JOMBANG | duta.co – Pagi itu, aula Kantor Urusan Agama (KUA) Peterongan tak sekadar menjadi ruang administrasi. Di bawah lampu yang temaram dan meja-meja kayu sederhana, 16 pasangan calon pengantin duduk berdampingan. Mereka bukan sedang mendaftarkan pernikahan, melainkan sedang menanam harapan.

Salah satu pasangan, sebut saja bernama Nur Huda dan Maulidatur Rohmah, tampak saling mencatat dan sesekali tersenyum satu sama lain. “Kami datang ke sini bukan hanya untuk menikah, tapi untuk belajar menjadi keluarga,” kata Nur Huda, sambil menggenggam tangan calon istrinya. Selasa (17/6).

Kegiatan Bimbingan Pra Nikah ini adalah hasil kolaborasi antara LKKNU PCNU Jombang dan Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Tapi lebih dari itu, ini adalah ruang aman di mana dua anak manusia mempersiapkan masa depan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk anak-anak yang belum lahir, dan untuk masyarakat tempat mereka tinggal.

Belajar Mencintai dalam Bentuk yang Paling Nyata

Ketua LKKNU, Ning Beghum, mengatakan kegiatan ini bukan hanya memenuhi kewajiban administratif. “Pernikahan itu ibadah panjang. Harus disiapkan bukan hanya secara jasmani, tapi juga batin, emosi, komunikasi, dan ekonomi,” ujarnya lembut, seolah sedang menasihati anak-anaknya sendiri.

Materi yang diberikan mencakup komunikasi pasangan, pengelolaan keuangan rumah tangga, hingga menjaga kesehatan reproduksi. Namun yang paling menyentuh, menurut peserta, adalah ketika dibahas soal bagaimana menyelesaikan konflik dengan cinta, bukan amarah.

“Saya baru tahu, ternyata membangun keluarga itu bukan soal siapa yang menang berdebat. Tapi siapa yang lebih ingin menjaga,” kata Maulidatur, matanya berkaca-kaca.

Keluarga: Titik Awal Peradaban

Salah satu pemateri, Ning I’anul Mufarikhah, Lc., M.Pd.I, menyampaikan bahwa banyak pernikahan kandas karena pasangan tidak memiliki keterampilan dasar hidup bersama. “Cinta itu penting, tapi tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah ilmu, sabar, dan kemampuan mengelola perbedaan,” jelasnya.

Di tengah maraknya perceraian, kegiatan ini menjadi semacam penyelamat sunyi. Plt. Kepala KUA Peterongan, Jaenal Fanani, S.Th.I, bahkan menyebutnya sebagai benteng terakhir sebelum seseorang melangkah ke kehidupan rumah tangga. “Dulu orang menikah dengan modal cinta. Sekarang cinta saja tidak cukup. Harus ada pengetahuan dan kesadaran,” ujarnya.

Cinta yang Dipelajari, Cinta yang Tumbuh

Di akhir kegiatan, para pasangan terlihat lebih hangat satu sama lain. Ada pelukan, ada tawa, dan ada air mata yang jatuh diam-diam. Tidak ada janur kuning atau pesta mewah. Hanya niat baik, ilmu yang bertambah, dan doa yang bergema dalam hati.

Bagi LKKNU dan Kemenag Jombang, kegiatan ini bukan akhir, tapi awal. Awal dari harapan bahwa generasi muda bisa membangun keluarga yang kuat, sabar, dan penuh kasih. Sebuah keluarga yang tak hanya jadi tempat pulang, tapi juga tempat bertumbuh.

Dan di aula kecil itu, di antara lembar kerja dan materi presentasi, cinta sedang belajar tumbuh dalam bentuknya yang paling hakiki: kesiapan untuk berjuang bersama. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry