Oleh: Suparto Wijoyo*

MAKSUD hati hendak istirah sejenak, apa daya demokrasi tak hendak. Ingar-bingar pesta coblosan 27 Juni 2018 lalu belum hilang dalam ingatan, bahkan menimbulkan kesan-kesan yang sangat kronikal bagi para pekalah maupun pemenang di rentang rekapitulasi suara  9 Juli 2018. Agenda penetapan para pemenang oleh KPU dalam rentang pekan ini semakin bersahutan dengan tahapan pemilihan Caleg yang bersamaan dengan Pilpres. Masa pendaftaran Pileg sudah dimulai dan ini pastinya menyemarakkan pesta daulat rakyat yang telah memberikan mandat kepada 171 Paslon kepala daerah yang telah berlalu, meski  Pilkada Kota Makassar harus diulang tahun 2019.

Para calon anggota dewan dalam segala tingkatan dan statusnya telah lama berancang-ancang dengan beragam tampilan. Warna-warni kelakuan tertangkap kamera publik betapa  istiqomah politik itu janganlah diharap penuh keabadian. Loncat pagar Parpol dan saling serobot pen-Caleg-an sudah biasa katanya. Rakyat semua lapisan kini mendengar di samping membaca  gemuruhnya janji yang ‘diudar’ mengangkasa. Gemah dan gelapnya terbidik tanpa sekat. Mata telanjang dan kamitan bibir dapat membaca dengan jelas bahwa janji sedang difestivalkan dalam parade kampanye yang akan semakin panjang. Memori khalayak mengenai Paslon yang telah menumpuk janjinya  kembali disuguhkan sebagai  imaji dari Caleg dan Capres yang hendak maju di palagan Pemilu. Mereka yang bertanding itu tidak sungkan untuk menyemai janji walau tempo hari sudah jelas mengingkari, bahkan mengkhianati.

Mekanisme Pemilu sejatinya dapat dispiritualisasi dengan kesadaran bahwa para pemilih tidak akan memilih sosok yang hanya pandai berjanji tetapi kerap mengingkari alias pandai berjanji nan lihai mendustai. Pemilu itu juga arena di mana ada rambu-rambu yang memberi koridor terbukanya tabir (mukasyafat) jati diri para calon. Rekam jejak kepemimpinannya selama ini atau kiprahnya dalam belantara sosial dapat disimak baik-baik. Mengenai ukuran-ukuran moralnya sejatinya dapat menggunakan rujukan-rujukan yang digoreskan oleh Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang dikenal sengan  Imam Ghazali dalam kitabnya Bidayat Al-Hidayah.

Dalam kitab tersebut terurai hubungan-hubungan seseorang  yang dapat ditilik melalui kecenderungannya: apakah para calon pemimpin itu menempati kedudukan para mulia dengan mencurahkan dirinya untuk membahagiakan sesama. Inilah yang kita pilih. Adakah pula yang menempati kedudukan benda-benda mati yang berlaku tidak menguntungkan maupun merugikan, yakni tidak manfaat blas. Juga ada yang menempati kedudukan kalajengking, ular, dan binatang buas pemangsa. Ini adalah orang yang tidak bisa diharapkan  memberikan kebaikan tetapi dikhawatirkan merugikan. Kata Imam Ghazali, jika engkau tidak mampu meraih derajat tinggi para malaikat, maka setidaknya berupayalah untuk tidak berada pada kedudukan kalajengking. Ingat ungkapan ini, ingat “kalajengking” yang ilernya  mahal harganya sehingga ada yang menyerukan untuk berternak.

Calon siapa pun dan untuk jabatan apa pun tidak boleh berperan sebagai kalajengking yang mengalajengkingi rakyat. Hal itu dapat dirunut dari janji yang telah ditebarkan serta pengingkaran yang ditancapkan dengan kebohongan yang ungggahkan penuh “petuah”. Pada lingkup ini saya demen banget dengan ulasan-ulasan Sang Intelektual Besar Imam Ghazali yang memberikan pengajaran penting bagi umat. Diungkapkan: Waspadalah, jangan engkau mudah membuat janji. Janganlah membuat janji jika engkau merasa tak mampu memenuhinya. Hendaklah engkau berbuat bajik terhadap orang dalam bentuk tindakan.  Jangan melanggar janji. Melanggar janji itu merupakan salah satu ciri orang munafik dan merupakan watak yang buruk. Rasulullah saw bersabda: Ada tiga hal yang jika tiga hal itu terdapat pada seseorang berarti dia adalah orang munafik, meski dia salat dan berpuasa. Tanda-tanda itu ialah: bila dia berkata, dia berdusta; bila dia berjanji, dia mengingkarinya; dan bila dia diberi amanat, dia khianat.

Terang sudah rujukan dan pandom untuk menentukan pilihan dalam tebaran bintang-gemintang janji yang sedang diparadekan sejak era Pilpres dulu-dulu. Siapa yang berdusta, yang ingkar dan yang khianat? Publik sudah mafhum walaupun terkadang terlalu banyak yang limbung diempas ombak janji yang menggelombangkan air bah. Kampanye memang menjanjikan dan untuk itulah ojok mudah terlena. Ikuti rute kiprahnya selama ini, pasti kau memahami.  Siapa-siapa yang nggondeli kekuasaan tanpa jemu.

Hari-hari mendatang masa kampanye dijadwalkan. Janji-janji membanjiri setiap “lorong gang-gang”, sesempit apa pun. Mulut Jurkam terbuka menganga menjulurkan lidah memuntahkan “air liur yang mendatangkan gempita”. Inilah visi-misi yang dinormakan oleh hukum Pemilu untuk mengentas nasib rakyat agar munggah drajat. Kaos oblong, baju bercorak, sandal jepit, sampai mobil listrik disemat dengan  retorika:  tanpa utang, no impor, semua barang harganya murah, listrik, air, dan BBM diomongkan “terjangkau” Sampeyan semuanya. Tidak ada kenaikan dan rangkap jabatan. Jangan ragu pilih saya agar kemiskinan lenyap. Begitu terus diulang sampai rakyat “meneguk penuh semangat” bahwa dialah  yang layak ngangkangi singgasana. Orangnya sederhana, polos, dan dipajang amanah.  Dalam situasi demikian, rakyat tentu menyaringkan hati, mengendapkan pikir, siapa  yang harus dipilih sebagai pemimpin, bukan sekadar penguasa yang lihai bertelenovela.

* Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.