
SURABAYA | duta.co – Kritik keras dan terus viral sampai hari ini (Senin 25/5/26) di media sosial adalah suara panas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, soal MBG (Makan Bergizi Gratis). Kalau dulu dia sering berkaos MBG (Maling Berkedak Gizi) kini ia melontarkan pernyataan kontroversial dan menyebut SPPG sejatinya adalah kepanjangan Satuan Penjilat Prabowo-Gibran.
“Kritiknya sangat keras dan tajam, Sampai-sampai Prof Mahfud MD tersenyum,” demikian disampaikan Hari Sucipto, pegiat anti korupsi kepada duta.co Senin (25/5/26).
Apa yang disampaikan Tiyo memang merupakan gelombang perlawanan moral dari kalangan akademisi dan mahasiswa kembali bergejolak hebat di jantung Kota Pelajar. Kritik kerasnya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun dinilai sangat berani. Setidaknya itu bisa disaksikan dalam forum diskusi publik bertajuk ‘Terus Terang Mahfud MD’ yang digelar di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.
Acara yang ditayangkan di akun YouTube Mahfud MD Official, Kamis (21/5/2026) itu berupa kritik beruntun dan menohok dihujamkan langsung ke jantung kekuasaan rezim Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. “Ini keberanian seorang mahasiswa yang perlu dijaga. Tiyo telah menjadi sosok pemberani yang peduli nasib sesame,” tegas Cipto.
Ia terus melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut SPPG sejatinya adalah Satuan Penjilat Prabowo-Gibran. Pernyataan itu muncul dalam acara yang turut menghadirkan sejumlah tokoh diantaranya mantan Menko Polhukam Mahfud MD, pengamat politik Rocky Gerung, hingga sastrawan sekaligus sosiolog Okky Madasari.
Dalam forum tersebut, Tiyo mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap arah demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia saat ini. Ia menilai publik semakin kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah karena berbagai kebijakan yang dianggap bermasalah sejak proses Pilpres 2024. “Ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah itu tidak hanya dibuat tetapi terus-menerus dipertahankan dan diperbesar,” kata Tiyo.
Ia menyinggung Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90 Tahun 2023 yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden. Menurutnya, putusan itu meninggalkan persoalan etik dan hukum yang masih membekas di benak publik. “Kita punya memori yang begitu luar biasa misalnya ya tentang putusan MK nomor 90 tahun 2023 yang membuat Gibran bisa jadi wapres hari ini. Mana mungkin kita percaya bahwa orang yang namanya Prabowo Subianto akan menegakkan hukum sementara wakil presidennya saja itu cacat hukum,” ujar Tiyo yang juga diunggah wartakota.tribunnews.com.
.Tiyo juga menyoroti pengangkatan Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab), yang menurutnya menimbulkan polemik terkait status militer aktif. “Tapi apa yang dilakukan di hari pertama Prabowo Subianto berkuasa? Dia mengangkat Teddy sebagai seskab yang itu jelas-jelas melanggar Undang-Undang TNI,” katanya.
Sesudah tahu itu melanggar, katanya, bukan Teddy yang dicopot, tapi undang-undangnya yang diubah. Dalam pernyataannya, Tiyo menyebut hanya ada dua tipe orang yang masih berbaik sangka terhadap penguasa saat ini. “Satu, orang bodoh. Yang kedua, orang yang turut menikmati kekuasaan,” ucapnya.
Prof Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi mengaku bangga dengan Ketua BEM UGM Tiyo Adrianto, yang mengkritisi berbagai macam kebijakan pemerintah. “Saya terus terang, bangga,” kata Mahfud, dikutip Kompas.com dari kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (27/2/2026). Mahfud mengatakan, dia pernah bertemu dengan Tiyo saat Komisi Percepatan Reformasi Polri menggelar audiensi di UGM pada Desember 2025. Ia menilai, Tiyo berbicara dengan baik, rasional, menyampaikan data secara akurat, serta tetap bersikap sopan.
Menurut Mahfud, keberanian anak muda dalam menyampaikan data dan argumen harus dilindungi. “Ini ada anak muda berani begini harus dilindungi dong. Karena dulu, ini yang sekarang memimpin-memimpin negara ini pada umumnya adalah anak yang berani seperti ini. Sehingga bisa melakukan perubahan,” ujar dia.
“Nah, kalau anak-anak berani tidak dibina, lalu diteror, apalagi sampai ibunya dan sebagainya, itu kan negara ini enggak sehat,” ujar dia.
Mahfud menambahkan perubahan dalam kehidupan bernegara merupakan hal yang tidak terhindarkan. Ia menyatakan, sejarah menunjukkan perubahan akan selalu terjadi secara alamiah. Ia mengingatkan semua pihak agar bertindak bertanggung jawab dan tidak bersikap sewenang-wenang. (net)





































