Suasana Seminar Nasional, tampak Drs H Choirul Anam (paling kiri), Ketua Lesbumi PBNU, KH Agus Sunyoto, Moderator Seminar, Prof M Mas'ud Said, PhD dan Prof Dr KH Tholchah Hasan. (FT/DUTA.CO/RIDHO)

SURABAYA | duta.co – Drs H Choirul Anam, sejarawan Nahdlatul Ulama (NU) mengatakan, bahwa, pemerintah sesungguhnya sudah memiliki banyak data, lebih dari cukup untuk menetapkan KH Masjkur sebagai Pahlawan Nasional. Jejak perjuangannya melawan penjajah sampai pasca kemerdekaan tak bisa ditutupi oleh siapa pun.

”Tanpa diusulkan, pemerintah seharusnya (berkepentingan) menetapkan Kiai Masjkur sebagai Pahlawan Nasional. Kalau tidak, kebacut. Beliau pertaruhkan harta dan nyawa demi agama, bangsa dan negara,” katanya di sela-sela Seminar Nasional ‘membongkar’ Jejak Perjuangan Kiai Masjkur sebelum dan setelah kemerdekaan RI di Graha Astranawa Gayungsari Timur Surabaya, Kamis (7/12/2017).

Menurut Cak Anam, panggilan akrabnya, tahun 70-an, ketika dirinya menulis perjuangan para kiai, nama Kiai Masjkur selalu ada dalam posisi strategis, termasuk dalam Resolusi Jihad pertempuran 10 November 1945 yang sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Hal yang sama disampaikan Prof Dr KH Muhammad Tolchah Hasan. Menurut Kiai Tholchah, sebagai pendiri dan Komandan Laskar Sabilillah, nama KH Masjkur tak bisa dipisahkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia. Kiprahnya dalam membela tanah air tak perlu diragukan lagi.

“Sebenarnya terlambat kalau baru sekarang diusulkan nama Kiai Masjkur sebagai Pahlawan Nasional. Karena pemerintah sendiri sudah memiliki banyak data untuk itu. Tetapi kalau ini sebagai syarat, ya…, tidak apa-apa,” demikian Kiai Tholchah saat menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri ratusan peserta dan berbicara banyak perihal kiprah dari tokoh kelahiran 30 Desember 1899 di Singosari Malang tersebut.

Periode perjuangan kemerdekaan menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia terutama bagi kalangan pesantren. Sebab kalangan pesantren menjadi bagian dari simpul-simpul perlawan terhadap segala bentuk penjajahan.

Salah satunya ditandai dengan Fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 oleh KH Hasyim Asy’ari untuk memerangi penjajah pada 10 November 1945 hingga agresi militer II pada akhir tahun 1948 dan pertengahan 1949.

Dalam sejarah perjuangan tersebut, baik pada saat sidang BPUPKI-PPKI, perlu diingat nama KH Masjkur bersama para kiai mendirikan Laskar Sabilillah untuk memerangi penjajah dan, ini memberikan sumbangsih besar dalam perjuangan kemerdekaan, seperti yang dilakukan Laskar Hizbullah dan Laskar Rakyat.

“Kiai Masjkur pendiri Laskar Sabilillah dan komandanya, jadi beliau yang mengirim Laskar Sabilillah dari Malang pada tanggal 9 November 1945, kemudian tanggal 10-11 terjadi pertempuran di Surabaya,” ungkapnya.

Kai Tholchah bercerita, perjuangan yang dapat dilihat dari sosok beliau ialah berjuang untuk agama, bangsa dan negara yang dimulai sejak dari masih muda. Beruntung Kiai Masjkur berasal dari keluarga kaya, sehingga tidak kehabisan biaya untuk berjuang.

“Beliau itu berjuang dengan pikiran, tenaga dan uang, itu sampek tua terus dilakukan. Di samping itu uangnya banyak sekali digunakan untuk mendirikan sekolah,” ujar Pembina Yayasan Sabilillah Malang ini.

Hebatnya lagi, lanjut Kiai Tholchah, jika  ada masalah nasional, pemuda zaman dulu dipanggil untuk diajak diskusi untuk dimintai pendapat. Karena itu, Kiai Masjkur dapat disebut sebagai pemimpin yang egaliter. “Pemimpin  kayak itu tidak banyak,” jelasnya serius.

Kiai Masjkur juga bergerak aktif dalam pemberantasan korupsi. Ketika jatuh bangun lembaga korupsi dalam kepemimpinan Presiden Soekarno, beliau bergerak dalam Komando Tertinggi Retooling Aparatur (Kotrar) pada (1962-1966), sebuah lembaga antikorupsi bentukan Presiden Sukarno.

Di samping itu, keilmuan agamanya tak diragukan lagi. Waktu kecil KH Masjkur pernah nyantri dibanyak pondok pesantren, salah satunya Ponpes Sono Buduran Sidoarjo, Mangunsari Nganjuk, Tebuireng Jombang, pesantren Bangkalan dan lainnya.

Namanya juga tercatat sebagai tokoh dari kalangan Islam mewakili NU ikut mendirikan Pembela Tanah Air (PETA)  di Jawa (1943-1945), anggota pengurus latihan kemiliteran Cisarua (1944-1945), Anggota BPUPKI-PPKI (1944-1945), Pimpinan Dewan Harian Nasional Angkatan Darat 45 (1976-1994), Dewan Pertahanan Negara (1946-1948) Menteri Agama RI (1948-1950).

Selain itu, Kiai Masjkur ikut serta menginisiasi pendirian lembaga pendidikan seperti Universitas Islam Indonesia (1948-1955), Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (1977-1994), Universitas Islam Malang (1980-1994) dan masih banyak lagi.

Namun sayang, dengan berjalannya waktu jasa dan peranan penting Kiai Masjkur mulai redup dan jarang diperbincangkan secara khusus. Dengan alasan tersebut, Yayasan Sabilillah Malang dan Pengurus PCNU Kota Malang bersama elemen masyarakat  sepakat untuk mengusulkan Kiai Masjkur sebagai Pahlawan Nasional. (azi)

Tinggalkan Balasan