ANTRE AIR BERSIH: Warga masyarakat di Lereng Gunung Pringgitan, Desa Broto, Slahung, Ponorogo, saat antre droping air bersih dari BPBD, Rabu (6/11) Duta/Siti Noor Aini

PONOROGO – Sudah hampir tiga bulan ini warga di Dusun Pamongan Lor, Desa Broto, Slahung jarang mandi karena tetiadaan air. Jangankan untuk  mandi, untuk masak atau kebutuhan sehari-hari pun mereka sulit mendapatkan air.

Jika tidak ada dropping air dari BPBD atau kelompok masyarakat, maka mereka harus mengantre di sumur yang jauhnya 1 kilometer dari rumah, dan itu pun hanya untuk seember air dari menimba selama 1-2 jam.

Warga masyarakat di Lereng Gunung Pringgitan, Desa Broto, Slahung, Rabu (6/11) dengan riang gembira menyambut mobil tangki bantuan air bersih dari DPC PDI Perjuangan Ponorogo. Hawa panas di lereng gunung itu ditingkahi tanaman yang kering merontang, seakan sirna seketika.

Derasnya air yang mengucur dari pipa plastic segera mereka pindahkan ke tong-tong bekas aspal, ember, jurigen atau wadah lainnya. Dalam sekejap air PDAM sebanyak 4,5 ribu liter air bersih ludes dalam tempo kurang dari 1 jam.

“Sekitar 3 bulan sudah tidak ada air, dari desa sekali, dari pemerintah ( BPBD)  8 kali, seminggu 2 kali. Dari desa 6 torn per torn 1000 liter. Repot memang, jadi  mandi sehari sekali, atau malah tidak mandi. Yang repot kalau punya anak sekolah, gak bisa cuci seragam, “ kata Tatik (40),warga Dusun Pamongan, Desa Broto.

Hal serupa juga dialami oleh warga Dusun Pamongan, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Di dusun yang letaknya lebih tinggi dari Desa Broto ini, malah nyaris tidak ada suplai air lagi. Sudah sebulan ini suplai air dari BPBD tidak datang.

Sehingga masyarakat hanya mengandalkan sumur yang mulai mengering. Sumur di tepi hutan jati itu harus ditempuh dengan jarak 1 kilometer, untuk mendapatkan seember air dengan mengantre 1-2 jam.

“ BPBD dulu seminggu 2 kali  yaitu hari Selasa dan Jumat, tapi sekarang tidak ada. Yang ada bantuan dari masyarakat seperti Peduli Ponorogo, walau kini sudah mulai dikurangi. Kalau untuk PDI Perjuangan sudah 3 kali ini , mudah-mudahan terus. Kalau tidak ada bantuan ya ambil dari sumur di bawah, menunggu air sedikit demi sedikit sejam dua jam hanya dapat 1 ember,” kata Yani (30) warga Dusun Pamongan, Desa Caluk,

Yani juga menambahkan, bagi masyarakat setempat yang mampu akan membeli . Air yang diangkut dengan pickup dengan wadah berkapasitas 1000 liter, yang mereka sebut torn, kadang dibagi ke tetangga yang membutuhkan.

“Jangankan beli air, mau makan saja susah. Kalau yang punya duit ya bias beli.Kalau kami mengambil  dari sumber yang sudah sangat kecil debit airnya,” imbuh Yani. sna

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry