“Sebagian agamawan juga sami mawon. Diantara mereka banyak berprilaku kasar dalam verbal dan non verbal.”
By Isfandiari MD

MOGA temporal, segera redup dan hilang! Masalahnya mata, telinga, pikiran dibuat lelah hadapi insan model begini.  Mereka intens hadir di banyak platform komunikasi, TV nasional, medsos sampai  ruang publik. Temanya beragam, politik, sosial kemasyarakatan, agama atau receh iseng cari sensasi.

Contoh Abu Janda di TV Nasional. Tidak menyoal isi bahasannya, tapi polah verbal dan non verbal kasar, tak beradab-etika seolah TV nasional pekarangan rumahnya sendiri.  Atau contoh lain,  Nandar Ukandar, warga Bandung lansiran 1978,  lebih dikenal Ade Londok di medsos. Isinya bukan  tema berat, sosial politik atau budaya,  sekedar celotehan kosong perkara tak bermutu. Sama saja, berisi makian, sumpah serapah tanpa filter. Sekilas profilnya,  dulu ia beken sebagai juragan Odading kue khas Sunda, didaulat duta kuliner Jawa Barat, karirnya naik dan redup lagi. Dua conton insan ini terasa cukup, orang berpolah kasar di media nasional ataupun medsos. 

Semua ini terkait persoalan etika, value diri, tuntunan agama dan pembangunan karakter suatu bangsa. Jika orang kasar diberi ruang, akibatnya fatal.  Jika Abu Janda terus diberi ruang, orang menggap hal itu lumrah. Jika kang Ade yang suka memaki dalam bahasa Sunda misalnya terus-terusan diperdengarkan, penilaian orang, suku sunda itu kasar. Begitu juga jika ada orang lain dari suku tertentu berkata kasar dan intens, terjadi generalisasi, suku itu punya karakter demikian. Ini bahaya,  efeknya kemana-mana, menohok pada persoalan budaya sampai gambaran kepibadian sebuah bangsa. 

Sebagian agamawan juga sami mawon. Diantara mereka banyak berprilaku kasar dalam verbal dan non verbal. Panggungnya juga leluasa, ada di  mimbar-mimbar juga media elektronik. Tak ada filter lagi, sebebas-bebasnya beretorika  sampai timbul opini pro-kontra. Imbasnya terasa langsung.  Gen X, Z terus sampai yang termuda terbiasa berkata kasar. Tiap kata terseling sumpah serapah mulai nama binatang, aktivitas sexual, nama alat vital sampai benda-benda yang menjijikkan. Ini sebuah konsekwensi!

Kajian ilmu ikut beri masukan. Dari sisi psikologi pendapat  bahwa kata kasar dan prilaku kasar sebenarnya wujud yang bersangkutan benci dirinya sendiri. Value manusia juga ditentukan dari itu, orang kasar valuenya rendah dan kebalikannya.  Para pakar komentar, indikasi orang bodoh ada di prilaku yang kelihatan. Makin kasar makin bodohlah dia. Kasar semata terdorong instink. Beda dengan orang beretika tinggi, lembut, sopan santun. Harus ada  ilmu dan kecerdasan yang menuntunnya.

Syukurlah, agawawan gencar menyuarakan. “Orang kotor, hatinya juga kotor,” kata Kyai Adi Hidayat dalam sempalan ceramahnya.  Kyai Bahaudin Nursalim atau Gus Baha bicara  tentang pedihnya siksaan lisan atau mulut dalam kajiannya. Surat Al Humazah ayat 1  Allah berfirman: Kecelakan bagi para pengumpat dan pencela. Atau dalam hadist Tarmizi 1925, “Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan orang mukmin kelak di hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah murka pada seseorang yang lisannya kotor dan kasar.” Begitu

Syukurlah, para ulama getol memberikan pencerahan ini, begitu juga tokoh agama lain. Untuk mengerem invasi orang-orang kasar memang perlu kerjakeras. Hati  dan otak perlu filter, berusaha terus jadi insan berkelas apapun kondisi sosial ekonominya, percaya jika adab etika sopan santun memudahkan giat keseharian. Carilah idola-idola yang berperangai kalem dalam disiplin ilmu apapun. Dari mereka kita terinspirasi mengikutinya. Jauhi orang-orang kasar, biarkan mereka terkucil dari peradaban demi generasi baru yang lebih worthed dan valuable.(*)

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry