PELATIHAN: Kegiatan PKM yang dilakukan secara daring dan diikuti guru-guru se-Kabupaten Gresik. Insert Enny Susiyawati.

TIM yang terdiri dari para Dosesn FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar pelatihan Blended Learning dengan Pendekatan Saintifik untuk Pembelajaran IPA Bagi Guru-Guru SMP Kabupaten Gresik. Mereka adalah Enny Susiyawati, S.Si., M.Pd., M.Sc., Ph.D. (Ketua Tim Pengusul), serta empat dosen  sebagai Anggota Tim Pengusul; Prof. Dr. Erman, M.Pd., Dra. Martini, M.Pd., Ahmad Qosyim, S.Si., M.Pd., dan Dyah Permata Sari, S.Pd., M.Pd.

Kabupaten Gresik berjarak sekitar 20 km dari Kota Surabaya. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di bagian utara, Selat Madura dan Kota Surabaya di bagian timur, Kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto di bagian selatan, dan Kabupaten Lamongan di bagian barat. Pemerintah Kabupaten Gresik mengatakan bahwa disektor Pendidikan Kabupaten Gresik tercatat memiliki sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan mulai jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Jalur pendidikan formal, informal, dan nonformal juga tersedia di kabupaten ini. Bahkan, sekolah-sekolah bernuansa Islam dan pondok pesantren banyak didirikan sehingga Kabupaten Gresik juga dikenal sebagai Kota Santri.

Adanya pandemi COVID-19 sejak tahun 2020 maka diberlakukan penyesuaian kebijakan pelaksanaan pembelajaran yakni Kabupaten Gresik dan daerah-daerah lain di Indonesia yang berada pada zona oranye dan merah meniadakan pembelajaran tatap muka selama pandemi COVID-19. Semua sekolah  di Kabupaten Gresik melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara daring (online) sejak tahun 2020. Tidak terkecuali sekolah di SMP di Kabupaten Gresik yang melaksanakan kegiatan belajar mengejar secara online.  Wahana Visi Indonesia mencatat, 11% peserta didik merasa terbebani dengan banyaknya tugas yang diberikan guru karena kurangnya pendampingan dari guru maupun orang tua. Permasalahan selama BdR tidak hanya dialami peserta didik, tetapi juga guru dan orang tua.

Walaupun pembelajaran daring menyebabkan berbagai kendala, pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran tidak bisa dihindarkan. Perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut guru dan peserta didik memiliki kecakapan teknologi. Salah satu solusi untuk permsalahan ini adalah blended learning. “Apakah Blended Learning itu?”, Blended learning juga dikenal dengan istilah hybrid learning, multi-mode learning, mixed-mode learning, flexible learning, atau integrated learning. Manfaat Blended Learning yakni meningkatkan kolaborasi dengan memungkinkan peserta didik atau guru yang berjauhan dapat melakukan kolaborasi secara daring, meningkatkan fleksibilitas sehingga peserta didik belajar kapan saja dan dimana saja, meningkatkan interaksi antara guru dan peserta didik maupun antar peserta didik tidak hanya terjadi secara tatap muka, meningkatkan hasil belajar dengan adanya keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran sehingga hasil belajar peserta didik juga dapat meningkat, meningkatkan keterampilan IT peserta didik untuk terampil menggunakan berbagai teknologi yang sangat penting dalam abad digital ini, meningkatkan kemandirian peserta didik untuk belajar secara mandiri kapan saja dan dimana saja. Aspek pedagogi juga tidak dapat diabaikan selain komponen teknologi. Tanpa pengetahuan di bidang pedagogi, desain blended learning tidak dapat mendukung tujuan pembelajaran yang diharapakan

Berdasarkan hasil wawancara, beberapa orang guru SMP di Kabupaten Gresik menyatakan bahwa mereka kurang paham mengenai blended learning. Guru-guru tersebut juga mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh yang mereka lakukan umumnya hanya berbasis pemberian tugas. Tatap muka secara daring jarang dilakukan oleh guru-guru selama pandemi karena beberapa alasan. Alasan tersebut meliputi ketidakterampilan guru dalam menggunakan media pembelajaran daring, ketidakstabilan koneksi internet di daerah tersebut, dan ketidakmampuan peserta didik membeli perangkat yang mendukung pembelajaran daring seperti smartphone atau laptop. Maka dari itu, dosen-dosen Jurusan IPA, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya bermaksud berpartisipasi untuk mengatasi permasalah tersebut melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Adapun fokus kegiatan PKM ini adalah untuk membantu guru-guru IPA SMP Kabupaten Gresik dalam memahami blended learning dan terampil merencanakan pembelajaran menggunakan blended learning dengan pendekatan saintifik.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru-guru IPA SMP Kabupaten Gresik perlu mendapatkan pelatihan blended learning dengan pendekatan saintifik untuk pembelajaran IPA. Melalui pelatihan tersebut, guru-guru tersebut diharapkan memperoleh pengetahuan terkait blended learning dan terampil merancang pembelajaran yang sesuai dengan blended learning untuk mata pelajaran IPA. Pengetahuan dan keterampilan tersebut diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme guru, terutama kompetensi pedagogik. Manfaat dengan adanya kegiatan pelatihan bagi guru IPA SMP Kabupaten Gresik ini, diantaranya yakni: pertama, menambah wawasan dan pemahaman guru-guru terkait blended learning untuk pembelajaran IPA akan bertambah.

Pengetahuan tersebut merupakan bekal bagi guru-guru tersebut agar dapat melakukan variasi dalam pembelajaran IPA sehingga pembelajaran tidak monoton dan hanya berfokus pada beberapa model pembelajaran. Kedua, Guru-guru menjadi   terampil   merancang   pembelajaran IPA   menggunakan blended learning dengan pendekatan saintifik. Keterampilan tersebut sangat diperlukan guru-guru untuk dapat menciptakan pembelajaran yang optimal. Dengan rencana pembelajaran yang matang, guru akan mampu mengevaluasi keefektivan pembelajaran menggunakan blended learning dengan pendekatan saintifik berdasarkan karakteristik peserta didik maupun ketersediaan sarana dan prasarana.

Pada penutupan pembahasan ini disajikan bagaimana tahapan pelatihan blended learning dengn pendekatan saintifik untuk guru SMP di Kabupaten Gresik. Pada kegiatan pelatihan ini yang dimulai dari penilaian awal, pemaparan materi, workshop sampai dengan penilaian. Pertama, penilaian awal dilaksanakan sebelum kegiatan pelatihan dengan menyebarkan instrumen tes kepada guru-guru peserta pelatihan. Tes tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi akurat tentang pengetahuan awal guru- guru peserta pelatihan terkait blended learning dengan pendekatan saintifik. Kedua, setelah kegiatan penilaian awal, guru-guru peserta pelatihan memperoleh paparan materi tentang blended learning dengan pendekatan saintifik dari tim ahli. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan atau memperkuat pemahaman guru-guru tentang blended learning dengan pendekatan saintifik.

Ketiga, dilakukan workshop sehingga guru-guru diminta untuk mengimplementasi pengetahuan yang diperoleh selama paparan materi dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan blended learning dengan pendekatan saintifik untuk mata pelajaran IPA yang diampu. Keempat, validasi RPP yang telah dikembangkan oleh guru-guru tersebut selama workshop oleh tim ahli. Pada kegiatan validasi ini, tim ahli memberikan saran dan komentar untuk perbaikan RPP yang telah dikembangkan oleh guru-guru. Kelima, Revisi. Guru-guru peserta pelatihan diminta untuk merevisi RPP yang telah mereka kembangkan sesuai saran dan komentar tim ahli pada saat kegiatan validasi. Yang terkahir, dilakukan penilaian akhir dengan tes terkait blended learning disebarkan kembali kepada guru-guru peserta pelatihan untuk mengetahui peningkatan pemahaman mereka terkait blended learning. bbs

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry