Niken Savitri Primasari, SE, MM – Dosen Keuangan FEB-TD

BEBERAPA bulan belakangan ini sering kita mendengar tentang krisis ekonomi global di 2023. Di tahun itu ancaman resesi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Banyak pihak yang mulai cemas akan hal itu, apalagi berita tentang itu terlalu sering dan berulang. Hal inilah yang akan memicu kepanikan hingga akhirnya krisis akan terjadi dengan cepat. Ibarat kata-kata adalah doa, maka jadilah kenyataan.

Lalu apa yang harus dilakukan? Selayaknya menanggapi suatu berita, di era Agility dan Fomo ini memerlukan kebijakan yang lebih dalam lagi. Telaah kembali sumber awal dari berita ini. Berita resesi global mencuat saat kita diterpa kondisi pandemi di awal 2020 yang menimpa seluruh dunia, perekonomian mandek atau terhenti seketika.

Diikuti pula dengan kondisi memanas antara Ukraina dan Rusia, pada posisi berita inipun muncul berita-berita baru mengenai stigma kemungkinan bermulanya perang dunia ke 3. Berita-berita tersebut bila anda lebih telaah lagi, semua selalu mengarah pada kata potensi ataupun dugaan sementara.

Bila kita melihat hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, faktanya data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada posisi baik dan belum menunjukkan penurunan hingga negatif. Indonesia menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar US$1,19 triliun pada 2021.

Hal itu menempatkan Indonesia di posisi ke-16 di antara negara-negara G20. Posisi Indonesia berada di bawah Meksiko dengan PDB sebesar US$1,29 triliun. Bahkan data dari Organisasi Dana Moneter Internasional atau IMF mencatat bahwa Indonesia masuk dalam kelompok 10 negara dengan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia. Bahkan, Indonesia berada di posisi ketujuh, menyalip Brasil, Inggris, dan Perancis.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Lalu apa sebenarnya yang menjadi asal muasal berita timbulnya resesi global dunia 2023? Ada tiga faktor beberapa negara yang kemudian mencemaskan kondisi ekonomi. Pertama, perihal ketahanan energi. Pandemi yang melanda dunia di tahun 2020 – 2021 menyebabkan pasokan sumber energi dunia terhenti yang kemudian memicu segala aktivitas ekonomi di berbagai belahan dunia terhambat.

Kedua, mengenai ketahanan pangan dimana lagi-lagi sumber pasokan pangan dunia berkurang, sementara jumlah penduduk semakin bertambah. Ketiga adalah ketahanan finansial dimana ketidakpastian ekonomi ini dikhawatirkan akan menimbulkan tumpukkan kredit macet yang akhirnya membuat sektor perbankan kolaps.

Bagaimana dengan Indonesia?

Mari kita bahas yang pertama yaitu faktor ketahanan sektor energi di Indonesia. Bila kita membicarakan perihal energi sederhananya kita bicarakan tentang listrik dan BBM kalau sampai kedua hal itu tidak ada, maka ekonomi akan lumpuh karena hampir semua aktivitas masyarakat membutuh dua hal tersebut.

Masalahnya Rusia yang saat ini dicekal banyak negara, merupakan pemasok energi terbesar di dunia entah itu dalam bentuk gas alam minyak bumi ataupun batubara yang kemudian membuat kemungkinan keterbatasan sumber energi di dunia bahkan beberapa negara di Eropa harga listriknya itu sampai naik 2 sampai 3 kali lipat.

Hal ini sebenarnya merupakan peluang bagi Indonesia, mengapa? Karena sebenarnya  Indonesia punya ketahanan yang bagus di bidang energy. 50% listrik kita bersumber dari batubara yang sangat berlimpah di Indonesia berdasarkan data rencana dari Kementerian SDM kebutuhan batubara 2022 itu adalah 188,9 juta ton sementara untuk 2023 sebesar 1995,9 juta ton.

Produksi batubara kita saat ini sudah mencapai 360 juta ton dari target produksi 663 juta ton. Indonesia juga memiliki cadangan batubara sebesar 37 miliar ton. Ini terbesar nomor 7 di dunia. Bagaimana dengan BBm? Ketersediaan BBM di dunia telah diprediksi oleh adanya gerakan SDG’s 2030.

Listrik menjadi salah satu upaya sebagai sumber energi yang ramah lingkungan untuk seluruh dunia, terutama listrik yang berasal dari sumber matahari. Sesungguhnya, bila hal ini dikembangkan dengan pesat dan perusahaan-perusahaan berikutpula dengan kendaraan sebagai sarana transportasi menggunakan listrik yang ramah lingkungan dan item-item ini tidak menjadi komoditi eksklusif untuk seluruh masyarakat, maka kecemasan pada ketahanan energi akan sirna. Masalahnya apakah produk-produk ramah lingkungan ini tetap dikategorikan pada eksklusifitas?

Kedua, berbicara mengenai ketahanan pangan. Ketersediaan beras nasional 2022 diperkirakan 36,95 juta ton dengan konsumsi 30,90 juta ton artinya apa ada surplus 6,05 juta ton yang bisa dijadiin cadangan di tahun depan dan di tahun 2023 di perkalian produktivitas beras kita juga meningkat dari 5,12 ton per hektar di tahun 2021 jadi 5,22 ton per hektar di tahun 2022. Indonesia juga masih memiliki stok pangan berlimpah di komoditas kedelai, jagung, bawang putih dan daging beku. Menurut globalfood security index, skor index ketahanan pangan Indonesia tahun 2022 terbilang lebih baik daripada tahun 2021 ditunjang pula dengan surplus produksi sawit.

Ketiga, tentang ketahanan finansial khususnya perbankan. Ketahanan perbankan ini bisa dibilang penting untuk seluruh negara, karena bila sektor perbankan sebuah negara itu goyah akan berpengaruh ke banyak sektor yang bergantung dengan pendanaan.

Ada beberapa indikator yang perlu kita pahami untuk melihat ketahanan finansial khususnya perbankan, yakni rasio kredit macet atau biasa disebut Non Performing Loan dan rasio kecukupan modal atau Capital Adequancy. Dua rasio ini penting untuk melihat seberapa banyak nasabah yang gagal bayar dalam pengembalian pinjaman dari bank.

Hingga Juli 2022 rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross perbankan nasional berada di angka 2,9% sementara angka wajar NPL Bank Indonesia berkisar di 5%, sehingga bisa dikatakan rasio kredit macet perbankan kita masih tergolong wajar. Rasio kecukupan modal perbankan atau CAR Perbankan Indonesia bisa dikatakan kokoh dengan kecupan modal 24,6% dengan batas aman dari Bank Indonesia berada di angka 8%.

Kenaikan inflasi Indonesia juga bisa dibilang cukup terkendali dibandingkan negara lain, karena ketahanan pada tiga hal tersebut. Sekalipun mungkin ada potensi harga BBM akan mengalami kenaikkan kembali.

Bila menginginkan kekokohan, maka segala sektor sewajarnya turut berupaya untuk menggunakan energi ramah lingkungan, melepaskan diri dari keterikatan pada kebutuhan pasokan minyak.

Secara Indonesia merupakan negara dengan letak yang terbentang dari 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan dan dibelah oleh garis khatulistiwa, menjadikan wilayah negara yang memperoleh sinar matahari sepanjang waktu. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, “Apakah Anda siap untuk berganti seluruh peralatan dalam kehidupan dan usaha anda dengan energi listrik yang berasal dari sinar matahari?” *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry