
SURABAYA I duta.co – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026. Di saat yang sama, PBNU memberikan tenggat waktu 7×24 jam kepada dua pengurus cabang NU untuk mengklarifikasi laporan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan riswah.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus Ketua Panitia Resepsi Hari Santri Nasional PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), seusai rangkaian peringatan Hari Santri Nasional yang berlangsung pada Kamis (22/10/2026).
Peringatan Hari Santri tahun ini diisi dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina. Kegiatan tersebut meliputi doa bersama, istighosah, dan penggalangan solidaritas sebagai bentuk kepedulian warga Nahdlatul Ulama (NU) terhadap penderitaan rakyat Palestina.
Gus Ipul menjelaskan, tema kemanusiaan untuk Palestina merupakan tindak lanjut dari keputusan Musyawarah Nasional (Munas) NU. Menurutnya, hubungan NU dengan bangsa Palestina memiliki ikatan historis dan emosional yang kuat sejak masa awal perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Tema tahun ini memang bagian dari hasil Munas, menindaklanjuti keputusan-keputusan Munas. Macam-macam kegiatannya, salah satunya resepsi Hari Santri tahun ini yang sekaligus ada Istighosah dan Doa Kemanusiaan untuk Palestina,” ujar Gus Ipul saat ditemui usai kegiatan.
Ia menegaskan, kepedulian NU terhadap Palestina tidak hanya diwujudkan melalui diplomasi dan pengiriman bantuan kemanusiaan. Doa bersama dalam momentum Hari Santri juga menjadi bentuk dukungan moral bagi masyarakat Palestina yang masih menghadapi situasi sulit.
“Di samping diplomasi dan bantuan kemanusiaan yang dikirim ke sana, malam ini kita mengirim doa sekaligus mengingatkan seluruh warga NU bahwa kita punya saudara yang perlu perhatian, kepedulian, dan bantuan kita,” ungkapnya.
Di tengah rangkaian peringatan Hari Santri, PBNU turut menyoroti persoalan internal organisasi. Gus Ipul menyayangkan langkah dua pengurus cabang NU yang mengadukan dugaan riswah ke KPK tanpa terlebih dahulu melaporkan persoalan tersebut kepada PBNU.
Menurutnya, persoalan yang menyangkut organisasi semestinya diselesaikan dengan mengedepankan mekanisme internal, termasuk melalui tabayun dan klarifikasi. Karena itu, PBNU memberikan waktu 7×24 jam kepada kedua pengurus cabang untuk menyampaikan penjelasan atas langkah yang telah mereka ambil.
“Kami memberikan waktu 7×24 jam kepada dua cabang yang melaporkan terkait isu riswah yang menggunakan uang dari hasil korupsi. Mereka sudah melaporkan ke KPK, tapi belum pernah lapor ke PBNU. Maka itu kita meminta dua pengurus ini segera melapor, melakukan tabayyun dan klarifikasi,” tegas Gus Ipul.
Ia menambahkan, apabila hingga batas waktu tersebut tidak ada penjelasan yang memadai, terlebih jika laporan ke KPK tidak didukung bukti yang cukup, PBNU membuka kemungkinan menempuh jalur hukum terhadap pengurus yang bertanggung jawab.
“Jika tidak ada penjelasan lebih lanjut, apalagi laporan ke KPK tidak disertai bukti yang cukup, maka kita akan menyeret dua pengurus tersebut yang bertanggung jawab ke pengadilan. Sebab apa yang mereka lakukan membawa konsekuensi hukum dan bisa menciderai marwah organisasi,” tambahnya.
Selain langkah hukum, PBNU juga mempertimbangkan sanksi organisasi bagi pihak yang terbukti melanggar ketentuan. Bentuk sanksi tersebut dapat berupa pembekuan kepengurusan cabang hingga pemberhentian pengurus dari jam’iyah sesuai aturan yang berlaku.
“Bisa dibekukan sesuai ketentuan organisasi, pengurusnya yang bertanggung jawab bisa diberi sanksi. Termasuk pencabutan dan pemberhentian tidak hormat dari jam’iyah. Segala kemungkinan masih sangat mungkin terjadi,” ucap Gus Ipul.
Gus Ipul mengajak para santri dan warga Nahdliyin menjadikan peringatan Hari Santri Nasional sebagai momentum memperkuat kecintaan terhadap agama, ilmu pengetahuan, ulama, dan Tanah Air.
Ia menekankan pentingnya meneladani perjuangan para kiai dan ulama terdahulu yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa. Semangat tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda NU agar mampu memahami persoalan secara bijaksana dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.
“Semangatnya adalah meneladani para ulama dan kiai yang telah mengorbankan jiwa raga untuk memerdekakan bangsa. Kita ingin mengajak anak-anak muda di lingkungan NU untuk memahami situasi dengan baik dan bisa bersikap seperti para ulama yang mencintai ilmu, mencintai ulama, sekaligus mencintai negeri ini,” pungkasnya. (zi)




































