JAKARTA | duta.co — Pandemi Covid-19 memang membawa bencana di berbagai kawasan. Meski demikian, pandemi juga membuka hikmah percepatan pendidikan dan inovasi digital untuk pembelajaran. Demikian kesimpulan dari diskusi online ‘Inovasi Teknologi Pembelajaran untuk Mengembangkan Karakter Pelajar Pancasila’ pada Rabu (04/08/2021).

Agenda yang disiarkan secara langsung melalui TV Edukasi ini, dihadiri oleh beberapa narasumber, yakni Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud Ristek Dr. Hasan Chabibie, Associate Professor ITS Dr. Ari Santoso, DEA, psikolog Dian Kurniati, guru dan agen Penguatan Karakter Puspeka Kemendikbud Rachmad Effendi dan Duta Rumah Belajar Jatim Kiki Niken Saputri.

Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbudristek Dr. Hasan Chabibie menyampaikan bahwa pandemi membuka lompatan inovasi digital. “Pandemi memang menjadi bencana kemanusiaan, tapi di sisi lain mendorong percepatan penggunaan teknologi digital untuk pembelajaran.”

Hasan Chabibie, dalam beberapa kesempatan menyampaikan pentingnya literasi digital dan literasi data untuk pengembangan pendidikan di era ini. Berbagai inovasi digital dari pemerintah maupun perusahaan teknologi, harus diimbangi dengan literasi digital dan kecakapan mengelola data.

Wagub Jatim Emil Dardak menyampaikan ada perubahan mendasar dalam perbankan dan pendidikan, karena inovasi teknologi.

“Sekarang ini, perbankan bergeser menjadi penyedia layanan transaksi. Demikian, pakar IT menempati posisi yang sangat penting dalam layanan perbankan saat ini. Hal yang sama juga berlaku untuk pendidikan. Bahwa, teknologi akan menjadi tulang punggung dalam pendidikan kita,” jelasnya.

Ia menambahkan betapa penting teknologi informasi. “Untuk itu, penting sekali ada upaya yang berkelanjutan, dan melibatkan seluruh pihak: pemerintah pusat, provinsi, pemerintah kota, hingga ke desa. Bahkan, menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk menggerakkan penerapan ICT di dunia pendidikan Indonesia.”

Emil Dardak juga menyampaikan bahwa pandemi memunculkan hikmah.

“Bahwa, pendidikan tidak berhenti di sekolah. Siswa di manapun dia berada, dalam kapasitas sebagai pembelajar. Bisa belajar dari kurikulum, sejalan dengan mata pelajaran yang diambil, atau hal-hal yang sifatnya personal development,” jelasnya.

Mantan Bupati Trenggalek ini menyampaikan bahwa ebijakan Merdeka Belajar menjadi lebih teraktualisasi pada proses belajar mengajar selama pandemi Covid-19.

“Sekarang ini, anak-anak akan menjadi lebih siap untuk mengadaptasi diri dengan revolusi industri 4.0. Karena dalam pendidikan dia sudah melek digital, tidak hanya bidang IT tapi juga bisa belajar secara independen, maka dia akan punya kemampuan adaptasi dengan landscape teknologi informasi,” demikian pendapatnya.

Lebih dari itu, Emil Dardak menyampaikan betapa penting kurasi informasi dari media digital. “Di era overload informasi ini, kita tidak hanya mencari informasi. Namun, kita mengkurasi informasi yang ada. Jadi, jangan kaget dengan informasi yang didapat dari internet, jangan langsung percaya. Maka, harus bisa memilah informasi. Selain itu, memvisualisaikan ide dalam literasi digital menjadi sangat penting,” terangnya.

Sementara, dosen ITS Surabaya Dr. Ari Santoso menyampaikan ada tantangan besar yang dihadapi. “Untuk saat ini, teknologi masih sulit menggantikan peran orang tua dan guru, karena pendidikan sangat bergantung di dua sosok ini. Selain itu, peran orang tua penting, tapi pemerintah harus melihat bahwa bagaimana struktur sosial budaya di Indonesia, yang saat pandemi sekarang ini beban orang tua sangat berat,” demikian ia menyampaikan (*).

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry