“Sosok Dr. Lia Istifhama dan Kepemimpinan Kolaboratif Menuju Kedaulatan Pangan Indonesia.”

CATATAN PINGGIR Dr. H. ROMADLON SUKARDI, MM*

TIDAK ada peradaban besar yang lahir tanpa petani yang kuat. Tidak ada negara yang benar-benar berdaulat apabila para petaninya masih hidup dalam ketidakpastian. Lumbung padi boleh penuh, hasil panen boleh melimpah, tetapi apabila senyum petani belum merekah karena kesejahteraannya belum meningkat, maka sesungguhnya perjuangan pembangunan belum selesai. Ukuran keberhasilan pertanian bukan hanya banyaknya gabah yang dipanen, melainkan seberapa besar kemuliaan hidup yang dinikmati oleh mereka yang menanam, merawat, dan memanen hasil bumi untuk memberi makan seluruh bangsa.

Dalam perspektif itulah, pandangan Dr. Lia Istifhama, Anggota DPD RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur, menghadirkan makna kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Ketika beliau menegaskan bahwa panen melimpah belum cukup jika petani belum sejahtera, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan bukan sekadar peningkatan produksi pertanian, melainkan keadilan ekonomi bagi para pelaku utama ketahanan pangan nasional.

Kepemimpinan seperti ini mencerminkan paradigma transformasional, yaitu melihat pembangunan pertanian secara utuh dari hulu hingga hilir. Petani tidak cukup diberi semangat untuk meningkatkan produksi, tetapi juga harus memperoleh kepastian harga, akses terhadap pupuk, pembiayaan yang mudah, teknologi modern, perlindungan dari risiko perubahan iklim, serta jaminan pasar yang memberikan nilai tambah atas jerih payah mereka.

Sebagai akademisi ekonomi Islam, Dr. Lia Istifhama menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang sehat harus berpijak pada prinsip keadilan, keberpihakan kepada kelompok produktif, dan pemerataan manfaat. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya tercermin dalam statistik makro, tetapi harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa yang selama ini menjadi penyangga ketahanan pangan Indonesia.

Dalam konteks Jawa Timur, peran tersebut menjadi semakin strategis. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur memiliki tanggung jawab besar menjaga stabilitas pasokan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan petani. Karena itu, sinergi antara DPD RI, pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, organisasi petani seperti HKTI, perguruan tinggi, dunia usaha, pesantren, serta masyarakat sipil merupakan fondasi penting untuk membangun ekosistem pertanian yang maju, modern, tangguh, dan berkelanjutan.
Kepemimpinan Dr. Lia Istifhama juga memperlihatkan pentingnya politik representasi yang hadir di tengah masyarakat. Aspirasi petani tidak boleh berhenti di sawah, tetapi harus sampai ke ruang-ruang pengambilan keputusan nasional. Seorang wakil daerah tidak hanya membawa suara konstituen, melainkan juga memperjuangkan lahirnya kebijakan publik yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.

Di tengah tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, regenerasi petani, serta disrupsi teknologi, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kolaborasi lintas sektor. Kedaulatan pangan tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah semata, melainkan melalui gotong royong seluruh pemangku kepentingan dengan petani sebagai subjek utama pembangunan.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang visioner bukan hanya berbicara tentang swasembada pangan, tetapi juga tentang martabat petani. Ketika petani memperoleh kehidupan yang layak, generasi muda kembali mencintai dunia pertanian, dan desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, saat itulah ketahanan pangan berubah menjadi kedaulatan pangan yang sesungguhnya. Dari sawah-sawah yang hijau akan tumbuh harapan baru, dari tangan-tangan petani akan lahir masa depan Indonesia, dan dari kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat akan terbangun peradaban bangsa yang adil, makmur, serta berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Hikmah Catatan Pinggir

Bangsa yang menghormati petaninya sedang menanam masa depan. Panen terbaik bukan sekadar melimpahnya hasil bumi, melainkan tumbuhnya kesejahteraan, keadilan, dan harapan di setiap keluarga petani. Sebab di tangan petani yang sejahtera, berdiri kokoh ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, dan martabat sebuah bangsa.”

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry