Kiai SAS dan Presiden Jokowi dalam suatu acara. (FT/IST)

LAMPUNG | duta.co – Siapa bilang Muktamar terkait Caketum PBNU adem ayem? Maunya sih begitu. Tetapi, faktanya, Muktamar ke-34 NU yang berlangsung di Lampung itu, persaingan – antara Gus Yahya Cholil Staquf  (GY) dengan KH Said Aqil Sirodj (KH SAS) – semakin panas.

Kubu GY mengklaim telah mendapatkan dukungan 469 Suara, terdiri dari 447 Pengurus Cabang NU (PCNU) dan Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Indonesia. DR H Ahmad Fahrur Rozi alias Gus Fahrur dalam tulisannya di medsos nahdliyin menggunakan tajuk ‘Muktamar Sejuk di Lampung’, juga menyebut sama.

Ia membantah berita makassar.terkini.id  yang membuat judul berita  “Gawat! PBNU Diprediksi Pecah di Muktamar NU, Sinyal Bahaya Bagi Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf” Rabu (22/12/2021).

Menurutnya, media ini telah membuat opini seakan kemenangan Gus Yahya sebagai ketua umum PBNU nantinya tidak akan diterima atau ditolak oleh kubu Said Aqil Sirodj. Alasannya kecurangan dalam pemilihan, dan tudingan adanya intervensi pemerintah melalui kementerian Agama kepada cabang cabang NU.

Gus Fahrur juga menyebut dirinya mengikuti pertemuan (ikrar kubu GY) di Graha Wangsa, Bandarlampung, Selasa (21/12) malam. Ia melihat bahwa dukungan untuk Gus Yahya memang sangat nyata, sebanyak 447 Pengurus Cabang NU (PCNU) dan Pengurus Wilayah NU (PWNU) berkumpul dan berikrar mendukung calon Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam Muktamar Ke-34 NU di Lampung pada 22-23 Desember 2021.

Tulisnya, ada tiga poin ikrar dalam pertemuan itu, yakni mendukung penyelenggaraan Muktamar Ke-34 NU berjalan damai, sejuk dan bermartabat serta mendukung penyelenggaraan muktamar sesuai dengan protokol kesehatan dan mendukung KH Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2021-2026.

Gus Fahrur menulis fakta riil di lapangan versinya. “Yakin muktamar akan berlangsung aman dan lancar meskipun mungkin sedikit akan ada debat dalam pleno pertama tentang ke absahan sebagian peserta, batas minimal bacalon, mekanisme tabulasi calon AHWA dan penentuan lokasi pengambilan suara,” jelasnya.

“Dari hasil pantauan sampai rapat siang hari ini Rabu (22/12) hampir pasti nama-nama Anggota AHWA akan sesuai usulan yang beredar. Dan, pasangan KH Miftahul Akhyar (Rois Aam) dengan Gus Yahya Cholil Staquf (Ketum PBNU) akan melenggang mulus memimpin PBNU masa khidmah 2021-2026,” tulisnya.

Untuk Sang Bohir Biar Cair?

Tetapi, klaim kubu GY ini memang impossible, kalau tidak kelewatan. Bahkan klaim itu hanya untuk membuktikan kepanikan kubu mereka. Bagaimana mungkin? “Jam 00.00 Rabu malam saja pendaftaran baru mencapai 510 pemilik suara. Pada saat yang sama, para koordinator Kiai Said Aqil Siroj masing-masing mengadakan pertemuan dengan para Ketua PCNU yang berada di bawah kendalinya. Totalnya 321 pemilik Suara dari PCNU. Daftar hadirnya komplit,” jelas kubu Kiai SAS dengan menyebut sebanyak 24 PWNU silaturahim bersama Kiai Said Aqil Sirodj di kompleks perumahan Gunung Terang Lampung.

“Lah terus yang mereka klaim hadir di acara Gus Yahya itu pemilik suara yang mana? Info yang kami peroleh, mereka itu rombongan liar (Romli) dan sebagian besar dari anak-anak Ansor. Terlihat jelas tuh dari muka dan bajunya,” sindir Sudarto sebagaimana berita voi.id sambil memprediksi acara tersebut hanya semata-mata agar para bohir mengucurkan dana.

Beda dengan Parpol

Begitu juga Akhmad Muqowam, tokoh utama penggalangan Caketum KH SAS. “Alhamdulillah Yai Said sudah mendapatkan dukungan penuh dari PWNU dan PCNU baik yang di dalam negeri maupun PCI-NU (luar negeri),” ungkap Akhmad Muqowam kepada pers Rabu (22/12).

Kendati demikian, Mas Qowam, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa tim-nya SAS tidak akan terpancing dengan berbagai provokasi dari pihak lain, karena kompetisi di arena Muktamar NU ini berbeda jauh dengan laga perebutan kepemimpinan di lembaga lain, seperti Partai Politik. “Dalam Muktamar NU itu kita tidak bisa menafikan unsur moralitas yang bersumber dari agamal,” tandas Ketum IKA PMII itu.

Dari laporan yang ada, jelas Mas Qowam, mendekati detik-detik penentuan Calon Ketua Umum PBNU, nama Kiai SAS makin melambung. Meski tidak menggunakan instrumen berbagai fasilitas yang bisa menimbulkan pro-kontra. Dari realitas itu, laju Kiai SAS menuju ke kursi Ketum PBNU sulit terkejar oleh kandidat lain, apalagi tantangan dan beban NU ke depan itu makin membutuhkan kepemimpinan dia.

Belum lagi bicara soal sanad ke-ilmuan, banyak sekali pimpinan PWNU dan PWNU yang posisinya beririsan dengan SAS. “Pola hubungan seperti itu juga nggak bisa kita nafikan dalam kultur NU. Dari berbagai aspek itulah yang makin meyakinkan tim kami bahwa SAS merupakan pilihan yang tetap menjadi nahkoda PBNU ke depan. Apalagi dengan dukungan serta doa restu dari para Habaib, Ulama, Masyayekh, Kiai Sepuh yang sangat dominan di NU,” pungkas Mas Qowam. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry