Gus Isfandiari (Keterangan Foto aksarakata.com)
“Tapi ingatlah, jika semua tingkah konyol ditanggapi diam, dingin, senyap seolah tak peduli,  maka waktunya tak lama lagi, ‘bom waktu’ yang akan segera meledak.”
By Isfandiari MD

PEJABAT sekarang  tak peka situasi,  gagal berpikir jernih, tak punya empati, suka sakiti hati rakyat, tidak strategis, hedonis. Contohnya berserakan. Simak moment bukber  Sekda Sidoardjo ala Bollywood megah- ekstravaganza.  Temanya tidak nyambung buat ukuran administrator negara. Bayangkan, konsep, vibes lifestyle orang kaya India, berbaju ala India, makanan India lengkap ornamen mirip setting film produksi Hindi. Diukur dari kemewahannya makin absurd, dipertontonkan ditengah rakyat susah yang harusnya di tenangkan lewat empati. Ujung-ujungnga minta maaf, berkilah tidak pakai dana APBD dan galakkan UKM setempat.

Sebelumya ramai menyoal mobil mewah Gubernur Kaltim ke-11, DR. H.  S.E., M.E Rudy Mas’ud.  Alasannya agar pantes wakili gengsi warga Kaltim, berseka, pamer sekalian taklukan jalanan ekstrem. Pikiran pejabat kelahiran 1981 ini,  jalan rusak berat di atasi dengan hadirnya mobil mewah nyaman redam goncangan. Keliru! Semewah dan secanggih apapun, tak akan bisa redam goncangan. Pasalnya ini  bukan goncangan dari jalan menuju kabin, tapi goncangan caci maki  rakyat, warga sendiri,  orang se-Nusantara, sampai yang  mukim-giat di luar negeri. Sama,  ujung-ujungnya minta maaf. Sudah terlambat, building character sebagai pemimpin runtuh,  raportnya merah, tak hanya kinerja, tapi empati dan etika standar.

Kejengkelan belum sirna, muncul rencana pembelian meja billiard harga Rp 486 jutaan, giat hebat  DPRD Sumatra Selatan untuk pimpinannya. Kalaulah cari-cari alasan, olah raga  billiard perlu agar pejabat fokus tepat sasaran dan latihan memantulkan program supaya bisa dinikmati rakyat banyak?  Itu kalau perlu bahan ngeles cari alasan.  Ujungnya sama, setelah rame jadi gunjingan, rencana pembelian dibatalkan bukan dominan sadar diri, tapi tekanan publik.

‘Mungkin’ ada juga sesuatu perlu, wajib dianggarkan tapi idealnya jangan diumbar. Contoh kasus, Kuda robot  Simulasi Polri, beberapa unit harga miliaran. Peranti berbentuk kuda ini  bisa lari santai, ekstrem bahkan lompat. Semua aktivitas ada di layar lebar depan alat, sama seperti mainan anak-anak di mall-mall hanya lebih mulia tujuannya. Polisi berkilah buat menunjang latihan operasional lapangan, terlengkap di Indonesia, ada di direktorat Satwa Korsabhara Badan Pemelihara Keamanan Polri.  Netizen  analisa. Bukannya lebih baik pake kuda beneran? Kuda mahluk bernyawa, ia harus bonding dengan penunggangnya, program yang pas kuda  dibiakkan secara efisien buat kepentingan polisi. Berlatih dengan mereka, bak koboi di era wild wild west.  Makin bijak, pekerjakan  para ahli kuda warga Sumba dan sekitarnya. Minta ilmu cara bercengkrama dengan kuda.   Mau lebih simpel? Belajarlah ke Presiden Prabowo,  beliau paham seluk beluk dunia perkudaan.

Kalau boleh optimis, semua bisa termaafkan siring berjalannya waktu. Apalagi Insan Indonesia rata-rata baik, pemaaf dan gampang lupa. Mereka terbiasa pada ulah konyol pejabat, lifstyle hedon, retorika gak jelas, program salah sasaran bahkan korupsi. Palingan minta maaf di publik atau hukuman ala kadarnya jika terbukti melanggar. Terjadi berulang-ulang membuat publik kebal. Publik yang reaktif, semangat  menkritisi di medsos belumlah tanda bahaya. Tapi ingatlah, jika semua tingkah konyol ditanggapi diam, dingin, senyap seolah tak peduli,  maka waktunya tak lama lagi, ‘bom waktu’ yang akan segera meledak.  Wajib ada percepatan  mengatasi.  Jangan lagi pekerjakan pejabat berhati bengis, pimpinan tertinggi bangsa wajib tegas dan membaca pertanda zaman ini. Itu juga kalau mau selamat menjelang hadirnya golden age, generasi Emas 2045 nanti.Semoga!

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry