PAS DPRD Kab. Trenggalek

Tinggalkan Balasan