
LAMONGAN | duta.co – Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, mengeluhkan tersendatnya pasokan air bersih.
Warga menduga, air PDAM dialihkan untuk kepentingan salah satu perusahaan, sehingga debit air yang mengalir ke sambungan rumah (SR) melemah bahkan sering tidak sampai.
Kondisi ini mulai dirasakan warga sejak setahun terakhir, tepatnya setelah adanya pengambilan air menggunakan mobil tangki tronton berkapasitas puluhan ribu liter oleh pihak perusahaan.
Aktivitas itu disebut berlangsung hampir setiap hari pada pagi sekitar pukul 09.00 WIB, siang pukul 13.00 WIB, hingga malam hari sekitar pukul 21.00 WIB.
“Air ke rumah sering tersendat. Kalau pun ada, biasanya baru mengalir dini hari dan itupun kecil sekali. Yang punya tandon masih bisa menampung, tapi kalau tidak ya kesulitan sekali. Kami sudah menyampaikan keluhan ini ke Pemerintah Desa Bakalanpule agar diteruskan ke PDAM,” ujar salah satu warga, Selasa (19/8/2025).
Menanggapi hal itu, Plt Direktur PDAM Lamongan, Syahril Lalu, menjelaskan bahwa distribusi air sempat terganggu akibat perbaikan jaringan yang dilakukan oleh PT Air Bersih Jatim (Perseroda), BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Memang benar minggu lalu ada kegiatan perbaikan, dan sudah kami umumkan kepada pelanggan. Berdasarkan surat PT Air Bersih Jatim tertanggal 6 Agustus 2025, perbaikan kebocoran pipa JDU 600 mm di Jalan Raya Tumpak, Dusun Ngabar, Kecamatan Gedeg, Mojokerto, mengalami keterlambatan penyelesaian. Karena kendala teknis, penghentian distribusi diperpanjang hingga 7 Agustus 2025. Setelah pekerjaan selesai, distribusi kembali normal,” jelasnya.
Terkait pasokan air ke industri, termasuk PT Bumi Menara Internusa (BMI), Syahril menegaskan bahwa mekanisme pengambilan air tetap menggunakan meteran yang ditera secara presisi, sesuai ketentuan Peraturan Bupati Lamongan.
“Pengambilan air oleh perusahaan diatur pada jam tertentu, biasanya saat beban pemakaian masyarakat rendah, seperti malam hari. PDAM juga melayani kebutuhan industri karena vital, tapi prioritas utama tetap pelanggan rumah tangga,” pungkas Syahril. (ard)




































