Keterangan foto detik.com dan Gus Qomar (kanan/ftIst)

SURABAYA | duta.co — Sungguh prihatin menyaksikan konflik di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang tak kunjung selesai. Bukan soal masalahnya, melainkan bertapa vulgar pertempuran itu dibaca umat, baik di media sosial maupun di media mainstream.

“Menyaksikan Rais Aam (KH Miftachul Akhyar red) membaca (sendiri) pernyataan pers, hati ini terasa sedih. Sebegitu parahkah masalah ini? Bukankah setiap masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Yakin bukan masalah tambang,” demikian komentar warga nahdliyin di medsos, terbaca Duta Masyarakat, Minggu (30/11/25).

Jagat ‘media’, khusus medsos, memang sering tidak lagi fair.  Artinya warga nahdliyin tidak perlu ‘termakan’ informasi yang belum tentu untuk kebaikan NU. “Terutama Medsos (media sosial), ada yang ‘aji mumpung’ berharap NU hancur. Mereka membuat narasi seenaknya, bakar sana, bakar sini. Karena itu, sebagai nahdliyin, kita berharap PBNU harus segera time out, jeda sebentar. Tidak saling komentar,” tegasnya.

Seperti diunggah @almuallimcenter 28 Nov 2025, yang sudah ditonton 8,6 ribu orang. Judulnya sangat mengerikan: ‘Empat Orang Petinggi PBNU Terancamn Pidana Penjara’. Lalu dibawahnya dijelaskan, empat orang itu adalah Gus Yahya (Ketum PBNU),  Gus Yaqut Mantan Ketua Umum GP Ansor Pusat, Gus Ipul mantan Sekjend PBNU dan Gus Fahrur, Wakil Ketua PBNU.  “Jangan mudah terprovokasi. Warga nahdliyin harus tenang,” demikian komentar warga NU.

Gus Qomar, warga NU Malang, kepada Duta Masyarakat, mengatakan, bahwa, dirinya akan ziarah ke makam Mbah Hasyim, di Tebuireng, Jombang. “Saya madul, mengadu kepada Allah SWT. dan (yakin) didengarkan oleh Mbah Hasyim, Gus Dur, termasuk Ibu Saya, mohon kepada Allah SWT untuk segera diberi jalan keluar, agar masalah PBNU ini segera selesai,” tukasnya, Minggu (30/11/25).

Prof Rochmat Wahab, tokoh NU DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), juga keluarga Mbah Wahab (almaghfurlah KH Wahab Chasbullah red) Tambakberas, Jombang, kepada Duta Masyarakat, menegaskan, bahwa dirinya sangat yakin masalah ini akan memperoleh jalan keluar terbaik. “Kami sangat yakin akan ada jalan keluar. Perlu ada kejujuran, perlu ada inisiatif sejumlah tokoh NU, kumpul ikut sharing selesaikan masalah ini. Masih ada waktu,” katanya.

Menurut Prof Rochmat, Majelis Tahkim perlu didorong untuk begerak cepat, turun tangan menangani masalah ini. Sebab, masalahnya sudah melebar ke mana-mana. “Kasihan nahdliyin yang di bawah, mereka melihat tontonan yang sangat tidak baik untuk masa depan jam’iyah,” tambahnya.

Mendengar narasi ‘bocor alus’ memang sangat memprihatinkan. Bahasa sangat lugas. “Kang, ini pemberhentian Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU ini, ada apa sih? Ada dua, yang pertama, yang mereka bilang adalah Yahya dianggap dekat dengan Israel. Kedua, ada laporan keuangan yang dianggap tidak prudent di ineternal organisasni PBNU. Tap[I, setelah kita selidiki, dan kita tany ake sana-sini ke berbagai sumber, rupanya di balik ini ada rebutan tambang,” jelas podcast Bocor Alus Politik.

Wah soal tambang? “Ada dua pengusaha dan perusahaan yang ingin menggarap konsesi milik NU di Kalimantan. Selengkapnya, kalian bisa baca di Majalah Tempo dan juga dengarkan podcast  bocor alus politik di Youtube tempo.co dan Spotify,” katanya.

Benarkah? Wallahu’alam. Yang jelas, dalam tayangan medsos radio SS (Suara Surabaya FM 100), Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar tampak membaca sendiri keterangan pers terkait upayanya untuk menormalkan jam’iyah NU. Sabtu 29 November 2025 kemarin, ia melakukan jumpa pers. Intinya jalan organisasi harus tetap berjalan normal. Maka, dibentuklah Tim Pencari Fakta (TPF) sekaligus Pleno bahas muktamar sesegera mungkin.

Dalam rilis itu, disampaikan, bahwa, setelah menyelesaikan rangkaian silaturrabim dan sosialisasi Hasil Keputusan Rapat Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diselenggarakan 29 Jumadal Ula 1447 H atau 20 November 2025 M, sebanyak 36 PWNU yang hadir telah memahami dengan baik latar belakang keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada Rais Aam untuk menindaklanjuti keputusan tersebut.

“Sehubungan dengan itu, perkenankan kami menyampaikan beberapa hal sebagai berikut: Pertama, Bahwa terhitung mulai tanggal 26 November 2025 Pukul 00.45 WIB KH Yahya Cholil Staquf tidak lagi berstatus sebagai Kctua Umum PBNU, sehingga tidak berhak menggunakan atribut dan tidak memiliki kewenangan sebagai Ketua Umum PBNU. Dan sejak saat itu, kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sepenuhnya berada di tangan Rais Aam,” tegas Rais Aam.

Kedua, Bahwa latar belakang dan dasar pertimbangan sebagaimana disebutkan dalam Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU adalah benar-benar sesuai dengan fakta dan kondisi sebenarnya, serta tidak terdapat motif atau latar belakang lain selain daripada yang tercantum di dalam Risalah Rapat.

Ketiga, Bahwa untuk memastikan berjalannya roda organisasi secara normal, maka akan dilaksanakan Rapat Pleno atau Muktamar dalan waktu segera. Keempat, Setelah mencermati dinamika di masyarakat, termasuk berbagai informasi dan opini di media arus utama dan media sosial, kami memberikan perhatian secara khusus.

“Selanjutnya, untuk mendapatkan kesahihan dari berbagai informasi tersebut, kami akan menugaskan Tim Pencari Fakta untuk melakukan investigasi secara utuh dan mendalam terhadap berbagai informasi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Wakil Rais Aam PBNU KH. Anwar Iskandar dan KH. Afifuddin Muhajir akan menjadi Pengarah dalam Tim Pencari Fakta dimaksud.”

Kelima. Untuk memastikan Tim Pencari Fakta dapat menjalankan tugas dengan baik, maka khusus impiementasi Digdaya Persuratan Tingkat PBNU kami perintahkan untuk ditangguhkan sampai dengan selesainya proses investigasi. Sedangkan implementasi Digdaya Persuratan Tingkat PWNU dan PCNU tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Keenam. Bahwa sesuai dengan nilai-nilai Khittah Nahdlatul Ülama, menjadi sangat penting bagi semua pihak untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, serta meluhurkan kemuliaan moral (al-akhlaq al-karimah), dan menjunjung tinggi kejujuran (ash-shidqu) dalam berfikir, bersikap dan bertindak.

Ketujuh. Sebagai bagian dari ikhtiar batiniah, kami mengajak semua warga Nahdlatul Ulama untuk bermunajat kepada Allah sWT dengan harapan agar segera diberikan jalan keluar yang terbaik dan paling maslahat bagi Jam’iyah Nahdlatu! Ulama.

“Demikian penjelasan ini kami sampaikan untuk dijadikan pedoman bersama,” demikian pungkas KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU, di Surabaya, 29 November 2025 M. (mky,net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry