Pengukuhan dan Pelantikan Ketua dan Pengurus DPD Pamori (Peguyupan Artis dan Musisi Keroncong Indonesi) Kota Surabaya , masa bhakti 2019-2024 digelar Gedung Nasional Indonesia , MInggu (25/10/2020). Duta.co/Tri Suryaningrum

SURABAYA  | duta.co – Pengukuhan dan Pelantikan Ketua dan Pengurus  DPD Pamori (Peguyupan Artis dan Musisi Keroncong Indonesi)  Kota Surabaya , masa bhakti 2019-2024 digelar  Gedung Nasional Indonesia , MInggu (25/10/2020). Suwito, sang ketuanya, langsung siap tancap gas melakukan regenerasi music keroncong di Surabaya,

“Kita berkeinginan untuk mengenalkan dan membangkitkan animo masyarakat khususnya generasi muda Surabaya untuk bisa menikmati musik,” katanya, saat ditemui di sela-sdela pelantikan.

Bahkan lanjut Suwito, dia tidak hanya menjadikan anak-anak  muda hanya menjadi penikmat saja, melainkan menjadi pemain sekaligus pelestari musik keroncong. “Impian kita agar musik keroncong kembali bangkit, bisa merajai pangsa pasar musik tanah air seperti era masa lampau,” ujarnya.

Untuk itu, tambah Nur Rahman, Sekretaris Pamori, ada upaya berkolaborasi dengan seniman music lainnya. Karena keroncong itu sebenarnya bisa menyatu dengan music-musik lainnya. “Mau dengan gamelan bisa, bahkan akhir-akhir ini ada yang berusaha memadukan music keroncong dengan jazz atau blues,” tambahanya.

Keduanya meyakini, musik keroncong akan lestari di tangan generasi muda, untuk itu ke depan salah satu program Pamori Surabaya, berusaha mengenalkan musik keroncong ke sekolah-sekolah SMP dan SMA di Surabaya.

“Kami yakin dengan program regenerasi musisi dan penyanyi keroncong, dan peningkatan kualitas keroncong menjadi seni yang inovatif dan memiliki nilai jual tanpa meninggalkan pakem, maka mush keroncong tidak akan punah,” yakin Nur Rahman yang diamini Suwito.

Apalagi, tegas Suwito, di Surabaya saja saat ini ada 40 anggota paguyupan. “Bayangkan kita memiliki 40 anggota paguyupan. Dan di setiap paguyupan itu ada 10 anggota, yakni 3 singer dan 7 musisi,” ujarnya.

Dengan kekuatan anggota yang diyakini akan terus bertambah, dan bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, musih kerontong akan tetap ada. “ Kita yakin akan bisa hidup dari musik keroncong. Apalagi perhatian Pemkot Surabaya begitu baiknya pada kita. Kita sangat difasilitasi baik tempat atau ketika akan bertanding mengikuti festival,” pamernya.

Khusu Surabaya, Suwito bisa berbaga karena beberapa kali merajai festival-festifal keroncong di Jawa Timur. “Kita pernah juara di Blitar, di Jember, bahkan Solo.  Dan itu makin memotivasi saya, juga pengurus lainnya  untuk terus melestarikanya, agar nantinya tidak akan tinggal nama,” tandasnya. rum

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry