Ada yang menyebutnya lebay. Bukankah sudah ada rambu dan polisi lalu lintas? (FT/Youtube)

SURABAYA | duta.co – Gaya Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menuai kritik banyak pihak. Risma dinilai sok hebat, karena menyindir Khofifah-Emil sok pintar, tidak mau mendengar, tidak mau melayani, tidak amanah seperti Puti. Seperti menepuk air di dulang, sindiran Risma ini, justru memercik muka sendiri.

“Padahal, sebagai orang Surabaya, saya merasakan bobroknya layanan publik Pemkot Surabaya. Urusan akte saja, saya harus menunggu berminggu-minggu, harus bolak-balik ke Dispendukcapil. Sudah begitu, ternyata alamat saya Banyuwangi, padahal saya tidak pernah punya KTP Banyuwangi,” kata salah seorang warga di Gayungsari, Surabaya kepada duta.co, Rabu (13/6/2018).

Selain soal layanan publik, warga Surabaya juga muak dengan gayanya yang penuh pencitraan. Misalnya, Risma pernah viral mengatur lalu lintas. Seperti Video yang terdapat di akun Instagram @fakta.indo, dikesankan Risma dengan ‘cekatan’ mengatur lalu lintas di salah satu perempatan di Surabaya, Jawa Timur.

Aksi Risma ini  mengundang banyak perhatian netizen. Ada yang menyebutnya sebagai pencitraan, bahkan lebay, sebab di setiap titik (perempatan) arus lalu lintas sudah terpasang rambu. Beberapa netizen ada yang menganggap Risma melakukan pencitraan yang sempurna dan bahkan disebutnya lebay.

@ariesr71 di tribunwow.com mengomentari: Memberi contoh? Kayanya ini bukan memberi contoh, tapi pencitraan, alias ingin dilihat orang kalo dia pemimpin yang rela turun ke jalan, pemimpin yang doyan marah-marah, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang menjaga tutur kata dan bahasanya, dan tidak marah mengumbar emosi.

Lalu komentar @purlistyono: Itu satlantas pada kemana Bu? sampai-sampai walikotanya turun tangan mengatur lalu lintas. @buyung011: Lebaay, apa fungsi satlantas kalau ngatur jalan juga dia kerjakan? Belum percaya kinerja anak buah ya, sampe segitunya. @bang_jun_94: Iya juga sih, tapi menurut saya kalau sampai mengatur lalu lintas terlalu berlebihan.

“Saya kira semua tahu, bahwa Walikota Surabaya ini penuh pencitraan. Karena itu ketika nyinyir terhadap bu khofifah, semua orang akhirnya bicara,” kata H Ali Azhar yang akrab dipanggil Gus Ali kepada duta.co, Rabu (13/6/2018).

Soal pencitraan ini juga pernah disampaikan politisi Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) Jawa Timur, Jatim Bambang DH. Mantan Walikota Surabaya dua priode tersebut bahkan keras menuding, kinerja Risma tak lebih dari sekadar pencitraan.  “Bukan pencitraan atau mengejar popularitas saja, hasil kerjanya bahkan tidak nyata,” ujar Bambang, Selasa (3/9/2014) lalu.

Bambang mengaku merasa gregetan dengan sepak terjang Risma yang banyak mengklaim keberhasilan pembangunan di Surabaya. Padahal, menurut Bambang, banyak proyek berhasil di Surabaya tidak lepas dari prakarsanya semasa menjabat Walikota dulu.

Bambang mencontohkan, Risma terlalu arogan mengklaim keberhasilan pembangunan taman-taman di Surabaya. “Taman itu sudah dirintis sejak 2003, saat Risma belum menjadi apa-apa. Saat saya menjabat 2003, saya bongkar belasan SPBU yang berdiri di jalur hijau, saya jadikan taman,” ujar dia saat itu. (zal)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.