Dr Romadlan (kiri) dan Gus Ali Azhar (FT/IST)

SURABAYA | duta.co — Gus Ali Azhar, SE, dzurriyah (anak cucu) keluarga besar Ponpes Al-Hamdaniyah, Siwalanpanji, Sidoarjo mengaku heran dengan kalimat yang keluar dari seorang Khalilur R Abdullah Sahlawy yang menyebut ‘Gus Kikin tidak bisa ngaji’. “Di samping kalimatnya tidak beradab, adalah keliru besar menyebut Gus Kikin tidak bisa ngaji. Lalu, siapa Khalilur R Abdullah Sahlawy itu?,” tanya  balik Gus Ali kepada duta.co, Kamis (20/8/26).

Menurut Gus Ali, (bagi kita) warga NU sulit sekali meniru langkah Gus Kikin. “Beliau itu tidak mau menonjolkan keulamaannya. Maka, yang kita kenal beliau (hanya) sebagai pengusaha. Padahal kalau mau dapuk ulama, sangat mumpuni. Saya yakin beliau tersenyum mendengar omongan Lilur,” tambah Gus Ali.

Masih kata Gus Ali, Ra Lilur kurang bergaul. Atau dia sedang menjadi ‘mainan orang’ untuk berpolitik di NU. Apalagi ini menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas. “Kalau Lilur sedang menjadi ‘mainan orang’, ini sangat kita sayangkan. Janganlah sibuk men-downgrade orang lain, apalagi itu jauh dari kebenaran. Dari sisi fakta saja sudah salah,” tegasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, berbicara kompoisisi PBNU adalah Rais Aam dan Ketua Umum. Pembagiannya sangat jelas. Posisi Ketum PBNU bukan figur ulama kitab kuning, tapi lebih soal managerial jamiyyah. “Sejak era Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, Ketua Umum PBNU adalah domain managemen. Perlu orang kuat dari sisi ekonomi (selesai dengan dirinya sendiri), amanah, adil (terpercaya), dan paling penting tahu kebutuhan warga nahdliyin. Gus Kikin telah membuktikan semua itu saat menjadi Ketua PWNU Jatim,” urai lelaki yang dikenal sebagai pebisnis sektor properti ini.

Hal yang sama disampaikan DR ROMADLON SUKARDI, MM. Dalam catatan peradaban-nya, Dr KH Romadlon menilai lontaran yang merendahkan seorang calon atau pengasuh pesantren, itu sangat tidak beradab. Mengatakan seseorang “tidak bisa ngaji” atau “tidak bisa membaca kitab kuning” sebagai alasan untuk menggugurkan kelayakannya sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah adalah argumentasi yang sangat perlu dikaji kembali secara serius.

Ia setuju dengan Gus Ali, bahwa, Gus Kikin memang tidak pernah menonjolkan keulamaannya. Apalagi sudah ada tugas masing-masihng di PBNU. Misalnya, jajaran Tanfidziyah dan Syuriyah memang sama-sama penting, tetapi sejak awal NU mengenal pembagian fungsi yang berbeda: Syuriyah merupakan otoritas keulamaan, keagamaan dan penjaga marja’iyyah jam’iyah, sedangkan Tanfidziyah merupakan perangkat eksekutif yang menjalankan keputusan organisasi, mengelola administrasi, membangun jaringan, mengembangkan program, mengorganisasi sumber daya dan menerjemahkan keputusan ulama menjadi kerja nyata.

“Yang bicara itu dokumen Anggaran Dasar (AD) NU awal. Ini mengandung pesan sejarah yang sangat kuat. Dalam struktur Hoofdbestuur Nahdlatul Oelama disebutkan bahwa dari sembilan anggota terdapat sedikitnya empat “godsdienstleeraren” (guru agama/ulama) yang menduduki jabatan Rois, Wakiloerrois, Katib dan A’wan. Sementara lima posisi lainnya—President, Vice President, Kassier, Secretaris dan Commissaris—secara eksplisit diperuntukkan bagi anggota niet godsdienstleeraren”, yakni bukan guru agama,” tegasnya.

Dengan bahasa organisasi modern, jelasnya, desain tersebut memperlihatkan adanya division of leadership: otoritas keulamaan ditempatkan pada Syuriyah, sementara fungsi eksekutif dan manajerial dapat diisi oleh kader yang memiliki kompetensi organisasi, administrasi, jaringan, ekonomi, komunikasi dan kepemimpinan masyarakat. “Karena itu, kita tidak boleh mencampuradukkan standar Rais Aam Syuriyah dengan standar Ketua Umum Tanfidziyah,” tegasnya.

Bahkan, urainya, sejarah awal NU memberikan contoh yang sangat terang. Pada Muktamar NU pertama tahun 1926, H Hasan Gipo dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah atau Presiden Hoofdbestuur, sementara Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar. “Hasan Gipo sebagai saudagar sekaligus aktivis yang memiliki kecakapan teknis dalam administrasi organisasi dan penggalangan dana masyarakat; kemampuan itulah antara lain yang membuatnya dipercaya memimpin Tanfidziyah. Dan hadratussyekh menerima dengan senang hati,” tegasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry