
SURABAYA | duta.co – Dua bulan berturut-turut, sebanyak 5 mahasiswa UNESA (Universitas Negeri Surabaya) magang di Museum NU. Mereka ikut melayani tamu-tamu Museum, dari anak-anak sampai dewasa.
“Gedung Bundar Museum NU di Jl Gayungsari Timur 35 Surabaya ini. telah menjadi jujugan anak-anak yang ingin mengenal lebih dekat sosok kiai pejuang Islam ahlussunnah waljamaah annahdliyah dan NKRI,” demikian disampaikan Moh Ramdhana Rafiarca Syahputra saat pamit, emngakhiri masa magang di Museum NU, Rabu (2/9/26).
Lima mahasiswa UNESA itu masing-masing Moh Ramdhana Rafiarca Syahputra (Ramdhana), Akbaruddin Syam Al Firdaus (Asyam), Kurniawan Royyanu Bachtiar (Kurniawan), Muhammad Zaenul Fikri Aufani (Zaenul) dan Moh. Khoirul Wafa (Wafa). Mereka dikoordinatori Ramdhana. “Kami mohon maaf atas segala khilaf ,” begitu komentar Moh Ramdhana Rafiarca Syahputra kepada Pembina Museum NU, Mokhammad Kaiyis.

Mokhammad Kaiyis, yang juga Pemred Duta Masyarakat itu bangga dengan semangat mahasiswa UNESA dalam memperlajari sejarah, termasuk bagaimana sejarah perjuangan NU. “Saat Muktamar ke-35 NU di Jombang, kami berencana mengajak mereka membuka stand muktamar. Tetapi karena adanya kendala teknis, sehingga cukup menyimak dari jauh. Dan alhamdulillah, perkenankan kepada seluruh mahasiswa yang pernah magang di Museum NU, izinkan kami sewaktu-waktu mengundang Anda dalam acara Museum NU,” tegas Kaiyis yang diamini mereka.
Jika tidak ada aral melintang, tegas Anggota Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jatim ini, mengambil momen HSN (Hari Santri Nasional) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, maka, Museum NU bermaksud menggelar diskusi Tantangan NU ke Depan, khususnya dalam menghadapi digitalisasi. Hari ini, saat muktamar berlangsung, betapa media sosial begitu menyerang NU. “Kebetulan selesai Mukmatar ke-35, NU tengah menyiapkan program yang lebih mengena warga nahdliyin,” tegasnya.
Menurut Kaiyis, banyak kampus yang mengirim mahasiswa untuk magang di Museum NU. Bulan kemarin, baru saja selesai (4 bulan) mahasiswa dari FAHUM UINSA, Surabaya. Di sini, katanya, mahasiswa bisa melakukan improvisasi termasuk mengikuti acara-acara penting Museum NU
“Apalagi menurut sejarahnya, bangunan Museum NU ini adalah ide Gus Dur (almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid) yang diwujudkan oleh Cak Anam (almaghfurlah Drs KH Choirul Anam), diresmikan oleh KH Sahal Mahfudz selaku Rais Aam PBNU,” tegasnya.
Kepada lima mahasiswa UNESA, Kaiyis menjelaskan, bahwa, Museum NU mestinya menjadi konsentrasi pemerintah. Ini lantaran isi Museum NU lebih banyak tentang bagaimana warga nahdliyin menjadi pelopor dalam hal kebangsaan, toleransi beragama, juga masalah-masalah kemandirian dalam sektor ekonomi. Kaiyis juga berterima kasih atas karya-karya mahasiswa UNESA terkait Museum NU. “Juga terima kasih atas pembuatan website, semoga bisa dikelola dengan baik,” tegasnya. (mky)





































