Mahasiswa Unusa mempraktikkan gerakan olahraga untuk penderita DM di daerah Sidotopo Wetan. DUTA/ist

Penderita diabetes mellitus (DM) membutuhkan olahraga yang rutin, selain terapi nutrisi medis (asupan makan), intervensi farmakologis (obat) dan edukasi.

Namun, sejak pandemi Covid-19, olahraga yang biasa dilakukan para penderita DM di Posyandu Lansia terhenti. Sehingga banyak panderita DM yang berhenti melakukan olahraga rutin. Padahal olahraga bagi penderita DM untuk mencegah terjadinya luka.

—–

Gerakan olahraga sangat mudah dilakukan di rumah. DUTA/ist

Karena rasa prihatin, banyak penderita DM yang tidak melakukan aktivitas olahraga apapun sejak pandemi, lima dosen dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FFKK) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FKK Unusa) menggelar pengabdian masyarakat.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Pengabdian masyarakat ini dilakukan Ratna Yunita, Abdul Muhith, Riska Rohmawati, Imamatul Faizah dan Lea Maera Shanty di kawasan Sidotopo Wetan Surabaya pada Mei 2021 lalu.

Kegiatan ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya penderita DM agar tetap bisa menjalankan olahraga rutin di rumah. Selama ini, penderita DM di kawasan itu melakukan olahraga di Posyandu Lansia Septa Lestari RW 007 Kelurahan Sidotopo Wetan. Mereka berolahraga dengan panduan instruktur terlatih.

“Tapi karena pandemi, posyandunya tutup, sehingga penderita sama sekali tidak melakukan olahraga apapun,” kata Ratna Yunita selaku ketua tim pengabdian masyarakat.

Padahal, dikatakan Ratna, penderita DM harus rutin berolahraga. Agar badannya bergerak dengan baik dan sirkulasi darah juga berjalan baik. Kalau tidak, nantinya penderita akan rentan mengalami gangguan kesehatan.

Padahal, di masa pandemi ini, mereka yang memiliki penyakit bawaan sangat bahaya jika terkontaminasi virus corona. Risiko mengalami kefatalan akan lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki penyakit bawaan.

“Ini hanya menjaga agar penderita bisa tetap bugar. Karena olahraga, asupan makanan dan obat-obatan itu harus dilakukan bersamaan, tidak boleh ditinggalkan salah satunya,” tukas Ratna.

Karena, penderita DM juga tidak boleh melakukan olahraga yang terlalu berat, maka edukasi gerakan-gerakan yang diajarkan para dosen dibantu mahasiswa ini lebih sederhana.

“Tapi karena ini tujuannya agar penderita DM bisa melakukan olahraga rutin di rumah sendiri tanpa instruktur, maka kita beri latihan cara olahraga yang mudah dilakukan,” jelasnya.

Olahraga yang mudah dan direkomendasi itu adalah resistance exercise.              Jenis olahraga ini adalah untuk melatih jaringan perifer agar sirkulasinya bisa lancar. Jika lancar maka peredaran darah juga akan lancar.

“Karena komplikasi penderita DM itu yang diserang adalah sirkulasi jaringan perifernya. Jika itu tidak dijaga maka akan menimbulkan luka. Cara menjaganya dengan olahraga itu yang mudah resistance exercise,” ujarnya.

Latihan gerakan-gerakan sederhana diberikan para dosen dan mahasiswa. Para penderita yang didatangi satu persatu ke rumah masing-masing itu menyambutnya dengan gembira. Mereka yang selama pandemi hanya berdiam diri tidak melakukan aktivitas olahraga apapun karena kurangnya informasi dan pengetahuan, kini bisa lebih terbuka pikiran dan pengetahuannya.

Karenanya, hasil evaluasi didapatkan peningkatan pengetahuan masyarakat penderita diabetes mellitus sebesar 46,84% dari hasil pretest dan posttest yaitu 56,77% menjadi 100%.

Kesimpulan dari hasil kegiatan pengetahuan masyarakat penderita diabetes mellitus meningkat tentang resistance exercise yang dapat dilaksanakan secara mandiri diruma yang berguna untuk menjaga kesehatan selama pandemi Covid-19. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry