SURABAYA | duta.co – Empat mahasiswi FAHUM (Fakultas Adab dan Humaniora) UIN (Universitas Islam Negeri) SA (Surabaya) – masing-masing Ulvi Ramadhaningsih, Wina Charisma CR, Rahayu Khuirotun Nisa dan Velia Rahmadhani, Senin (25/5/26) pamit kembali ke kampus usai menamatkan magang di Museum NU.

“Kami akan kembali ke Kampus. Terus terang, setelah berbulan-bulan magang di Museum NU, rasanya hati ini masih ingin terus tertambat, terikat atau berlabuh ke Museum NU. Kalau boleh, suatu saat datang kemari, syukur-syukur ikut mendampingi anak-anak dalam memperlajari NU,” demikian disampaikan Ulvi Ramadhaningsih salah satu dari mahasiswi magang saat pamitan kepada pembina Museum NU.

Mewakili seluruh staf, Mokhammad Kaiyis, Pembina Museum NU mengataka, bahwa, gedung ini terbuka 24 jam untuk anak-anak kita yang belajar tentang ke-NU-an. Apalagi mereka yang pernah bersusah payah ikut serta membesarkan Museum NU, seperti anak-anak yang ikhlas magang di gedung bundar ini. “Tidak ada kata ‘tidak’. Untuk teman-teman magang, silakan! Syukur mau masuk dalam jejaring grup magang Museum NU di Medsos,” tegas Kaiyis.

Menurut anggota Dewan Kehormatan PWI Jatim ini, tidak sedikit Kampus yang mengirimkan mahasiswanya untuk magang d Museum NU. “Selain UIN SA, ada mahasiswa Unair, UNESA, UK PETRA dan juga dari UIN KHAS, Jember. Mereka membuat jaringan tersendiri agar tetap sambung dengan pengurus Museum NU. Terima kasih atas atensinya, doanya semoga Museum NU semakin bermanfaat untuk umat,” tegas Kaiyis.

Guyonan Kaiyis, mahasiswa UIN harus menjadi ‘imam’ saat magang.  “Jangan mau kalah dengan mahasiswa UK PETRA, mereka dari kampus non-muslim tetapi sangat rajin mempelajari konten Museum NU. Di Museum bukan sekedar melihat tempat koleksi, tetapi juga penetrasi misi generasi berikutnya. Bagi mereka, NU adalah Ormas Islam terbesar yang mengusung toleransi dalam kebangsaan,” tegasnya.

Graha Museum Nahdlatul Ulama (NU) yang terletak di Kelurahan Menanggal, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya, memang, menjadi jujugan selain para santri, siswa dan mahasiswa perguruan tinggi, juga para pengamat.

“Kemarin kedatangan warga Maroko. Ia melihat benda-benda peninggalan kiai, selain tentu, ingin memperdalam pemikian NU tentang kebangsaan. Kebetulan jalannya satu arah dengan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya,” demikian dikisahkan Velia Rahmadhani, mahasiswi FAHUM UIN Sunan Ampel Surabaya.

Menurut Velia, warga Maroko yang bernama Said S, itu sedang solo traveling, dan suka berkunjung di negara-negara muslim, salah satunya Indonesia. “Dia (Said) mengaku sedikit tahu tentang NU. Pun berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Dia sangat tertarik dengan koleksi Alquran raksasa dan kitab-kitab klasik tulisan tangan Kiai NU,” tegasnya.

Di akhir kunjungan, dia mengungkapkan bahwa dia menulis sebuah buku tentang Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris dan juga mencari seseorang untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia agar bisa diedarkan di Indonesia. “Banyak sekali penulis-penulis Islam yang bisa diajak kerjasama, yang tertarik ada kontaknya,” jelas Velia.

Arus utama NU atau mainstream pemahaman keagamaan NU adalah mengedepankan toleransi, moderasi. Karena itu, teman-teman nonmuslim juga menganggap ini rumah sendiri. Sejarah perjuangan kiai-kiai NU tidak hanya terpatri kuat di buku ajar sekolah. Dengan begitu, generasi muda bangsa ini, bisa membaca dengan benar, tentang pentingnya membangun toleransi, keberagaman serta memperkuat persatusan dan kesatuan bangsa sebagaimana dicontohkan masyayikh NU.

Misalnya, kita tahu, bagaimana para kiai terlibat aktif dalam mempertahankan keberadaan makam Rasulullah SAW di Madinah yang hendak diberangus oleh paham Wahabi yang saat itu menjadi arus utama Kerajaan Arab Saudi. Mbah Hasyim (almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari red) muassis NU, mengirim utusan yang dipimpin Mbah Wahab (almaghfurlah Abdul Wahab Chasbullah) yang dikenal dengan sebutan Komite Hijaz. Anda bisa baca teks surat Raja Saud yang kemudian menerima aliran 4 mazhab untuk berhaji dan berumroh di haromain (Makkah-Madinah). Sekarang kebijakan itu dinikmati dunia Islam, bukan cuma Indonesia.

Dan, sejarah perjuangan kiai-kiai NU memang sempat terpinggirkan. Sekarang harus kita luruskan. Terlebih cita-cita kemerdeakaan RI, harus bisa dirasakan seluruh anak bangsa. Istilah PBNU, tidak cukup hanya gelar pahlawan, tetapi perlu mewujudkan cita-cita kemerdekaan, baik soal pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, sehingga wong cilik benar-benar terlindungi.

Para mahasiswa, menganggap keberadaan Museum NU ini sangat penting. “Museum itu kayak draft skripsi. Ia bisa jadi berdebu, membosankan, barang-barangnya kuno, tidak update. Tetapi kalau diteliti isinya penuh perjuangan yang berdarah-darah. Dan diam, mungkin saja kita tidak sanggup menjalankannya,” pungkas Velia Rahmadhani. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry