“Dengan tiga penyikapan yang berbeda atas musyawarah kubro Lirboyo, tergambar setidaknya tiga peta besar yang bertarung di PBNU saat ini.”
Oleh: M Sholeh Basyari*

MUSYAWARAH Kubro (Muskub) di Lirboyo secara gemilang sukses mengkonsolidasi PWNU, PCNU dan PCINU. Peserta juga disesaki oleh para kiai, aktivis serta alumni sejumlah pesantren ikonik. Dari forum yang sama, publik juga menyaksikan sejumlah rekomendasi terkait: ishlah, pencabutan mandat hingga desakan Muktamar Luar Biasa (MLB).

Respon atas Rekomendasi Lirboyo

Hasil musyawarah kubro di Lirboyo, tidak direspon secara tunggal. Kubu Rais Aam secara halus menolak ‘nyaris’ semua keputusan Lirboyo. Bahkan Rais Aam Kiai Miftachul Akhyar mengeluarkan rilis sebagai jawaban atas tekanan Lirboyo.

Seperti yang beredar di sejumlah media, Rais Aam menyebut dan menilai bahwa forum Lirboyo tidak imparsial: hanya kiai yang pro-ishlah yang dihadirkan. Sementara Tuan Guru Turmudzi Badrudin dari Lombok yang tidak mendukun ishlah serta sejumlah kiai yang segaris, diabaikan.

Tidak berhenti di situ, alih-alih menaati ultimatum 3×24 jam rekomendasi Lirboyo, kabarnya kubu Rais Aam justru tengah dan telah menyusun kepanitiaan muktamar. Menurut kabar dari internal mereka, Umarsyah, salah satu Ketua PBNU, orang kepercayaan Saifullah Yusuf ditunjuk sebagai panitia muktamar.

Sementara pada kesempatan yang berbeda, Muhaimin gencar ‘menyerang’ Saifullah Yusuf, Yahya Cholil, juga secara metafora menyasar Kiai Miftachul Akhyar. Cak Imin terus mengkampanyekan Abdussalam Shohib, di samping Kiai Marzuki Mustamar, sebagai suksesor Yahya dan Saiful.
Cak Imin menyampaikan itu di Muswil PKB Jatim dan di Haul Mbah Bisri di Denanyar, Jombang

Respon paling radikal justru datang dari mantan Wapres sekaligus mantan Rais Aam KH Ma’ruf Amin. Secara mengejutkan Kiai Ma’ruf mengumumkan mundur dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus juga mundur dari Ketua Dewan Syuro DPP PKB. Sejumlah spekulasi berkembang secara berbeda oleh kaum nahdliyin terkait mundurnya Kiai Ma’ruf secara bersamaan.

Herry Haryanto, mantan Ketum PB PMII menyebut Kiai Ma’ruf ingin fokus mandito. Berbeda dengan orang-orang dekat Kiai Said Aqil Siroj yang menyebut bahwa mundurnya KH Ma’ruf sebagai kode keras untk comeback sebagai Rais Aam.
Sementara orang dekat Kiai Maruf menyebut mundurnya cucu Kiai Nawawi al-Bantani ini adalah respon menohok atas kehadiran Cak Imin di pleno Syuriyah di Hotel Sultan beberapa waktu lalu. Di samping juga tidak sependapat dengan sikap Dr KH Zulfa Mustofa yang menerima penunjukan sebagai PJ Ketum PBNU.

Tiga Peta Kekuatan di NU

Dengan tiga penyikapan yang berbeda atas musyawarah kubro (Muskub) Lirboyo, tergambar setidaknya tiga peta besar yang bertarung di PBNU saat ini. Pertama, kelompok anti-ishlah. Kelompok ini awalnya kompak. Seperti Saiful, Prof Nuh dan Zulfa jadi ikon, dengan berlindung di balik figur sakral Rais Aam.

Belakangan Prof Nuh ditarik agak mundur. Tugas Prof Nuh dipandang tuntas. Saifullah Yusuf juga hanya sesekali tampil menangkis manuver Yahya dan kiai sepuh. Zulfa terus didorong ke pusaran. Zulfa turba ke sejumlah daerah.

Peran Pj Ketum PBNU (versi Syuriyah) ini, kian menonjol. Backup tim dan logistik, kelihatan tertata rapi. Menariknya, kabarnya Zulfa dibackup oleh salah satu menteri berwarna biru. Sang menteri asal Banten sekaligus direktur comand center partai biru juga.

Kedua, Genk PKB. Sikap PKB abu-abu. Hingga detik ini, PKB tidak menolak ishlah, tetapi juga tidak secara tegas menerima. Sikap ini harus dibaca sebagai langkah prudent, kehati-hatian. Langkah ini bisa juga dibaca sebagai cara PKB menjaga relasi dengan sejumlah pesantren besar. Intinya PKB main aman.

Ketiga, kelompok pro ishlah plus aktivis senior. Kubu ini kolaborasi: kubu Kiai Said, Gus Yahya serta aktivis senior pendukung utama Kia Said di muktamar Lampung.
Kubu ini bisa disebut yang paling kuat.

Kiai Nurul Huda Jazuli dari Ploso terang-terangan menghendaki Kiai Said kembali sebagai ketua umum. Lebih-lebih ketika paket: Kiai Ma’ruf Amin dan Kiai Said sebagai Rais Aam dan Ketum PBNU.

Meski begitu, pertarungan masih panjang. Stamina, logistik dan jejaring dengan penguasa, juga menentukan. Meski Kiai Said menyebut “pemerintah belum turun tangan’. Benarkah? Wallahu a’lam

*M Sholeh Basyari adalah aktivis NU, Direktur ekskutif center strategic on Islamic and international studies (CSIIS), Jakarta