Prosesi larung sesaji saat sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia (dok/duta.co)

BLITAR | duta.co – Memasuki tahun baru Islam dimasa pandemi Covid-19 membuat pemerintah kabupaten Blitar tetap mengelar ritual budaya. Ritual budaya larung sesaji dipantai Tambak Rejo ini dilakukan dengan standar kesehatan ketat yakni Prokes dan rapid antigen. Pemkab juga membatasi akses peserta larung yang hanya boleh diikuti oleh kelompok panitia larung untuk menghindari persebaran Covid-19.

Tradisi larung sesaji di pantai selatan Kabupaten Blitar tetap digelar meski masih diselimuti pandemi. Bedanya tahun ini Pemerintah Kabupaten Blitar memutuskan jika prosesi larung sesaji yang dilaksanakan di Pantai Tambakrejo itu digelar tertutup.

Panitia juga mengemas tradisi larung sesaji secara lebih singkat. Beberapa prosesi dihilangkan, dan hanya akan ada prosesi inti saja. Selain itu, prosesi upacara larung sesaji ini juga tidak akan dilaksanakan di pinggir  pantai  seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun panitia menggesernya ke tempat pelelangan ikan (TPI).

“Larung sesaji akan digelar Rabu 11 Agustus. Namun digelar tertutup untuk umum. Hanya ada 20 orang yang akan melakukan prosesi inti. Kami juga tidak mengundang Forkopimda,” ujar Kepala Disparbudpora   Blitar Suhendro Winarso.

Dia menambahkan, prosesi yang dihilangkan adalah kirab tumpeng dan pagelaran tari-tarian. Acara langsung ke intinya yaitu doa yang dipimpin sesepuh spiritual di sana dan larung sesaji.

“Jadi singkat, karena langsung ke acara inti,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Hendro, lokasi prosesi akan ditutup pagar. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kerumunan masyarakat yang mendekat ke lokasi prosesi. Mereka yang terlibat langsung juga diwajibkan menerapkan protokol kesehatan ketat seperti screening suhu tubuh, dan tes rapid antigen.

“Kami berharap semua bisa memahami karena kondisi masih pandemi,” pungkasnya.(hendi)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry