Andini Hardiningrum, S.Pd.,M.Pd – Dosen S1 PG-PAUD FKIP

Karakter merupakan bagian penting dari seorang anak dimana karakter merupakan suatu hal yang menunjukkan kualitas kepribadian dari manusia. Pendidikan karakter adalah usaha pembentukan pribadi peserta didik dengan berciri khas berakhlak, bermoral, peduli, berpendirian teguh dan tanggungjawab oleh orang tua, sekolah dan masyarakat.

 Tujuan pendidikan karakter adalah peserta didik dapat memiliki, memahami dan mengimplementasikan norma-norma yang baik dan diterima oleh masyarakat. Pendidikan karakter ini terbentuk tidak lepas dari pengaruh berbagai aspek yang ada di lingkungan anak. Antara lain keluarga, masyarakat dan sekolah.

Keluarga berperan sangat banyak dan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter karena keluarga adalah orang-orang terdekat dan waktu yang dihabiskan banyak bersama dengan keluarga. Bagaimana kualitas keluarga dan fungsinya mencerminkan bagaimana anak-anak yang akan terbentuk di dalam keluarga tersebut. Apabila positif maka sangat bagus sekali untuk anak bila sebaliknya maka hal ini yang sangat krusional untuk dihindarkan.

Masyarakat pun tak kalah pentingnya. Peran mereka adalah mendukung terciptanya kelompok sosial yang berkualitas dengan prinsip tata karma dan sopan santun yang baik serta saling menghargai hak berpendapat. Terciptanya lingkungan positif seperti adanya kegiatan sosial dan keagamaan yang kuat secara tidak langsung akan berdampak pada anggota lingkungan tersebut untuk melakukan hal-hal positif secara berulang-ulang.

Sekolah merupakan faktor penunjang berikutnya dimana pendidikan kedua yang diberikan setelah pendidikan pertama yang diberikan di lingkungan keluarga. Ada baiknya pendidikan ini saling melengkapi dan saling bekerjasama untuk membentuk karakter anak didik menjadi pribadi milenial yang beretika.

Pilar- pilar pendidikan karakter yang harus diajarkan adalah: 1) trustworthiness (kepercayaan, kejujuran), 2) recpect (respek), 3) responsibility (tanggung jawab), 4) fairness (keadilan), 5) caring (peduli) dan 6) citizenship (kewarganegaraan).

Mengapa hal ini yang harus kita pahami dan kita lakukan?? Karena kunci dari seseorang anak dikatakan berkarakter adalah dngan melakukan hal-hal yang demikian ini. Tidak seperti mengajarkan berhitung 1+1=2, namun lebih kepada bagaimana menanamkan pilar-pilar tersebut kepada anak sejak dini. Semakin dini diajarkan maka semakin dini pulang anak belajar kejujuran, saling menghormati, menghargai, tanggung jawab dan aspek karakter lainnya.

Karakter kepercayaan, kejujuran dan tanggung jawab yang dimliki mampu menciptakan banyak kesempatan untuk berprestasi lebih baik lagi. Karakter tanggung jawab mampu meningkatkan prestasi peserta didik menjadi lebih baik sehingga reward dan kesempatan berprestasi tercipta kembali untuk kesempatan berprestasi berkutnya. Banyak pihak mengapresiasi prestasinya dengan reward  yang beragam mulai funding, beasiswa bahkan kesempatan berkarya di instansi atau perusahaan tanpa tes masuk HRD.

Anak usia dini memiliki karakter mudah sekali meniru perilaku orang dewasa. Apa yang dilihat akan dilakukan, apa yang didengar dan dilihat akan teringat terus hingga mereka dewasa. Selain hal tersebut, sangat mudah sekali membuat anak untuk dapat melakukan pembelajaran karakter dengan cara dilakukan secara berulang dan konsisten serta pencontohan dari orang dewasa.

Bila ingin anak usia dini berkarakter maka lingkungan tempatnya berinteraksi haruslah sudah memberikan contoh sikap-sikap tersebut pada anak hingga pada level biasa dilakukan. Tanpa paksaan dan tanpa omelan pun mereka sudah terbiasa melakukan. Apakah ini mudah?tentu tidak.

Pada jaman sekarang jarang sekali lingkungan mendukung hal demikian. Banyak anak yang sudah tidak tahu tata cara bersopan santun dengan orang tua. Membentak-bentak orang tua, sulit berkata maaf, permisi bahkan tolong.

Kenapa demikian??karena adanya kemajuan jaman yang membuat adat istiadat yang ada pada jaman dulu sudah berevolusi menjadi hal yang dulu bukan hal yang sekarang.

Anak-anak pada jaman dulu tidak sama dengan anak-anak pada jaman sekarang. Bahkan hal yang dulu katanya tidak perlu dipakai untuk sekarang.

Terlebih pada jaman digital saat ini yang apa saja bisa digenggam oleh tangan, bahkan tanpa bertemu pun kita biasa melakukan komunikasi secara intens dan layaknya nyata. Sehingga konteks-konteks karakter yang harusnya dapat dilakukan saat bertatap muka tidak bisa dilakukan melalui dunia maya.

Ada pula yang melakukan tatap muka namun tidak ada interaksi secara langsung dan asyik dengan gadget masing-masing. Bisa dibayangkan betapa anehnya anak-anak jaman sekarang yang bisa senyum-senyum sendiri saat melihat hp, bisa teriak-teriak saat main game di hp, dan bisa joget-joget karena hp.

Beberapa alasan pentingnya pendidikan karakter di atas dapat menjadi benteng yang kuat untuk menghadapi tantangan era globalisasi (era digital) yang banyak celah mempengaruhi insan generasi muda terkena dampak negatif globalisai seperti ketidakjujuran, rendahnya kepedulian, fenomena ketidakadilan, turunnya tanggungjawab pada tugasnya masing- masing.

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga kesempatan terkena dampak era digital ini persentasenya semakin besar.

Pada Maret 2017, Internet World Stats mencatat estimasi jumlah penduduk Indonesia mencapai 263 juta jiwa dengan jumlah pengguna internet 132 juta jiwa.  Jumlah penduduk Indonesia menempati rangking ke-3 setelah China dan India.

Angka penggunan internet di atas menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Brasil.

Tingkat penetrasi internet di Indonesia hingga Maret 2017 mencapai 50,4%, meningkat drastis dari tahun 2016 yang tercatat 34,1% (Sindo, Selasa 29 Agustus 2017).

Sebagian besar pengguna internet pada saat ini adalah anak usia dini yang notabene anak yang suka meniru. Bagaimana konten-konten yang ada di internet itu bisa dijamin akan membawa pengaruh positif pada anak??atau malah sebaliknya??. Disinilah peran pemerintah sangat diharapkan.

Alangkah pentingnya ada kebijakan pemerintah agar masyarakat teredukasi dengan baik sehingga bisa menyikapinya secara tepat sekaligus memaksimalkan potensi internet dari sebuah dunia digital.

Hal ini wajar karena banyak program yang ada selama ini masih parsial, terfokus pada bagaimana melatih kemampuan dalam mengakses internet dan bagaimana mewujudkan internet sehat.

Padahal program pembinaan digital ini lebih luas dari itu karena juga berbicara soal perilaku dan budaya hidup digital (digital behavior).

Harapan besar kami selaku pendidik kepada pemerintah adalah adanya manfaat positif dan konten yang mendidik sehingga dapat terciptanya karakter anak yang tidak agresif serta sesuai dengan pilar karakter yang tersebut diatas.

Bagaimana membuat era digital ini sejalan dengan prinsip kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan, menciptakan anak didik yang berkompeten, berakhlak, berbudi pekerti luhur dan bertanggung jawab serta pantang menyerah.

Perserta didik yang mampu mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kehidupannya mampu berkepribadian baik sehingga memiliki kecerdasan IQ dan emosi yang seimbang.

 Peserta didik yang memiliki kecerdasan emosi dapat menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.