Tampak Siti Nadliroh mengeluh dicokoknya Rommy oleh KPK. (FT/MKY)

JOMBANG | duta.co – Wajah-wajah polos hadir dalam bedah buku ‘NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan, Siapa Bertanggungjawab?’ karya Drs Choirul Anam (Cak Anam) yang berlangsung di Obis Camp Jatijejer, Trawas, Mojokerto, Minggu (17/3/2019).

“Cocok sekali judul buku ini. Saya setuju. Tetapi tidak berani. Terus terang, kalau nanti buku ini dibaca pengurus NU, lalu ada yang protes, apa bisa dipertanggungjawabkan isinya? Itu saja Pak,” demikian disampaikan salah seorang tokoh nahdliyin setempat.

Mendapat pertanyaan ini, Cak Anam menjelaskan, bahwa, apa yang ada di buku ini, adalah fakta. Kalau ada yang tidak terima, saya siap menjelaskan isinya.

“Silakan! Saya bertanggujungjawab seluruh isi buku ini. Saya sendiri sejak mahasiswa sudah menulis soal NU. Skripsi saya menjadi buku (Pertumbuhan dan Perkembangan NU red.). Dari buku itu, saya dipanggil KH Saifuddin Zuhri (tokoh NU red.) agar saya terus menulis tentang NU,” tegasnya.

Dari bedah buku ini, seluruh peserta sepakat, bahwa, NU sekarang menjadi tumbal politik kekuasaan. Kesediaan KH Ma’ruf Amin menjadi Cawapres Jokowi, memilih meninggalkan amanah Rois Aam, telah melahirkan keprihatinan yang dalam bagi nahdliyin di desa-desa.

“Saya ini punya grup WA banyak. Dan juga banyak mendapat kiriman pernyataan Gus Dur soal Kiai Ma’ruf yang dibilang sesat. Saya kira sikap beliau meninggalkan amanah sebagai Rois Aam, ini cukup memprihatinkan,” tegas salah seorang peserta perempuan yang aktif di Fatayat NU.

Hal yang sama disampaikan Siti Nadliroh, aktivis Fatayat NU Mojowarno, Jombang. Menurut Nadliroh, sebagai kader Fatayat, soal politik dirinya makmum sama Bu Khofifah, Gubernur Jawa Timur. Apa yang disampaikan Bu Khofifah, saya ikut.

“Tetapi untuk ikut mendukung Kiai Ma’ruf, saya juga ingat dawuh Gus Dur seperti tadi. Begitu juga soal partai Ka’bah. Saya ini bingung, sudah mau coblosan kok Ketua PPP ditangkap KPK. Ini gimana Pak? Apa yang harus saya lakukan? Kalau tidak pilih PPP, lalu saya pilih apa?” tegasnya.

Cak Anam menjelaskan, bahwa, apa yang dilakukan Rommy, sesungguhnya bukan perbuatan PPP. Kalau di rumah itu ada tikus, biar tikusnya yang dijepret. Rumahnya tetap harus dirawat.

“Tetapi, kalau sudah tidak kerasan di PPP, Ka’bah, tidak masalah. Masih ada partai lain yang bisa menyalurkan aspirasi Ibu. Yang penting sekarang ikut Saiful Huda dulu, Caleg Partai Gerindra, semua bisa diniati ibadah,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.