JAMASAN : Calon Bupati Lamongan, Ir. Suhandoyo saat mengikuti acara Jamasan Keris Pusaka Lamongan Mbah Jimat, di Pendopo Mbah Jimat (duta.co/ardhy)

LAMONGAN | duta.co – Bentuk kepedulian untuk selalu melestarikan “Ngleluri” adat budaya jawa, Calon Bupati Lamongan 2020 Ir. Suhandoyo mengikuti acara rutin tahunan ” Jamasan Keris Pusaka Lamongan Mbah Jimat” yang diadakan di Pendopo Jimat jl. Sunan Giri, Gg Pusaka No 10 Lamongan.

Suhandoyo mengatakan, kegiatan yang selalu rutin dilakukan setahun sekali ini merupakan sebuah keyakinan masyarakat Lamongan, bahkan juga dijadikan sebagai Lambang Kabupaten Lamongan. Maka tentu budaya-budaya yang ada tetap kita lestarikan dan kita bina pada titik yang tidak bersinggungan keyakinan yang lain.

” Insya Allah akan terus kita lakukan, siapa pun boleh untuk selalu mendengarkan apa yang menjadi pembelajaran bagi kita semua. Adanya pembinaan dimana Mbah Jimat ini punya perhatian bagi kita semuanya,” ujar Suhandoyo di lokasi acara, Jumat (31/7/2020).

Menurut dia, pemerintah harus punya perhatian secara khusus maka tidak terlalu berat apabila jika kedepannya memperhatikan hal-hal seperti ini. Kebetulan pihaknya sendiri pernah tinggal di Groyok Gang Pusaka ini selama 3 tahun pada tahun 80-an.

” Saya tahu persis bagaimana sejarah dari pada Mbah Jimat ini, memang merupakan bagian dari cikal bakal terbentuk Kabupaten Lamongan dimasa itu. Yakni dimasa Tumenggung Surojoyo Ronggo Hadi,” terangnya.

Selain itu, kata dia, Mbah Ronggo Hadi sendiri memiliki hubungan kedekatan dengan wilayah Gondang Sugio, yakni Mbok Rondo Gondang juga ada kedekatan dengannya, khususnya di Dusun Cancing Desa Sendangrejo tempat kelahirannya. Dan itu juga tempat kelahiran Mbah Ronggo Hadi.

Kasi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan Edi Suprapto mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik kegiatan seperti ini karena ini sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.

” Warisan budaya seperti ini Jamasan Pusaka Mbah Jimat jangan sampai hilang, perlu kita lanjutkan tradisi seperti ini. Nanti kita koordinasikan dengan atasan dulu. Barangkali ada kegiatan lebih sakral lagi, bukan hanya sekedar seperti ini saja,” ujarnya.

Saat ditanya, adakah kontribusi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan atas diadakannya kegiatan acara Jamasan Keris Pusaka Mbah Jimat, Dia mengatakan, barangkali nanti kantor bisa membantu kegiatan ini supaya lebih baik lagi.

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Moch Nafis menambahkan, bahwa pusaka ini mempunyai nilai historis yang sangat luar biasa, yaitu mengenai perkembangan sejarah Islam di Lamongan khususnya pada masa Kesultanan Giri Kedaton.

” Semoga acara seperti ini bisa terus terlaksana, kami dari Lesbumi mengucapkan banyak terima kasih. Semoga Lamongan tetap berjaya, dan banyak yang memperhatikan sejarah dan kebudayaan di Lamongan,” tutur Moch Nafis.

Senada, Bambang warga setempat mengungkapkan, kegiatan Jamasan Pusaka Mbah Jimat ini yang menjadi simbol Lamongan, untuk mengenang sejarah pusaka Lamongan, karena peninggalan dari mbah-mbah yang terdahulu.

” Penjamasan biasa dilakukan di bulan Suro, suatu moment yang baik sekali, dan hal ini harus dilestarikan, kegiatan ini jangan sampai menyembah kepada pusaka, tetapi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT diberikan kesehatan, keimanan, ketaqwaan dan juga untuk menguri-uri budaya lama,” ungkapnya.

Dia mengatakan, akan tetapi tetap jangan sampai lepas keimanan kita kepada Allah SWT. Mintalah selalu kepada Yang Kuasa, jadi tidak boleh bersifat musryik atau sirik disini.

Sejarahwan Lamongan Drs. Achmad Chambali menjelaskan, Penjamasan biasanya dilakukan saat tanggal 1 Suro/ Muharram, tapi khusus untuk pusaka Mbah Jimat ini dilakukan saat tanggall 10 Dzulhijjah, secara spiritual.

“ Itu grebek besar di Giri Kedaton, kalau Jumat Legi ikut Demak. Terus kalau Suro-an itu aliran Syi’ah. Untuk jamasan itu setahun sekali, ada satu yang menjadi pusaka Lamongan,” katanya.

Dia menuturkan, satu pusaka yang menjadi simbol Lamongan itu peninggalan Kanjeng Pangeran Aryo Jimat, itu teman santri tiga orang Ronggo hadi, namanya belum ketemu. Terus Mbah Goliah Sabilan Mantup, mbah Kanjeng Aryo JImat yang makamnya di Gunung Candi Siwa Mantup, tepatnya pasar Mantup kearah barat.

” Kanjeng Pangeran Aryo Jimat itu kelahiran Tanjung dekat SMAN 3 Lamongan grumbul babrik. Terus jadi Bupati di Pacitan selama kurang lebih setahun. Kemudian di serang amangkurat. Kemudian pulang dijadikan demang di lengkir,” jelasnya.

Pusaka Mbah Jimat, sambungnya, itu luk nya tujuh pamornya ular korowelang. Kembarannya di Pacitan Gunung Giri Sampurno disebut Kanjeng Jimat. Jamasan itu untuk membersihkan peninggalan-peninggalan.

” Kalau dulu diutamakan pengisian pusaka tersebut supaya ada khodamnya, ghoib atau makhlus halus melalui api. Jin kan api, sekarang api ini bersifat untuk pengeringan setelah di beri dedak dan dibasahi. Intinya penjamasan itu dimandikan dari kerak-kerak yang mengotori pusaka,” urainya.

Dia mengungkapkan, dulu tahun 1964 ujungnya terdapat bercak darah. Sebuah isyarat waktu itu, ternyata kemudian ada peristiwa pembunuhan G 30 S/PKI ditahun 1965. Pusaka Mbah Jimat itu ujungnya keris berluk tujuh landaiannya di Gondang. Keris ini tidak sembarang orang yang pernah memegang. ard

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry