Wayan Duarte Ketua BP2 DTW Pandawa presentasi pengembangan Pantai Pandawa kepada agen travel di Surabaya dan Jatim. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Pandemi berdampak sangat besar pada industry pariwisata di Pulau Bali, salah satunya di pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kuta Selatan, Badung, Bali. Pantai Pandawa selama ini dikenal sebagai destinasi favorit wisatawan lokal khususnya anak sekolah, meski tidak sedikit pula turis asing yang berkunjung mulai berbenah setelah vakum menutup operasional karena pandemi covid-19.

Wayan Duarte Ketua BP2 DTW Pandawa mengatakan menjelang dibukanya kembali wisata Bali pada bulan Juli mendatang, pantai Pandawa terus membenahi diri dengan perbaikan infrastruktur pendukung kenyamanan wisatawan. Seperti sarana toilet, sarana permainan dan sejumlah penambahan obyek menjadi lebih menarik.

“Pantai Pandawa sudah berubah menjadi lebih baik dan nyaman untuk jadi tempat destinasi wisata lokal dan manca Negara.,” kata Wayan Duarte dalam kunjungan promosinya ke Surabaya kepada sejumlah travel yang diundang.

Wayan menambahkan Pantai Pandawa merupakan salah satu dari kawasan yang dikelola dan dikembangkan oleh BUMDA Desa Kutuh. Dari kawasan dengan luas area membentang pantai 3 km, dan luasan tebing 23 ha dibagi menjadi 4 kawasan. Dan yang sudah digarap yakni pantai Pandawa baru 25 persen dari luas area pengembangan.

“Pembangunannya perlahan dan nantinya akan terintegrasi untuk semua segmen wisataawan dalam dan manca Negara dalam satu lokasi yang luas. Kita sedang menjajaki masuknya investor untuk membantu dalam pembangunan dan pengembangan Pantai Pandawa. Kita akan bangun beach club untuk segmen menengah atas.”

Wayan menegaskan meski akan dikembangkan menjadi lebih bagus, konsep pengelolaannya tetap yakni melibatkan masyarakat. Karena Pantai Pandawa selama ini dikelola dengan melibatkan masyarakat setempat  dengan kontrol utamanya tetap Desa Adat Kutuh.

“Pantai Pandawa yang dibuka mulai 2013 menjadi desa termuda, dengan pantai kering dan kebanyakan petani rumput laut  secara perlahan menjadi desinasi yang banyak diminati.”

Sebelum pandemi jelas Wayan per bulan bisa dikunjungi 100 ribu wisatawan, tertinggi tahun 2017-2018 dimana ada 150 ribu per bulan wisatawan. Per hari bisa 10 ribu dan pada akhir akhir tahun sempat 30 ribu sehari.

“Pandemi turun drastic bahkan bulan maret – juli 2020 tutup dan kembali buka sampai akhir tahun 2021. Meski buka kunjungan wisatawan jauh dari sebelum pandemi. Namun demikian kita tidak memberhentikan karyawan,” ujar Wayan.

Ni Luh Hepy Wiradani, Dirut BUMDA Kutuh menambahkan semasa pandemi banyak perbaikan yang dilakukan di Pantai Pandawa.  Seperti sertifikasi CHSE, development, SDM serta paket-paket baru ditawarkan sehingga wisawatan bisa menikmati Pantai Pandawa yang berbeda.

“Kota Surabaya dan Jatim menjadi pilihan karena selama ini kontribusi wisawatan lokal sangat besar. Pasar wisata di Surabaya potensial, termasuk siswa sekolah. Harapannya bisa kerjasama dengan Pemkot, Pemkab, sekolah dan kampus. Jatim sangat mensupport dan ingin mengembalikan eksistensi pantai pandawa,” jelas Ni Luh.

Desa Kutuh telah ditetapkan sebagai desa percontohan karena berhasil mengembangkan potensi pariwisata dengan mengoptimalkan penggunaan dana desa. Desa Kutuh punya 9 usaha, dianartanya Wisata Pantai Pandawa, Gunung Payung Cultural Park, Atraksi Wisata Khusus Timbis Paragliding, Atraksi Wisata Khusus Seni dan Budaya, Unit Barang dan Jasa, Unit Pirantu Yadnya, Transportasi, dan Jasa Konstruksi Karya Undagi.

Sementara Layanan Wisata Edukasi dan Kemitraan, Layanan Keamanan dan Ketertiban Wilayah, dan Layanan Jaminan Asuransi dan Kesehatan adalah tiga unit layanan terpadu guna menunjang pariwisata desa. Imm

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry