KUNJUNGAN : Staf Ahli Menteri Koperasi dan UMKM RI, Bidang Hubungan Antar Lembaga Ir. Luhur Pradjarto, MM (kanan) bersama Direktur OPOP Training Center Unusa, Mohammad Ghofirin saat melihat OPOP Mart beberapa waktu lalu. DUTA/istimewa

SURABAYA l duta.co – Program Pemerintah Provinsi Jawa Timur, One Pesantren One Product (OPOP) secara otomatis terhenti akibat pandemi Covid-19 ini.

Pelatihan-pelatihan yang biasanya dilakukan melalui tatap muka dari pesantren yang satu ke yang lain, kini juga ikut terhenti.

Namun kegiatan yang bisa dilakukan secara daring tetap bisa dijalankan agar program OPOP bisa terus berjalan dan di semester kedua 2020 semua target yang tertunda bisa dikebut pengerjaannya.

Sekretaris OPOP Jawa Timur, Mohammad Ghofirin mengatakan kegiatan OPOP yang dilakukan secara tatap muka memang terhenti. Namun masih ada kegiata-kegiatan lain yang justru lebih mudah jika dilakukan secara online. Salah satunya adalah pengurusan merek.

Saat ini, produk pesantren yang sudah terdaftar di OPOP Center memang masih belum semua memiliki legalitas merek. Padahal, merek ini sangat penting agar produk itu bisa lebih dipercaya masyarakat luas.

“Sekarang, mereka yang mau mengurus merek kita bantu lakukan melalui daring. Dan Alhamdulillah, semua memanfaatkan itu karena kami mengusahakan pendaftaran merek ini tidak bayar alias gratis,” ujar Ghofirin yang juga Direktur OPOP Training Center Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini.

Selain itu, OPOP Training Center Unusa khususnya, mencoba untuk membantu memasarkan produk pesantren yang sudah terdaftar di OPOP Center melalui berbagai media penjualan terutama online.

Karena, diakui Ghofirin, sejak pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren – pondok pesantren sudah banyak yang ‘menjerit’ karena produk yang mereka hasilkan tidak terserap pasar.

Pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk pesantren yang dilakukan Direktur OPOP Training Center Unusa, Mohammad Ghofirin beberapa waktu lalu. DUTA/istimewa

“Kita bantu untuk menjualkan, lewat online tentunya. Karena sampai saat ini kami belum memiliki market place sendiri secara online. Karena sebenarnya target kami memiliki itu masih dalam proses dan sudah keduluan lockdown,” tukasnya.

Tapi yang tak kalah penting, kata Ghofirin, OPOP Training Center Unusa tetap mendampingi pondok pesantren untuk meningkatkan kualitas produknya. Walaupun pendampingan itu dilakukan secara online. “Mereka yang butuh konsultasi bisa langsung dilakukan. Karena OPOP Training Center selalu siap untuk melakukan pendampingan apapun kondisinya,” jelas dosen akuntansi Unusa ini.

Dengan kondisi seperti ini, OPOP tetap menargetkan jumlah produk yang terdaftar di OPOP Training Center Unusa masih sesuai target yang ditetapkan yakni 200 produk di 2020. Sehingga total produk yang ada menjadi 350 karena 150 produk sudah berhasil dicapai pada 2019 lalu.

“Kita akan genjot target itu di semester dua 2020 ini. Harus ngebut ketika pandemi ini berakhir. Dan semoga bisa mencapai target yang diharapkan,” tukassnya.

Kebanyakan Produk Mamin

Di OPOP Mart yang berada satu gedung dengan OPOP Training Center Unusa, terlihat produk pesantren yang dihasilkan kebanyakan makanan dan minuman (mamin). Dan semua produk yang terpajang di OPOP Mart sudah layak untuk dipasarkan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah merasa bangga karena kemasan produk OPOP sudah marketable, sudah kekinian dan disesuaikan dengan kemajuan zaman. Begitu pun dengan merek yang tertera, sangat mengundang konsumen untuk memegang,  membaca dan membalinya karena ada rasa penasaran dengan isi di dalamnya.

Diakui Khofifah, produk mamin saat ini sangat ini memang sedang diminati. Baik itu di industri 4.0 maupun di ekspor, mamin masih tertinggi dibandingkan lainnya. “Jadi kalau OPOP itu fokusnya ke mamin, itu sudah di track yang benar,” ujarnya saat meresmikan OPOP Mart beberapa waktu lalu.

Karena itu, Pemprov sendiri sudah berupaya untuk memberikan pendampingan dengan menggandeng Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat.  Tujuannya untuk memberikan garansi atau jaminan atas produk mamin yang dihasilkan OPOP baik itu pesantrenpreneur (produk hasil pesantren), santripreneur (produk hasil santri) dan sociopreneur (produk dari alumni pesantren dan sekitarnya).

Selain itu juga bekerjasama dengan Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama Republik Indonesia yang menunjuk Unusa menjadi Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Sehingga semakin memudahkan produk OPOP untuk disertifikasi halal.

“Karena jaminan-jaminan produk seperti itu yang saat ini dicari. Masyarakat sudah pintar, mereka mencari dan mengonsumsi yang ada jaminannya, jaminan kebersihan, halal dan tidak membayakan,” tukasnya.

Ditambahkan Ghofirin adanya OPOP Mart itu memiliki harapan untuk memantik pondok pesantren untuk ikut serta membuka toko serupa. Dengan begitu, distribusi dari produk yang dibuat santri bisa banyak. “Agar masyarakat mengetahui produk-produk hasil Pondok Pesantren yang berafiliasi OPOP,” ungkapnya. end/bbs

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry