EMBUNG Kalisat II, di Desa Kalisat Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan yang bisa mencukupi kebutuhan warga sekitarnya. (foto duta.co: abdul)

PASURUAN | duta.co – Sekitar 23 desa di 7 Kecamatan yang berada di Kabupaten Pasuruan, setiap tahunnya mengalami krisis air bersih. Sekaligus untuk menanggulanginya, pihak instansi terkait mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang krisis air tersebut. Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan juga berupaya menanggulanginya secara permanen melalui upaya pengeboran.

Upaya pembangunan pipanisasi hingga pembuatan embung terus dilakukan demi terbentuknya kesejahteraan masyarakat Kabupaten yang maslahat. Sehingga diharapkan kebutuhan air bersih yang saat ini sudah mulai dirasakan masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Lumbang terealisasi. Selain itu, sejak memasuki musim kemarau, air bersih makin menipis.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana, mengungkapkan, bahwa dari hasil koordinasi dengan para camat dan lainnya, semua desa di Kabupaten Pasuruan, masih aman dan tercukupi kebutuhan air bersih.

“Kami terus berupaya mengatasi ketersediaan air bersih secara permanen dengan pengeboran, pipanisasi hingga pembangunan embung, ”ujar Bakti, Minggu (16/7) sore.

Menurut Bakti, mengatasi ketersediaan air bersih secara permanen harus dilakukan secara terintegrasi. Kegiatan pengeboran dan pipanisasi harus dibarengi dengan konservasi lingkungan untuk memunculkan sumber-sumber air baru serta memperbesar cadangan air bawah tanah. Sehingga kebutuhan air bagi masyarakat bisa terpenuhi dan pembangunan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sendiri .

“Membuat embung itu bagian dari konservasi lingkungan. Karena embung akan memunculkan vegetasi-vegetasi baru yang bisa menyerap air hujan dan bisa memunculkan mata air baru. Dari mata air inilah akan dimanfaatkan untuk mengatasi krisis air bersih yang selama ini sangat diharapkan oleh masyarakat yang membutuhkannya dan menyalurkannya melalui sistem pipanisasi, ”urai Bakti.

Bukan hanya memunculkan mata air baru. Kata Bakti, keberadaan embung juga bisa memenuhi ketersediaan air untuk irigasi pertanian saat musim kemarau. Bahkan saat musim penghujan, embung juga bisa mengendalikan banjir, luapan air sungai dapat diatur dan dicegah. Selain mengatasi krisis air bersih secara permanen, Pemkab Pasuruan juga tetap menyediakan anggaran darurat berupa anggaran tidak terduga.

“Hingga saat ini anggaran darurat masih tersedia Rp 2 miliar yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk kepentingan yang sangat mendesak. Anggaran tersebut bisa digunakan kapan saja dan berapa yang akan digunakan, tergantung kebutuhan nanti jika benar-benar terjadi krisis air bersih. Karena kebutuhan air bersih ini sangat penting, ” imbuh Bakti.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Pemukiman dan Kawasan Perumahan Kabupaten Pasuruan, Misbah Zunib menyampaikan, untuk mengatasi krisis air bersih didapatkan dana sebesar Rp 80 miliar dari pemerintah pusat. Anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) itu digunakan untuk pembangunan pipanisasi di dua kecamatan, yakni Winongan dan Lumbang.

“Pengerjaan pipanisasi dimulai sekitar Agustus mendatang. Anggarannya dari APBN sebesar Rp 80 miliar untuk tahun 2017 dan 2018. Anggaran sebesar itu untuk 14 desa di Kecamatan Lumbang dan Winongan. Dipilihnya dua kecamatan tersebut lantaran menjadi skala prioritas pemerintah kabupaten pasuruan. Selain itu krisis air bersih selama ini sering terjadi di Lumbang dan Winongan, ”tegas Misbah. (dul)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan