SURABAYA | duta.co – Pandemi mengubah banyak paradigma pemikiran masyarakat, termasuk pandangan soal asuransi. Proteksi kesehatan, perlindungan jiwa dan kerugian dengan menjadi nasabah asuransi selama ini masih menjadi urusan kedua bagi sebagian besar masyarakat menengah bawah, kini secara perlahan banyak  masyarakat yang menyadari pentingnya memiliki proteksi kesehatan, perlindungan jiwa dan kerugian.

Analisa menarik dilontarkan Akademisi Ekonomi dari Universitas Islam Malang (Unisma), Harun Al Rasyid menilai bisnis asuransi ke depan masih banyak peluang yang bisa dioptimalkan, bahkan di masa pandemi. Pandemi menyadarkan banyak masyarakat dan mengubah pola pikir mereka tentang pentingnya proteksi.

“Disadari atau tidak, pandemi ini justru membuat orang sadar untuk ikut asuransi. Mereka  mulai menyimpan dan mengatur keuangan dengan lebih bijak. Kalau dulu dianggap tidak penting, tapi saat ini minat asuransi semakin bertambah,” kata Harun Al Rasyid  Kaprodi Islamic Banking Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unisma.

Harun menyebutkan sebuah survei minat orang yang berencana membuka polis. Hasil survei menyebutkan sebanyak 30 persen ingin membeli polis asuransi jiwa dan kesehatan, untuk penyakit kritis dan asuransi rawat inap sampai 34 persen.

“Ini artinya, dengan Covid-19, masyarakat semakin sadar bahwa asuransi menjadi kebutuhan dasar dan darurat. Jadi bagaimanapun semua aktivitas manusia membutuhkan proteksi dan pendampingan supaya kita tetap nyaman beraktivitas,” imbuhnya.

Di balik terjadinya covid-19, ternyata menyadarkan masyarakat akan pentingnya memiliki proteksi baik itu kesehatan, jiwa ataupun kerugian lainnya. Adanya covid-19 menjadi literasi bonus bagi industry asuransi bahwasanya makin banyak masyarakat yang sadar dan ingin mengetahui produk asuransi untuk jaga-jaga.

“Ini peluang besar bagi perusahaan asuransi menangkap peluang itu. Tentu saja seiring perkembangan tekhnologi, layanan digital menjadi keharusan khususnya untuk nasabah milenial. Dimana mereka lebih percaya dengan review dan digitalisasi daripada agen perusahaan asuransi itu sendiri. Ini jelas transformasi nasabah yang harus ditangkap perusahaan asuransi untuk bisa menghadapi tipologi calon nasabah yang terus berkembang,” jelas Harun.

Harun menambahkan Indeks Literasi Keuangan di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Tahun 2013 sebesar 21,84 persen, tahun 2016 naik menjadi 29,7 persen dan tahun 2019 meningkat menjadi 38,03 persen. Sementara prosentase literasi keuangan responden berdasarkan sector jasa keuangan, untuk asuransi tahun 2016 sebesar 15,8 persen di tahun 2019 meningkat menjadi 19,40 persen.

“Hasil survey tahun 2021 diprediksi indeks literasi keuangan bakal meningkat pesat, termasuk asuransi. Makin mudahnya akses informasi dan dominasi generasi milenial, literasi keuangan dan asuransi akan terus meningkat. Masyarakat makin peduli dengan proteksi yang harus disiapkan secara terencana untuk jangka panjang. Kalau terjadi apa-apa sudah ada back up dan perlindungan keuangan, sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak bermasalah dengan finansialnya. Dan asuransi sebagai solusi perlindungan dan perencanaan keuangan jangka panjang sangat pas. Tinggal pilih produk yang sesuai dengan kebutuhan,” tegas Harun.

OJK : Asuransi 2021 Tumbuh Positif

Makin pulihnya ekonomi dan adanya vaksinasi covid-19 membawa angin segar bagi industry asuransi tahun 2021 ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 4 Jawa Timur memperkirakan kinerja asuransi di Jawa Timur maupun secara nasional tahun ini akan tumbuh lebih positif seiring dengan mulai bergeliatnya aktivitas ekonomi.

Direktur Pengawasan LJK OJK KR 4 Mulyanto mengatakan kinerja premi asuransi baik umum dan asuransi jiwa memang mengalami kontraksi termasuk di wilayah Jatim yang mengalami penurunan sebesar -17,8 persen.

“Kita harus mengakui bahwa geliat aktivitas ekonomi akan mempengaruhi naik turunnya premi asuransi dan memang kegiatan ekonomi setahun terakhir ini turun akibat pandemi dan ini mempengaruhi premi-premi yang dibayarkan masyarakat,” katanya dalam virtual Axa Mandiri FGD Potensi dan Tantangan Bisnis Asuransi di masa pandemi beberapa waktu lalu.

Meski begitu, kata Mulyanto, tahun ini bisnis asuransi masih memiliki prospek yang lebih baik dari tahun lalu. Berkaca pada kinerja awal tahun, yakni Januari 2021, secara nasional premi asuransi jiwa dan umum mencatatkan pertumbuhan positif yakni mencapai Rp30,35 triliun, atau naik dibandingkan dengan Januari 2020 yang hanya Rp26,17 triliun.

“Jika melihat kondisi capaian nasional di awal tahun ini sudah tampak positif, meskipun saat ini masih dalam pandemi. Maka kami optimistis kinerja asuransi sampai akhir tahun ini akan tumbuh lebih tinggi dari capaian 2020,” ujarnya.

Menurutnya, prospek bisnis asuransi ke depan masih dianggap menjanjikan karena setiap aktivitas manusia membutuhkan perlindungan dan proteksi. Bahkan, adanya pandemi mulai menyadarkan masyarakat untuk mulai memproteksi diri dengan ikut asuransi.

Berdasarkan data OJK Jatim hingga Februari 2021, tercatat jumlah perusahaan asuransi di Jatim mencapai 510 perusahaan termasuk perusahaan cabang. Dari jumlah itu sebanyak 336 merupakan asuransi jiwa, dan sebanyak 168 merupakan asuransi umum, serta 6 perusahaan asuransi wajib

Sementara itu, kinerja premi asuransi di Jatim sepanjang 2020 mencapai Rp17,36 triliun atau turun -18,6 persen dibandingkan dengan 2019 yang mampu mencapai Rp17,36 triliun. Premi asuransi umum pada 2020 mencapai Rp3,18 triliun atau turun -13 persen dibandingkan dengan 2019 yakni Rp3,66 triliun. Secara total baik jiwa maupun umum, premi asuransi di Jatim 2020 mencapai Rp20,55 triliun atau turun -17,8 persen dibandingkan 2019 yakni Rp25 triliun.

Untuk kinerja klaim asuransi di Jatim pada 2020 tercatat mencapai Rp15,06 triliun atau turun -19,1 persen dibandingkan dengan 2019 yakni Rp18,62 triliun. Dari total klaim 2020 tersebut, sebanyak Rp13,7 triliun merupakan asuransi jiwa dan sebanyak Rp1,36 triliun merupakan asuransi umum. Adapun, klaim 2019 tercatat senilai Rp16,4 triliun dari asuransi jiwa dan sebanyak Rp2,22 triliun merupakan asuransi umum

Axa Mandiri Siapkan Asuransi Mikro

Pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri bagi industri asuransi. Sejumlah strategi dijalankan agar kinerja tetap positif.

“Axa Mandiri terus menyediakan produk asuransi yang seusai dengan kebutuhan dan kemampuan nasabah,” kata Chief Bussines and Distribution Axa Mandiri, Theodores Tangke.

Sesuai dengan kondisi saat ini, PT Axa Mandiri Financial Services (Axa Mandiri) akan meluncurkan produk asuransi yang menyasar segmen menengah ke bawah atau mikro.

“Sekarang memang ada kecenderungan nasabah memilih perlindungan premi yang murah, jadi tahun ini kita berupaya memperluas penjualan asuransi mikro dengan premi murah mulai Rp50.000, ada pertanggungan jiwa dan rumah sakit. Ini diharapkan bisa membantu segmen mikro,” jelasnya.

Selain itu, dengan pembatasan sosial yang masih dijalankan, Axa Mandiri juga mengembangkan layanan digital. “Belajar dari pengalaman 2020, layanan digital memegang peranan penting karena kita harus terus terkoneksi dengan nasabah di masa pandemi,” ujar Theo.

Dikatakan Theo, Axa Mandiri juga meluncurkan dua aplikasi yang dapat dipergunakan oleh para tenaga pemasar maupun nasabah sehingga kedua belah pihak bisa melakukan tanya jawab secara langsung dan mendapatkan poin-poin tertentu saat membayar premi.

Axa Mandiri pada 2020 sendiri mencatatkan kinerja klaim asuransi sebesar Rp4,8 triliun. Jumlah klaim yang dibayarkan tersebut turun dibandingkan 2019 yakni mencapai Rp5,3 triliun.

AXA Mandiri Rilis Asuransi Mandiri Secure Wealth

Salah satu komitmen AXA Mandiri mendampingi nasabah sebagai partner untuk memiliki perencanaan keuangan yang baik, khususnya menghadapi ketidakpastian, termasuk akibat pandemi saat ini. Untuk itu, PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) menghadirkan solusi perlindungan jiwa dan perencanaan keuangan jangka panjang terbaru Asuransi Mandiri Secure Wealth. Yaitu solusi perlindungan yang memberikan manfaat perlindungan jiwa dan berbagai manfaat lainnya ini.

Asuransi Mandiri Secure Wealth solusi perlindungan jiwa dwiguna (endowment) tersedia dalam dua pilihan plan, yaitu Plan 5 dan Plan 10. Nasabah bisa mendapatkan manfaat maksimal, yaitu perlindungan selama 10 tahun hanya dengan membayar premi selama 5 tahun bagi yang memilih Plan 5 dan perlindungan selama 15 tahun hanya dengan membayar premi 10 tahun bagi yang memilih Plan 10.

Lebih dari itu, inovasi terbaru dari AXA Mandiri ini memberikan manfaat lebih dengan adanya manfaat tunai yang bisa dinikmati oleh nasabah selama masa asuransi. Hal ini tentunya dapat membantu nasabah dalam mempersiapkan dana yang cukup untuk rencana masa depan, baik itu untuk perencanaan berumah tangga, renovasi rumah, kebutuhan anak, perjalanan ibadah atau bahkan menikmati liburan.

Direktur AXA Mandiri Henky Oktavianus menjelaskan, “Hadirnya solusi perlindungan terbaru ini menggarisbawahi komitmen AXA Mandiri terus berinovasi dalam memberikan perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Dengan berbagai macam manfaat mulai dari perlindungan jiwa hingga manfaat tunai, tentunya kami berharap dapat membantu nasabah dalam mewujudkan rencana masa depan mereka.”

Beragam manfaat lainnya yang bisa didapatkan nasabah dari Asuransi Mandiri Secure Wealth yakni. Perlindungan jiwa atas risiko meninggal dunia karena sebab apa pun sebesar 100% dari Uang Pertanggungan (UP) Dasar tanpa dikurangi dengan manfaat tunai yang telah dibayarkan.

Manfaat tambahan meninggal dunia karena kecelakaan sebesar 50% dari UP Dasar, Manfaat tunai yang akan dibayarkan pada masa asuransi hingga lebih dari 20% UP Dasar dan Manfaat akhir masa asuransi hingga 160% dari UP Dasar yang akan dibayarkan pada akhir periode asuransi

Berbagai keunggulan tersebut bisa didapatkan oleh tertanggung dengan usia masuk 15 hari sampai 60 tahun. Dengan nilai premi mulai dari 12 juta rupiah per tahun, nasabah dipermudah dengan beberapa opsi pembayaran yang dapat dilakukan secara tahunan, per semester, atau bahkan per kuartal.

“Asuransi Mandiri Secure Wealth menghadirkan solusi perlindungan sebagai jawaban atas kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan dana masa depan mereka. Kami percaya bahwa memiliki dana darurat yang bersifat jangka panjang untuk masa depan adalah suatu keharusan bagi masyarakat untuk perlindungan diri sendiri dan keluarga tercinta di masa yang akan datang,” tutup Henky. Imam ghozali

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry