TETAP MERDEKA: Suasana pertemuan PWNU dan PCNU se-Jatim di Ploso. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Baru saja beredar berita, bahwa, pertemuan Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa Timur kompak menjalankan perintah kiai-kiai sepuh mendukung KH Miftachul Akhyar (Kiai Mif) sebagai Rais Aam PBNU dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjadi Ketua Umum PBNU, kini sudah terbantah.

“Tidak benar. Tidak ada sama sekali (dalam pertemuan itu) bahasan soal kandidat. Apalagi mengamankan dawuh kiai sepuh. Yang benar pertemuan itu untuk mengatur teknis agar peserta dari Jawa Timur bisa berjalan efektif. Itu saja,” demikian salah seorang Ketua PCNU di Jawa Timur kepada duta.co, Rabu (15/12/21).

Sebelumnya, beredar berita, bahwa, PW dan PCNU sepakat mendukung duet Kiai Mif dan Gus Yahya. “Kami mengamankan dawuh kiai sepuh untuk mendukung dan mengusung KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU,” demikian Gus Salam, sapaan akrab KH Abdussalam Shohib dikutip Antara, di Kediri, diunggah mediaindonesia.com, Selasa (14/12).

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdussalam Shohib, menjelaskan pertemuan itu adalah konsolidasi terakhir menjelang Muktamar NU di Lampung. PCNU se-Jatim diundang dalam acara di Pondok Pesantren Al Falah Putri, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Gus Salam mengatakan bahwa dukungan pada sosok tersebut sebenarnya sudah lama, bahkan sudah dikeluarkan SK PWNU yang sifatnya mengikat organisasi. Ia menyatakan bahwa pihaknya sudah bulat mengamankan keputusan PWNU Jawa Timur dengan semua PCNU di Jatim.

“Dukungan ini sudah final, sudah lama, bahkan 2 bulan lalu sudah mengeluarkan SK PWNU yang sifatnya mengikat, bulat di Jatim mendukung KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU,” ujar pengasuh Pesantren Denanyar, Kabupaten Jombang ini.

Murni Teknis

Tetapi, sumber duta.co mementahkan klaim tersebut. Menurutnya, pertemuan Ploso itu, tidak  membahas kandidat sama sekali. Pertemuan membahas teknis, seperti pendaftaran, efektifitas di muktamar. “Mengapa? Karena jumlah utusan sangat terbatas, cuma 3 orang. Sementara ada 6 komisi yang harus kita ikuti. Maka, bagaimana caranya seluruh PCNU memiliki kontribusi sama dalam setiap komisi. Lalu, tugas-tugas itu terbagi secara proporsional,” jelasnya.

Dan, soal siapa mau menjadi Rois Aam-Ketum PBNU, tambahnya, tetap ada perbedaan dan itu sah-sah saja. Semua ini ikhtiar dalam rangka menata atau menempatkan sosok yang pas dalam PBNU ke depan. Tentu, agar lebih bagus.

“Kita sudah capek dengan kondisi karut marut. Lihatlah PCNU Surabaya, usulan anggota AHWA (ahlul halli wal aqdi) sudah tidak menyantumkan nama KH Miftachul Akhyar. Artinya apa? Kiai Mif sudah bukan pilihan lagi untuk Rois Aam,” tegasnya.

PCNU Surabaya, seperti beredar dalam media sosial, mengusulkan 9 nama kiai sepuh untuk menjadi ahlul halli wal aqdi, penentu siapa Rois Aam mendatang. Sembilan nama itu: KH Mustofa Bisri (Rembang), KH Ma’ruf Amin (Banten), Habib Luthi bin Yahya (Pekalongan), KH Dimyati Rois (Jawa Tengah, KH Mas Manshur Tholchah (Surabaya), KH Masduqi bin Abdul Ghoni (Surabaya), KH Nurul Huda Jazuli (Ploso, Kediri), KH Anwar Manshur (Lirboyo, Kediri) dan Tuan Guru Turmudzi Badrudin (NTB).

Tanda-tanda Alam

Beredar juga catatan Purwanto M Ali, alumni PMII dan GP Ansor. Ia menulis ANDA-TANDA ALAM GUS YAHYA STAQUF BAKAL GAGAL JADI KETUM PBNU. Tulisan ini beredar luas di medsos nahdliyin. Menariknya, jauh hari, ia sudah membaca, bahwa, PWNU Jatim akan mengumpulkan PCNU guna menyeragamkan dukungan.

“PWNU Jawa Timur akan mengumpulkan PCNU se Jawa Timur dengan dalih sosialisasi teknis Muktamar dan pembagian komisi persidangan, menimbulkan asumsi publik bahwa PWNU Jatim akan melakukan pemaksaan kehendak dan politisasi terhadap PCNU se Jawa Timur. Terrediksi usaha tersebut akan GAGAL TOTAL. Karena mayoritas PCNU sudah berani membangkang terhadap PWNU Jatim. Bahkan, Ketua PWNU Jatim juga sudah terdeklarasi menjadi calon Ketum PBNU,” tulisnya.

Purwanto juga memperoleh informasi sahih, sangat bisa kita percaya, bahwa, secara riil Gus Yahya Staquf hanya mendapat dukungan 5 PCNU saja dari Jawa Timur. Ia juga merujuk PCNU (Surabaya) yang mengeluarkan surat usulan Ahlul Halli Wal Aqdi ( AHWA ), dengan tidak menyebutkan dan mengusulkan KH Miftahul Ahyar.

“Padahal Kai Mif adalah ulama dari kota Surabaya dan pernah memimpin PCNU Surabaya. Artinya, PCNU Surabaya menilai bahwa KH Miftahul Ahyar tidak layak sebagai AHWA. Apalagi menjadi Rais Aam PBNU definitive,” jelasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry