Direksi Bank Jatim usai paparan publik secara virtual yang digelar Kamis (22/10/2020). DUTA/ist

SURABAYA l duta.co – Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet Bank Jatim pada semester tiga 2020 ini berada di posisi 4,49 persen. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 2,77 persen.

Peningkatan NPL ini diakui Direktur Utama Bank Jatim,  Basrul Iman karena pandemi Covid-19. Di mana semua sektor penggerak ekonomi terhenti sehingga berpengaruh pada kelancaran dalam melakukan pembayaran kreditnya.

“Pandemi sangat berpengaruh pada cashflow tidak hanya di perbankan tapi di semua sektor usaha. Tapi NPL kita masih di batas toleransi,” ujar Basrul dalam paparan publik semester tiga 2020 secara virtual, Kamis (22/10/2020).

Diakui Basrul, dengan tingginya NPL ini, pihaknya berusaha untuk memanfaatkan stimulus dari pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sebagainya. Di mana Bank Jatim memberikan relaksasi kredit pada debitur yang tercatat dan terdampak pandemi Covid-19.

Stimulus yang diberikan hingga September 2020, sebesar Rp 1,69 triliun untuk 2.753 debitur. Yang saat ini masih dalam proses relaksasi yakni sebanyak Rp 359 miliar untuk 944 debitur.

Dari  Rp 1.69 triliun itu yang terbesar untuk debitur di sektor komersial senilai Rp 1,2 triliun, Rp 494 miliar untuk UMKM dan Rp 484 miliar konsumer. “Tapi relaksasi ini sudah mulai melandai di September ini hanya Rp 102 miliar,” tukasnya.

Karena itu, saat ini Bank Jatim juga mulai fokus pada penyaluran kredit untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Hingga 16 Oktober 2020, total dana yang disalurkan sebesar Rp 3,63 triliun atau 90 persen lebih dari total dana Rp 4 triliun. Basrul memperkirakan dana ini bisa habis pada akhir November 2020.

Dana PEN ini cukup membantu penyaluran kredit Bank Jatim secara keseluruhan. Dari data yang ada, hingga September 2020, Bank Jatim telah menyalurkan kredit sebesar Rp 40,38 triliun. Jumlah ini meningkat sebesar 7,03 persen dari periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Kredit di sektor UMKM menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar Rp 6,46 triliun atau tumbuh 12,24 persen (YoY) diikuti dengan pertumbuhan kredit korporasi yaitu sebesar Rp 10,01 triliun atau tumbuh 9,86 persen.  “Alhamdulillah kinerja kita di masa pandemi ini cukup menggembirakan,” tukasnya.

Kinerja keuangan hingga September 2020 ini memang menunjukkan performa yang bagus. Aset Bank Jatim tercatat Rp 82,08 triliun atau tumbuh 13,80 persen (yoy), dana pihak ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan 13,99 % (yoy) yaitu sebesar Rp 69,77 triliun.

Komposisi rasio keuangan periode September 2020 antara lain Return on Equity (ROE) sebesar 18,63 persen, Net Interest Margin (NIM) sebesar 5,70 persen dan Return On Asset (ROA) 2,57 persen.

Sedangkan biaya operasional dibanding pendapatan pperasional (BOPO) masih tetap terjaga di angka 70,25 persen. Dari keseluruhan kinerja positif tersebut, Bank Jatim berhasil mencatatkan laba sebesar Rp 1,10 triliun.

“Pandemi Covid-19 menjadi salah satu tantangan terberat yang dihadapi setiap elemen masyarakat. Bankjatim bersyukur masih mampu memberikan kinerja yang positif khususnya untuk mendorong perekonomian Jawa Timur,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry