
“Pasar-pasar yang selama ini malu-malu menjalar ke bahu jalan, saat Ramadhan ini kian agresif merangsek ke jalanan. Apalagi tingkah pola pembeli yang agak norak, bahkan terkesan ugal-ugalan.”
Oleh: Suparto Wijoyo*
HARI pertama puasa, 1 Ramadhan 1447 H, saya menikmatinya dengan beraneka ragam agenda di Universitas Airlangga sejak pagi hari untuk melakukan “tadarus akademik”. Rapat-rapat yang padat di UNAIR membuat siang merangkak semakin terang. Jelajah tugas mengharuskan saya menuju Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo yang dikenal dengan ama UNUSIDA. Ketemu para akademisi yang lagi semangat melakukan riset dengan skema kemitraan bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur. Mereka sangat bangga dengan capaian lolos menjadi bagian peneliti tingkat Jawa Timur yang berkolaborasi bersama BRIDA. Saya merasakan aura intelektual yang sedang tumbuh kembang penuh rasa optimisme menjadi intelektuan muda NU yang prospektif, penuh berkah, yakni bermuatan penuh rahmat. Hal ini sehaluan dengan nilai spiritualitas Ramadhan sebagaimana didawuhkan Rasulullah Saw. Sebagaimana diketahui, telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syuʽabul Iman dan juga Ibn Khuzaimah di Sahih ibn Khuzaimah, terliterasikan bahwa: “adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Terpahamilah bahwa acara tersebut memang penuh rahmat persaudara sesama warga kampus yang memang memiliki tugas luaran melalui penelitian. Usai di UNUSIDA saya harus ke wilayah Ampel Surabaya. Menyelami padatnya aktivitas ekonomi di Ampel yang bermuara pada Masjid Ampel yang sangat monumental, amat legendaris, dan bermuatan bobot historis tinggi. Menyusuri jalanan yang sempit, kendaraan merayap dengan kecepatan seperti balita belajar berjalan, lambat banget. Semua orang sibuk dengan kegiatan yang diamanahkan untuk disukseskan. Lalu lalang orang dan bareng berbarengan. Perdagangan barang-barang harian maupun toko-toko kitab yang masih laris, padat, sangat memoria, tampak sumringah. Ternyata fenomenanya menjadi mengagumkan, karena di zaman digital yang seperti hari ini, digandrungi semua lapisan, saya temukan di toko-toko buku di daerah Ngampel Denta itu, masih dipadati para pembelanja buku. Suatu realitas yang menghentak sekaligus menggugurkan anggapan bahwa peradaban buku sedang tergerus oleh buku-buku mekanis yang terunggah di mesin-mesin ajaib yang berupa HP maupun laptop. Alat yang tidak tertorehkan dalam abad-abad sebelum Masehi ataupun awal-awal Hijriyah.
Saya bersama tim terus bergerak menyusuri kawasan tengah metropolitan, untuk menengok ke timur dan melaju ke areal tengah Surabaya. Keramaian perkotaan yang dibalut dengan mendung yang membingkai nuansa temaram di jelang sore hari, dengan gerimis yang mengguyur sedang, membuat suasana kian akrab bagi pengendara yang berjubel di jalan-jalan gang-gang pekotaan. Sengaja saya menelusuri daerah padat di kawasan Surabaya barat. Sepanjang jalanan orang berjajar membentuk “festival” transaksi jual beli di tepian jalanan. Toko Pracangan dan lapak-lapak kecil dibuka di depan-depan halaman rumah. Nyaris setiap jengkal lahan dibuat berdagang. Ini sungguh aktraktif dan menggambarkan adanya energi ekonomi yang militan di saat-saat jelang masa iftar.
Pasar-pasar yang selama ini malu-malu menjalar ke bahu jalan, saat Ramadhan ini kian agresif merangsek ke jalanan. Apalagi tingkah pola pembeli yang agak norak, bahkan terkesan ugal-ugalan. Sambil tetap bertengger di atas sepeda motornya atau di empuknya kursi mobilnya, mereka berbelanja pangan, baik untuk takjil, berbuka puasa, dan tampak jelas, juga untuk keperluan sahur. Panjangnya jalanan dan sempitnya lahan areal depan rumah mereka telah beralih berfungsi menjadi alas ekonomi yang amat menarik. Inilah bukti elementer bahwa pada kesejatiannya agama itu menghidupi umatnya. Dengan ritual Ramadhan saja (belum lagi urusan haji dan umrah, idur fitri, idul adha) yang mengajarkan tentang berpuasa dengan segala aksesorisnya, ternyata rakyat mendapatkan ruang perdagangan yang menguntungkan. Keuntungannya menjadi sangat sosial meski dengan imbuhan ekonomi berupa pendapatan serta sirkulasi keuangan yang terus menggeliat. Betapapun kecilnya.
Inilah fakta bahwa ajaran agama itu menumbuhkembangkan perekonomian serta gerak sosial budaya membangun peradaban urban yang dinamis. Oleh karena itulah jangan menyia-nyiakan ajaran agama. Setiap agama memiliki momentum peribadatan yang sangat berimplikasi ekonomi, sosial dan budaya, yang akhirnya membentuk tamaddun yang terbingkai sebagai peradaban bangsa. Betapa nyamannya negara yang memiliki rakyat yang menjalankan syariat agamanya masing-masing. Untuk menggerakkan ekonomi keumatan langsung terwujud di bentang Ramadhan seperti sekarang ini. Rakyat dapat berjualan di depan rumah dan membuka lapak-lapak di daerah dekat kediamannya untuk memenuhu kebutuhan para pelaku puasa.
Soal semrawutnya jalanan itu memang menguji kesabaran. Tetapi ini sesungguhnya menjadi PR tersendiri bagi negara agar aparaturnya memberikan tata kelola yang memadai. Janganlah kesemrawutan itu lantas dinilai bentuk pelanggaran hukum-hukum lalin yang ditingkatkan sebagai tindaklan kriminal. Justru negara wajib menata kesemrawturan itu menjadi ketertiban masyarakat dengan regulasi dan simbol-simbol hukum yang berupa rambu-rambu lalu lintas atau tanda-tanda perkenan berdagang. Kini Ramadhan ini, saatnya menata hidup tertib rakyat yang telah beriktiar membuka lapangan kerja untuk ditata agar pasar-pasar yang selama ini terkesan lesu, menjadi semakin bergairah menjemput rejeki yang dipersiapkan oleh Tuhan. Saya menyaksikan bahwa saat ini, di pekan pertama Ramadhan ini, pasar-pasar krempyeng, alias pasar dadakan, pasar tumpah, yakni pasar rakyat kecil itu telah merayakan kemenangan ekonominya. Selamat beramadhan dan silahkan negara hadir dengan memfasilitasi secara utuh agar pasar-pasar terus itu tumbuh merayakan dirinya.
*SUPARTO WIJOYO adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur





































